
❤️ Happy Reading ❤️
''Kenapa kamu masih di situ? ayo kesini...memangnya kamu gak ngantuk apa?'' tanya Gavi yang melihat Aurel hanya diam mematung di depan pintu kamar mandi sedangkan dirinya sendiri saat ini sudah duduk di ranjang.
''Apa kita akan tidur satu ranjang?'' tanya Aurel dengan hati-hati.
Jujur saja saat ini pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
''Apa maksud kamu? dan kenapa tanya seperti itu?'' tanya Gavi dengan dahi yang mengernyit heran dengan apa yang di tanyakan oleh istrinya itu.
Bukankah sudah sewajarnya dan juga seharusnya jika pasangan suami istri itu tidur satu kamar serta satu ranjang pula.
''Em itu...itu...em...kalau di novel-novel yang pernah aku baca jika pernikahan terpaksa seperti kita itu em biasanya suaminya gak mau tidur sama istrinya dan memilih pisah kamar atau istrinya di suruh tidur di sofa atau bahkan di lantai.'' jawab Aurel mengatakan tentang semua yang ada di dalam pikirannya saat ini meskipun dengan perasan sedikit takut juga ragu-ragu.
''Huft...sini.'' panggil Gavi setelah menghela nafasnya, entah apa yang di pikirkan istrinya itu hingga bicara seperti itu...bukannya ini kehidupan nyata bukan kisah sepeti di novel-novel yang dia baca.
Pletak
''Aw...ish.'' Aurel mengeluh juga sambil memegang dahinya yang sedikit panas akibat baru saja di sentil oleh suami.
''Sakit?'' tanya Gavi yang di angguki oleh Aurel. ''Padahal cuma pelan deh aku nyentilnya.'' katanya lagi. ''Coba lihat.'' pintanya.
Perlahan Aurel pun menyingkirkan tangannya dan terlihatlah dahi Aurel yang sedikit memerah akibat ulah Gavi.
''Eh merah.'' kagetnya dengan sedikit panik. ''Sini.'' pintanya namun sangat jelas terlihat di sana kalau Aurel seperti enggan untuk mendekat. ''Sini aku bilang.'' kata Gavi lagi yang langsung menarik tangan Aurel sehingga gadis itu terhuyung ke arahnya.
__ADS_1
Cup
''Maaf ya...soalnya aku gemes banget sama pemikiran kamu itu.'' ucap Gavi setelah mengecup sekilas kening Aurel yang memerah. ''Sudah cepet naik dan tidur...atau...'' kata Gavi yang sengaja menjeda kata-katanya.
''A...atau apa?'' tanya Aurel yang masih gugup atas perlakuan Gavi yang tiba-tiba menarik dan langsung mencium keningnya dengan seenaknya.
''Atau...kamu mau aku tiduri.''' katanya dengan enteng, dan oh jangan lupakan dengan senyumnya yang membuat Aurel bergidik ngeri.
Tanpa menjawab...Aurel langsung saja naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana, tak lupa di tariknya selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.
''Good, istri pintar.'' puji Gavi dengan tangan yang sudah mengacak-acak puncak kepala Aurel batin depan.
Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, baik Aurel ataupun Gavi...keduanya masih sama-sama terjaga dengan posisi yang sama...berbaring dengan arah pandang ke atas langit-langit kamar.
''Hem.'' sahut Aurel tanpa merubah arah pandangnya.
''Aku tau pernikahan kita berdua itu karena terpaksa oleh keadaan, tapi apakah bisa kita berdua sama-sama belajar untuk memulai semuanya dari awal?'' tanyanya.
''Maksudnya gimana?'' tanya Aurel yang menolehkan kepalanya ke arah Gavi.
''Aku akan berusaha membuka hati aku untuk menerima kamu dan pernikahan kita, aku harap kamu pin juga bisa begitu.'' jawab Gavi. ''Aku juga akan berusaha menjalankan semua kewajibanku sebagai seorang suami.'' sambungannya lagi.
''Hem, baiklah aku juga akan melakukan hal yang sama, aku juga ingin menikah hanya sekali dalam seumur hidup.'' sahut Aurel.
''Terimakasih.'' ucap Gavi.
__ADS_1
''Sama-sama.'' sahut Aurel dengan senyum lembut nan tulus di bibir manisnya.
''Em...Rel.'' panggil Gavi lagi.
''Iya.'' sahut Aurel yang langsung merespon.
''Boleh gak kalau aku peluk kamu?'' tanya Gavi. ''Tapi kalau gak boleh juga gak apa-apa kok...aku juga gak maksa.'' kata Gavi lagi dengan cepat karena takut Aurel marah atau pun salah paham padanya.
Sebelum menjawab pertanyaan Gavi, Aurel lebih memilih untuk mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap suaminya itu.
''Katanya mau peluk...'' kata Aurel kerena Gavi masih dalam posisi yang sama.
''Bener?'' tanya dengan memiringkan tubuhnya menghadap Aurel, pertanyaan itu langsung di di angguki oleh Aurel.
Senyum di bibir Gavi langsung terbit begitu saja.
''Sini.'' Gavi meminta Aurel agar meletakkan kepalanya di atas salah satu lengan berotot miliknya.
''Apa gak apa-apa?'' tanya Aurel yang takut hal itu akan membuat Gavi tak nyaman nantinya, apalagi dia takut kalau tangan suaminya itu akan keram jika terlalu lama di tindih oleh kepalanya.
''He'em.'' sahut Gavi.
Dengan ragu-ragu Aurel tidur berbantalkan lengan Gavi dan tangan Gavi yang satunya sudah melingkar sempurna di badan Aurel.
Malam ini mereka tidur dengan saling berpelukan dan hal ini adalah merupakan awal yang cukup baik untuk perjalanan rumah tangga mereka, sebuah babak baru yang benar-benar saja baru mereka tapaki.
__ADS_1