Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 27


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Gavi berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang tindakan, dirinya begitu sangat mencemaskan kondisi Aurel saat ini.


"Kenapa lama sekali." gimana Gavi.


"Gavi!'' teriak mommy Ivi sambil berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang putra.


"Mom, dad." sapa Gavi.


"Gimana keadaan Aurel?" tanya mommy Ivi. "Mommy sangat khawatir." imbuhnya lagi.


Memang benar kalau mommy ibu begitu khawatir, setalah mendapat kabar dari asisten Gavi jika menantunya terkena tembak, mommy Ivi langsung mengajak daddy Geva untuk segara ke rumah sakit...mommy Ivi juga tak henti-hentinya menangis selama di perjalanan...alhasil suaranya sampai saat ini masih begitu terdengar sengau.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Gav?" tanya daddy Geva.


"Gavi lalai dad, Gavi begitu tak menyangka jika adik tirinya Aurel bisa melakukan hal ini...Gavi hanya begitu waspada pada papanya Aurel saja." kata Gavi dengan penuh rasa sesal di hatinya.


Dia begitu menyesal serta kecewa pada dirinya sendiri karena tak sanggup melindungi sang istri hingga kecolongan seperti ini.


"Aurel, gimana keadaan Aurel? Kamu belum jawab pertanyaan mommy tadi Gav?'' tanya mommy Ivi lagi.


"Belum tau mom, Aurel masih di tangani di dalam." jawab Gavi.


Cklek


Mendengar suara pintu di buka, Gavi pun segera berlari meninggalkan kedua orangtuanya untuk menghampiri sang dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Gavi.


"Untungnya peluru itu hanya meleset sehingga lukanya juga tak terlalu dalam tuan." jawab sang dokter. "Kami sudah memberikan tindakan dan istri anda bisa langsung di bawa pulang setelah menghabiskan satu botol cairan infus." katanya lagi. "Tapi tolong lukanya jangan terkena air terlebih dahulu serta perbannya harus di ganti, setelah dia hari tuan bisa membawa nyonya ke sini untuk mengontrolkan lukanya." imbuhnya lagi.


"Terimakasih dok, apa saya bisa menemui istri saya?" tanya Gavi yang rasanya sudah tak sabar Inging menemui Aurel.


Dia ingin memastikan dengan melihat sendiri bagaimana kondisi istrinya itu, rasanya tak puas jika hanya mendengar penjelasan dari dokter saja.


"Silahkan tuan muda." kata sang dokter.


"Terimakasih dok." ucap mommy Ivi pada dokter sebelum menyusul sang putra masuk.


"Sama-sama nyonya, sudah kewajiban saya." sahutnya yang langsung pergi dari sana.


❤️


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Gavi menghampiri sang istri yang saat ini sedang terbaring lemah di atas berakar dengan selang infus yang menancap di tangannya.


Lengan dresnya pun di robek sebelah untuk memudahkan dokter memberikan tindakan di luka yang dia dapat.

__ADS_1


Aurel bingung mau bagaimana menjawab pertanyaan dari Gavi, mau di bilang baik-baik saja...nyatanya dirinya saat ini terbaring di sana,au bilang sebaliknya tapi baginya keadaannya tak begitu parah.


"Sayang." sapa mommy Ivi yang berada di belakang Gavi.


Melihat mommy Ivi membuat mata Ivi langsung berkaca-kaca.


"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya mommy Ivi yang langsung panik.


"Biar aku panggilkan dokter." kata Gavi yang juga tak kalah panik.


"Gak usah, aku gak apa-apa." cegah Aurel.


"Apanya yang enggak apa-apa, kalau kamu gak kenapa-kenapa terus kenapa mata kamu sudah berkaca-kaca seperti itu." kata Gavi.


"A...aku hanya teringat sama mama." lirih Aurel. "Mom, bolehkah Aurel minta peluk...sebentar saja." pinta Aurel dengan tetapan sendu serta penuh dengan permohonan.


"Tentu saja sayang...mommy akan memeluk kamu." kata mommy Ivi yang langsung lebih mendekat dan memeluk Aurel yang berbaring.


"Terimakasih mom." ucap Aurel dengan air mata yang kali ini bahkan sudah menetes.


"Eum, kamu bisa peluk mommy kapan pun kamu mau sayang." kata mommy Ivi yang masih memeluk Aurel. "Anggap saja mommy sama daddy adakah orangtuamu sendiri bukan sebagai mertua, karena kami juga sudah menganggapmu sebagai putriku bukan sebagai seorang menantu.'' paparnya.


Dengan hadirnya Aurel di tengah-tengah keluarga mereka, sudah mampu membuat mommy Ivi serta daddy Geva merasakan mempunyai seorang putri, dengan adanya Aurel paling tidak sedikit bisa mengobati rasa rindu mereka pada Gelya...putri kecil Gevariel Marcio yang telah tiada.


Daddy Geva, mommy Ivi juga Gavi duduk di kursi menunggu hingga cairan infus Aurel habis.


❤️


Tepat jam tiga daddy Geva beserta istri dan anak mantunya telah tiba di kediaman Marcio.


"Hati-hati sayang." kata mommy Ivi saat Aurel hendak jatuh.


Untung saja Aurel saat terhuyung tepat ke arah mommy Ivi, jadi ibu mertuanya itu langsung memegang tubuhnya.


"Gav, aku bisa jalan sendiri." kata Aurel saat tiba-tiba merasa dirinya melayang di udara karena telah di gendong olah Gavi ala bridal style.


"Bisa apanya?" tanya Gavi. "Orang sampai mau jatuh gitu." imbuhnya lagi.


"Aku hanya sedikit pusing." sahut Aurel. "Tapi aku masih bisa..."


"Sudah diam." piring Gavi dengan galaknya seolah perkataanya tak boleh terbantahkan oleh siapa pun.


Mereka berempat pun memasuki rumah bersama.


"Mama sama papa dimana bik?" tanya mommy pada salah satu art yang ada di sekitar mereka.


"Nyonya dan tuan ada di teras belakang nyonya." jawabnya.

__ADS_1


Mommy Ivi sedikit lega karena mengetahui kedua mertuanya ada di teras belakang.


"Gav, langsung bawa Aurel ke kamar kamu ya." kata mommy Ivi.


"Iya mom." jawab Gavi.


Tapi siapa sangka yang di khawatirkan oleh mommy Ivi menjadi kenyataan.


Saat Gavi handak menaiki tangga, Oma Cecil dan opa Geri masuk ke dalam rumah.


"Eh Gavi, Aurel kenapa?" tanya oma Cecil saat melihat Gavi menggendong Aurel.


"Itu Oma..." kata Gavi.


"Itu apa?" tanya oma Cecil dengan posisi dirinya yang lebih ke arah Gavi. "Coba hadap sini...Oma mau lihat cucu mantu Oma." perintahnya tang seolah menyimpan sebuah kecurigaan.


Sedangkan mommy Ivi dan daddy Geva hanya bisa diam saja, mau bohong pun sepertinya tak mungkin untuk saat ini.


"Astaga Gavi...istri kamu kenapa?" tanya oma Cecil yang begitu kaget melihat lengan Aurel di balut perban.


"Nanti Gavi jelasin Oma, sekarang Gavi mau bawa Aurel ke atas dulu untuk istirahat." kata Gavi.


"Ya udah sana cepat kamu bawa istrimu." kata Oma Cecil. "Selamat istirahat ya sayang..." ucapnya pada Aurel.


"Terimakasih Oma." ucap Aurel.


❤️


"Jelaskan." perintah Oma Cecil sambil menatap ketiga orang yang saat ini sedang duduk dengan kepala menunduk di hadapannya.


"Aurel terkena tembak Oma dan ini kami baru pulang dari rumah sakit." jawab Gavi.


"Oh astaga...terus kenapa kalian tak memberi tahu kami hah?" tanya oma Cecil dengan sedikit memberikan bentakan. "Apa kalian sudah tidak menganggap wanita serta pria tua ini?" tanyanya lagi dengan begitu kesal.


"Bu...bukan begitu ma." kata mommy Ivi.


"Terus kenapa? Apa alasan kalian?" tanyanya lagi.


"Kami cuma tak ingin membuat mama serta pap panik, kami juga tak ingin kalau sampai tekanan darah mama naik begitu mendengar kabar ini tadi." jawab mommy Ivi. "Kami berdua ingin memastikan dahulu bagaimana keadaan Aurel ma." imbuhnya.


"Apa pelakunya sudah tertangkap? dan bagaimana bisa semua ini sampai terjadi?" tanya pap Geri dengan pertanyaan beruntun.


"Pelakunya sudah tertangkap opa." jawab Gavi yang kemudian menceritakan rentetan peristiwa sehingga terjadi seperti ini.


"Benar-benar keluarga yang sungguh tak beradab." kata opa Geri dengan sangat geram.


"Kamu ke atas sana, jaga istrimu baik-baik." kata Oma Cecil.

__ADS_1


"Iya Oma." sahut Gavi.


__ADS_2