
❤️ Happy Reading ❤️
Beberapa hari telah berlalu, kini luka di lengan Aurel juga sudah mengeringkan bahkan dirinya pun sudah tak lagi kontrol kerumah sakit juga obatnya pun sudah habis dan tak perlu lagi untuk mengkonsumsinya.
Perusahaan milik keluarga Aurel pun hari Sabtu kemarin sudah serah terima jabatan.
Perusahaan akan di pimpin oleh Dimas, salah satu orang kepercayaan Gavi...semua yang terjadi di perusahaan apapun itu bahkan hal sekecil pun akan langsung di laporkan pada Gavi karena bagaimanpun perusahan WB grup kini di bawah naungan seorang Gavindra Marcio.
Hampir seluruh tatanan struktur perusahan di rombak dan di tempatkan para anak buah Gavi di posisi semua kepala bagian.
Gavi tak ingin kecolongan dan mengakibatkan kerugian atau apapun itu yang di sebabkan dengan adanya antek-antek pak Rey di sana.
Sedangkan rumah yang penuh kenangan indah juga penuh kesedihan untuk Aurel saat ini telah di jual oleh Aurel dan sebagian uangnya untuk memberikan pesangon yang pantas bagi para art juga penjaga keamanan.
Lagian mau buat apa, toh Aurel juga tak tinggal di rumah itu. Dari pada biaya membengkak karena harus bayar berbagai tagihan, seperti listrik, air, keamanan, kebersihan juga gajih para pekerja yang tak sedikit, jadi mending di jual.
"Kamu beneran berangkat ke kerja hari ini?" tanya Gavi saat mereka berdua tengah duduk di ruang makan untuk sarapan bersama, ritual wajib yang tak boleh terlewatkan sama seperti di kediaman utama.
"Tentu aja Gav, ini aku sudah siap loh...sudah pakai pakaian kerja, tinggal berangkat saja." jawab Aurel.
"Gak mau resign aja? Gak perlu di rumah...kamu bisa urus perusahan kamu." kata Gavi lagi.
"Itu lagi...apa gak ada hal lain yang bisa di bahas." sahut Aurel...entah sudah berapa kali sang suami selalu membahas hal yang sama seperti ini.
"Ya barangkali kamu berubah pikiran." kata Gavi.
"Jawaban aku masih sama dan aku belum berubah pikiran." jawab Aurel dengan tegas. "Sudah sekarang lebih baik kita sarapan dan terus berangkat biar gak telat masuk kerjanya." kata Aurel dengan tangan yang mulai mengambilkan makanan untuk Gavi.
Pagi ini Aurel hanya membuat sarapan yang simpel, dia hanya membuat sandwich untuk mereka berdua makan.
Pasca Aurel terkena tembak, ini adalah kali pertama dirinya kembali memasak dan sekarang di apartemen juga sudah ada art walaupun hanya satu yang tugasnya untuk bersih-bersih juga yang lainnya, kecuali memasak...karena memasak tetap akan di pegang kendali oleh Aurel.
Sebenarnya Aurel tak ada niatan untuk memakai art karena dirinya pun masih sanggup untuk mengurus apartemen sendiri, namun karena ini art yang sang mertua kirim langsung dari mention utama jadi Mai yak mau Aurel pun menerimanya.
❤️
__ADS_1
Cup
"Nanti aku jemput." kata Gavi saat menurunkan Aurel di dekat lobi bank tempatnya bekerja.
Kali ini Gavi tak lagi mengecup kening Aurel melainkan bibir Aurel'lah yang menjadi sasarannya.
Rupanya cara meminumkan obat pada Aurel malah membuat ketagihan alias candu bagi Gavi.
Aurel sampai sedikit terbengong di buatnya, memang ini bukan kali pertama tadi rasanya berbeda...jika biasanya meminumkan obat, tapi kalau inikan tidak.
"Rel." panggil Gavi yang melihat sang istri terdiam.
"Eh iya." sahut Aurel. "Aku keluar dulu...hati-hati, jangan ngebut." peringat Aurel.
"Baik istriku." sahut Gavi yang membuat wajah Aurel sudah memerah semerah tomat.
Begitu sang istri keluar...Gavi langsung melakukannya, karena dirinya ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya pagi ini.
Dor
"Habisnya kamu, lagi ngelihatin apa sih sampai segitunya." kata Imelda.
"Eh gak ada kok, ayo masuk." kata Aurel yang terlihat seperti gugup.
"Rel, kita itu tak berteman cuma satu dua hari loh, jadi aku tau kamu kamu lagi nyembunyiin sesuatu." kata Imelda yang berjalan mensejajari langkah Aurel. "Aku juga tau apa yang kamu perhatiin tadi, karena aku lihat kamu keluar dari mobil mewah tadi." sambungnya yang membuat langkah Aurel seketika berhenti. "It's oke, gak mau cerita juga gak apa-apa...aku tunggu sampai kamu siap." kata Imelda lagi sambil menepuk pelan sebelah pundak Aurel dan kemudian melanjutkan langkahnya.
"Imel...Mel." panggil Aurel mengejar jalannya Imelda. "Mel aku bisa jelasin, lagian semua ini juga ada alasannya...nanti aku cerita sama kamu saat makan siang...aku janji." kata Aurel yang begitu merasa sangat bersalah pada sahabatnya, padahal selama ini Imelda selalu ada untuknya, Imelda pula yang menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah.
"Baik, aku tunggu cerita kamu." kata Imelda. "Yuk...sebentar lagi jam operasional akan dimulai." kata Imelda lagi menarik sang sahabat menuju ke meja mereka berada.
❤️
"Mel, kita makan siang di sini gak apa-apakan? soalnya sudah ada makanan datang." kata Aurel.
"Aku perhatiin kamu sekarang sering pesan makanan Rel, mana enak-enak lagi." kata Imelda yang menggeser kursinya lebih dekat ke arah Aurel.
__ADS_1
"Aku gak pesan Mel tapi aku di kirimin." sahut Aurel. "Sama suami aku." lanjut Aurel dengan suara sedikit lirih.
"Apa? Tunggu-tunggu...mungkin aku salah denger...coba ulangi lagi siapa yang ngirimi kamu makanan." pinta Imelda untuk memastikan apa yang dia dengar sebelumnya.
"Suami aku." jawab Aurel.
"Suami? Rel aku lagi gak ngimpi atau ngehalukan?" tanya Imelda yang seakan masih tak percaya.
Aurel mengangkat tangannya yang sebelah kanan kemudian memutar cincin yang dia kenakan di jari manisnya.
"Ini adalah cincin nikah aku." kata Aurel begitu cincin tersebut sudah di pakai sebagai mana mestinya, karena biasanya bagian cincin yang ada permatanya akan di putar di bagian dalam tangan jika bekerja.
"Wow...ini berlian asli Rel?" tanya Imelda yang langsung meraih tangan Aurel.
"Menurut kamu?" tanya balik Aurel.
"Ini asli karena sinarnya beda banget." jawab Imelda. "Terus kamu nikah sama siapa? Kapan?" tanya Imelda lagi.
"Yang aku ambil cuti sebelum cuti aku yang satu minggu kemarin." jawab Aurel. "Dan aku nikah sama...tapi janji jangan ember ke karyawan yang lain." pinta Aurel.
"Iya bawel...sama siapa, cepetan bilang...aku sudah penasaran banget nih." desak imelda.
"Gavindra Marcio." jawab Aurel.
"What! Demi apa." seru Imelda yang sontak saja Aurel refleks menutup kedua telinganya menggunakan tangan.
"Bisa gak gak usah teriak-teriak." kata Aurel dengan kesal.
"Sorry...sorry...refleks, sumpah aku kaget banget." kata Imelda. "Gak nyangka aku ternyata teman baikku ini istri dari putra keluarga konglomerat." ujarnya. "Kok kamu bisa menikah sama tuh tuan muda yang terkenal dingin plus datar itu?" tanya Imelda yang tambah penasaran.
"Sudah jodohnya." kata Aurel yang tak mau membuka aib suami serta dirinya sendiri.
"Terus kemana kemarin seminggu gak berangkat?" tanya Imelda. "Honeymoon ya..." tebaknya.
"Huh boro-boro, yang ada aku ikut ngantor dia tiap hari gara-gara aku sakit." jawab Aurel yang kemudian menceritakan tentang dirinya yang terkena tembakan dari Arni.
__ADS_1
"Wah bener-bener tuh nenek lampir dua...sama ayah kamu juga, pada gak punya hati." cibir Imelda.