Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 35


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Maaf tuan, nyonya di depan ada tamu yang nyari tuan muda juga nyonya muda." kata sang art yang tadi membukakan pintu.


"Kamu ada janji sama orang Gav, Rel?" tanya mommy Ivi pada anak dan menantu kesayangannya.


"Gak ada mom." jawab Gavi, begitu pula Aurel yang menggelengkan kepalanya. "Siapa bik?" tanya Gavi kemudian pada sang art.


"Saya juga kurang tau tuan muda, beliau hanya mengatakan jika ada perlu dengan tuan dan nyonya muda." jawab sang art lagi.


"Tolong buatkan minum bik dan bilang kalau tuan dan nyonya muda sedang makan, jadi diminta untuk menunggu sebentar." kata mommy Ivi.


"Baik nyonya besar." sahut sang art.


"Pelan-pelan aja makannya, kalau dia memang ada perlu sama kalian pasti akan nunggu kok." kata Oma Cecil yang melihat Gavi dan Aurel langsung seperti terburu-buru makannya.


"Gak enak Oma, kalau dia harus nunggu lama...siapa tau ada yang penting sampai malam-malam datang ke sini." sahut Gavi.


"Oma cuma khawatir kalau kalian tersedak makanan nantinya." kata Oma Cecil lagi.


Benar apa yang di katakan oleh Oma Cecil, jangan makan secara terburu-buru karena takutnya tersedak juga bisa berefek naiknya asam lambung, sebab makan terburu-buru akan menyebabkan terjadinya aliran balik dari asam lambung ke kerongkongan dan bisa menyebabkan gejala seperti dada terasa panas, mual dan mulut terasa pahit.


Tapi apa yang di katakan Gavi juga tak salah, tak enak atau serasa tak sopan jika kita membiarkan tamu menunggu terlalu lama, seperti terkesan tak menghargai atau menghormati.


"Kami berdua keluar dulu ya mom, dad, Oma, opa." kata Gavi setelah makanan yang ada di piringnya dan Aurel habis.


❤️


"Oh anda rupanya." kata Gavi saat tau siapa tamu yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


"Se...lamat malam tuan...nyonya." sapa Heru dengan gugup.


"Selamat malam." sahut Aurel sedangkan Gavi jangan di tanya, tuan muda Marcio itu hanya menampilkan wajah datarnya. "Silahkan duduk." kata Aurel lagi.


"Te...terimakasih." sahut Heru dan kemudian duduk perlahan seolah sedang melakukan gerakan slow motion.


"Langsung saja, ada keperluan apa anda sampai harus repot-repot datang ke sini." kata Gavi dengan duduk menyilangkan kakinya, sehingga terkesan begitu berwibawa.


"Sa...saya ingin minta maaf atas ke...kejadian tadi siang tuan muda." jawab Heru tentang apa tujuannya datang ke sana. "Jadi saya ke sini ingin...ingin meminta kemurahan hati tuan muda agar tak membatalkan kerja sama perusahan WB grup milik nyonya muda dengan perusahan keluarga saya, serta saya mohon agar tuan muda tidak memblacklist perusahan orangtua saya." pinta Heru. "Saya mohon tuan muda...karena perusahan itu sudah di bangun dengan susah payah oleh orangtua saya, bila perlu saya akan berlutut di hadapan tuan dan nyonya muda saat ini juga." mohonnya dengan sungguh-sungguh.


Gavi hanya duduk diam dan memerhatikan Heru, sedangkan Aurel menatap ke arah sang suami untuk melihat reaksi suaminya itu.


"Mas." lirih Aurel saat melihat Gavi sama sekali tak bergeming.


''Baiklah aku berikan satu kesempatan karena mengingat orangtua kamu adalah pengusaha yang cukup lumayan baik." kata Gavi. "Perusahaan keluargamu tak kan terblacklist, namun untuk kerjasama dengan WB grup tetap tak bisa di lanjutkan." sambung Gavi.


"Terimakasih tuan muda...nyonya muda." ucap Heru.


"O iya satu lagi, kamu juga harus minta maaf dengan Imel." kata Gavi.


"Baik tuan muda, kalau begitu saya mohon undur diri." kata Heru dengan wajah yang lebih ceria.


❤️


''Mom, dad, Gavi sama Aurel pamit pulang ya." kata Gavi yang menghampiri kedua orangtuanya yang sedang nonton televisi bersama Oma dan opanya.


"Loh, kalian gak nginep aja." sahut mommy Ivi.


"Tamunya sudah pulang Gav?" tanya daddy Geva.

__ADS_1


"Tamunya sudah pulang dad dan maaf mom, kami berdua gak bisa menginap." kata Gavi.


"Ya sudah gak apa-apa yang penting akhir pekan kalian menginap di sini." sahut mommy Ivi.


"Kalau begitu kami berdua pamit, biar gak kemaleman di jalan." kata Gavi.


Akhirnya pasangan muda itu pun kembali ke apartemen, tempat di mana mereka hanya tinggal berdua.


"Kenapa kamu maafin Heru begitu saja?" tanya Aurel saat mereka ada di perjalanan.


"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua." jawab Gavi dengan simpel. "Lagian aku juga lakuin itu bukan buat Heru, melainkan untuk keluarganya, aku kasihan dengan orangtuanya." sambungan Gavi. "Coba kamu bayangin usaha yang mereka rintis dengan susah payah, dari nol harus hancur begitu saja kerena kesombongan putranya." imbuhnya lagi.


"Hem, masuk akal sih." respon Aurel.


"Kok terkesannya aku kayak orang yang kejam banget ya di mata kamu..." kata Gavi.


"Eh gak gitu kok, aku cuma heran aja kamu maafin dia, padahal aku tau sendiri bagaimana kamu saat di resto tadi siang." kata Aurel yang tak ingin Gavi salah paham.


"Hem, mau mampir beli sesuatu gak?" tawar Gavi.


"Pengen beli martabak boleh?" tanya Aurel.


"Tentu saja." sahut Gavi sambil mengacak-acak rambut Aurel.


"Ah Gavi...berantakan nih, kebiasaan deh." sungut Aurel sambil merapikan rambutnya yang sudah sedikit acak-acakan karena ulah Gavi.


"Habisnya aku gemas sama kamu, mau beli martabak aja pakek tanya boleh apa tidak...kayak mau beli apa aja." kata Gavi. "Mau beli di mana?" tanya Gavi.


"Itu yang ada di persimpangan jalan sebelum apartemen aja." jawab Aurel yang di angguki oleh Gavi.

__ADS_1


Memang Aurel ini adalah tipe orang pecinta yang mananya martabak, apalagi martabak Bangka yang manis dengan toping keju yang berjibun.


__ADS_2