Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
BB 36


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Tambah hari, tambah baik, tambah perhatian dan tentunya juga tambah sayang.


Grep


"Lagi masak apa?" tanya Gavi yang memeluk tubuh Aurel dari belakang saat wanita itu sedang asik memasak.


"Ya ampun Gav, kamu ini bikin aku kaget aja." kata Aurel. "Untung gak aku pukul pakek ini." kata Aurel akhir sambil mengangkat alat tumis yang ada di tangannya.


"Maaf." lirih Gavi yang kini malah meletakan dagunya di atas bahu Aurel.


"Gav, lepas dulu ih...ini aku masih memasak loh." kata Aurelia yang merasa meremang akibat lehernya terkena hembusan nafas dari Gavi.


"Ya udah masak aja, aku gak ganggu kok." jawab Gavi dengan entengnya.


Hah bapak satu ini gak tau saja kalau karena perbuatannya itu membuat si empunya menjadi gugup dan satu lagi jantungnya pun berdegup kencang seakan sedang berdisko ria di dalam sana.


Namun namanya juga Gavi, si keras kepala yang susah sekali terbantahkan, jadi Aurel hanya bisa pasrah dan berusaha sebiasa mungkin.


"Gav, tolong ambilin mangkuk dong." pinta Aurel begitu merasa masakannya telah matang.


Gavi yang di minta tolong pun dengan berat hati harus melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah dimana benda itu berada.


"Nih." kata Gavi.


"Terimakasih." ucap Aurel dengan senyum manisnya yang bisa melelehkan hati si tuan muda Marcio.


Selesai sudah semuanya, kini saatnya kedua sejoli itu menikmati makan malam mereka.


Menu sederhana, sayur sop ayam lengkap dengan sambal juga tempe dan tahu goreng buatan Aurelia.


"Rel aku mau ke ruang kerja sebentar, ada kerjaan yang harus aku selesaiin." kata Gavi begitu selesai makan.


"Mau aku bikinin teh atau kopi barang kali?" tawar Aurel.


"Teh aja." jawab Gavi yang langsung beranjak dari duduknya.


Aurel pun juga segera berdiri dan mulai membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan yang kotor.

__ADS_1


Baru setelah selesai Aurel membuatkan teh chamomile untuk Gavi.


Kenapa Aurel memilih teh tersebut, karena teh chamomile jika di konsumsi secara rutin mempunya banyak manfaat, seperti meningkatkan kualitas tidur, menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan pencernaan, mengurangi resiko alami kanker, membantu menurunkan berat badan, mengatasi inflamasi dalam tubuh, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi nyeri haid, mengurangi kecemasan, menyembuhkan sariawan, meredakan gejala flu, membuat kulit wajah menjadi lebih sehat, mencegah diabetes, memperkuat rambut.


Tapi teh jenis ini juga tak boleh di minum oleh wanita hamil, bayi dan anak-anak juga orang yang mempunyai alergi terhadap produk yang berasal dari chamomile serta tanaman dari keluarga asteraceae, seperti ragweed, aster, krisan juga marigold.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


Cklek


Aurel masuk ke ruang kerja Gavi dengan membawa satu gelas teh chamomile di tangannya dan juga satu toples camilan.


Tak


"Tehnya." kata Aurel sambil meletakan secangkir teh dan toples di atas meja.


Gavi langsung memegang tangan Aurel dan menarikannya sehingga tubuh wanita itu terduduk tepat di pangkuannya.


"Kenapa bawain aku camilan?" tanya Gavi dengan tangan yang sudah melingkar dengan sempurna di pinggang ramping Aurel.


"Untuk...untuk kamu makan, biar bisa nemenin kamu kerja." jawab Aurel dengan gugup, karena posisi mereka yang begitu sangat intim.


"Kalau kamu aja yang nemenin gimana? atau kamu aja yang aku makan?" kata Gavi sambil menyelip rambut Aurelia ke belakang telinga menggunakan sebelah tangannya, sedang atau tangannya yang lain masih setia bertengger di pinggang Aurel.


"A...aku em..it..." perkataan Aurel yang sedikit terbata harus terhenti begitu saja kala Gavi langsung menempelkan b***r mereka.


Melihat respon Aurel yang tak menolak perbuatannya, membuat Gavi lebih semangat lagi untuk memperdalam c***mannya...lembut namun juga betutu menuntut.


Bahkan saat ini tangan pria itu sudah menuntun tangan Aurel dan lingkarkan dilehernya.


Jujur satu rumah, satu tempat tidur...membuat Gavi tersiksa. Apalagi dirinya juga sudah pernah merasakannya meskipun dalam pengaruh obat dan juga dirinya pun pria normal yang memiliki hasrat jika di hadapan dengan makhluk ciptaan secantik Aurel. Terlebih hubungan mereka juga sah di mata hukum dan agama.


Satu tangan Gavi mulai berjalan menelusuri setiap lekukan yang ada di sana hingga sampailah di sepasang benda yang menjadi tempat favorit banyak pria, apalagi kalau bukan satu pasang sumber kehidupan.

__ADS_1


Di raba yang kemudian lama kelamaan berubah jadi memijat dengan sesekali meremas sehingga membuat yang punya pun akan mengeluarkan suara d***han merdunya.


Suara d***han yang membuat si pelaku semakin berh****t, semakin menginginkan gak yang lebih lagi.


"Apakah boleh?" tanya Gavi dengan suara serak serta tatapan sayunya.


Nafas Aurel yang memburu membuatnya tak bisa berkata-kata selain hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tanpa basa basi lagi, Gavi langsung mengangkat tubuh Aurel ala bridal style dan berjalan menuju ke arah dimana kamar mereka berada.


Walaupun ini bukan untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan, tapi Gavi ingin meneriakkan sesuatu yang sangat berkesan karena ini kali pertama mereka melakukan secara sadar dalam ikatan suci.


Gavi membuka pintu kamar dengan perlahan dan menutupnya dengan mengunakan kaki.


Di letakannya tubuh Aurel secara hati-hati di atas ranjang seolah Aurel adakah benda porselen yang mudah sekali pecah.


Gavi kembali memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan yang membuat Aurel lupa diri.


"Siap cinta?" tanya Gavi yang di angguki Aurel.


"Tapi aku takut." cicit Aurel yang mengingat bagaimana sakitnya saat pertama kali mereka melakukannya.


"Aku akan pelan dan selembut mungkin." rayu Gavi.


Gavi pun memberikan sentuhan lagi sebelum ke menu utama agar Aurel lebih rileks lagi, hingga.


"Akh..." pekik Aurel dengan tangan yang sudah mencengkram lengan Gavi saat penyatuan itu terjadi.


Mungkin kalau kuku tangan Aurel panjang, sudah menancap di lengan Gavi saat ini.


Kegiatan berbagai peluh yang penuh gairah ini berlangsung hingga dini hari dengan banyak ronde permainan, sehingga membuat Aurel lemas tak berdaya.


Cup


"Terimakasih cinta." ucap Gavi setelah mencium kening Aurel begitu pergulatan mereka berakhir.


Aurel yang sudah lemas hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum.


Gavi pun membawa tubuh istrinya kedalaman dekapan dan mereka pun akhirnya telelap begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2