Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 8


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Aurelia...Aurel...!'' seru seseorang memanggil nama Aurel.


Aurel yang merasa namanya di panggil pun dengan refleks langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


Aurel tersenyum begitu melihat siapa orang yang kini berlari ke arahnya.


''Hah...hah...hah...'' suara deru nafasnya yang ngos-ngosan. ''Kamu udah sembuh Rel?'' tanyanya begitu nafasnya sudah sedikit teratur.


''Sudah Imel...kalau belum kan gak mungkin juga aku di sini.'' jawab Aurel.


''Hah syukurlah, aku khawatir begitu dengar kalau kamu ijin gak masuk kerja apalagi dengan alasan sakit.'' katanya lagi.


''Maaf ya...'' ucap Aurel.


''Heh ponsel kamu mana? di hubungi dari kemarin kok gak bisa?'' tanya Imelda dengan kesal.


''Ponsel aku...ah maaf Mel, dari kemarin aku lupa deh buat cas ponsel...pasti baterainya habis.'' jawab Aurel.


Kejadian kemarin begitu sangat mengejutkan dirinya, sehingga untuk memegang ponselnya pun seakan dirinya tak ingat.


''Ya udah yuk kita masuk.'' ajaknya karena sebentar lagi bank akan buka.


❤️


"Aku tunggu di depan."


Waktu sudah menunjukkan sore hari, dimana waktunya untuk para karyawan keluar dari tempatnya bekerja.


Begitu melihat pesan yang dikirimkan oleh Gavi, Aurel hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan.


Entah apa yang di mau oleh pemuda itu sehingga datang menjemputnya.


Gavi tadi memang sempat menghubungi kediaman papinya untuk menanyakan keberadaan Aurel sehingga dirinya mendapatkan informasi jika wanita itu berangkat bekerja, dan untung saja yang mengangkat telponnya adalah art sang papi, kalau sampai maminya...ah entahlah dia pasti akan menjadi bulan-bulanan adik ipar daddynya itu.

__ADS_1


Gavi juga sidah menerima segala informasi mengenai Aurel...dari siapa...ya tentu saja dari Reno sang asisten andalannya.


"Eh Rel, balik bareng sama aku aja yuk, kan lumayan...hemat ongkos." kata Imelda.


Imelda adalah satu-satunya sahabat Aurel, dan biasanya dia memang selalu menumpang pada Imelda ketika pulang kerja dengan alasan hemat ongkos.


"Ah maaf ya Mel, aku kali ini gak bisa bareng sama kamu." kata Aurel dengan sangat menyesal.


"Kenapa?" tanya Imelda dengan mengernyitkan keningnya.


"Aku harus pergi ke suatu tempat." jawab Aurel.


"Ah gak apa-apa...biar aku antar." kekeh Imelda.


"Sekali lagi maaf Mel, aku gak bisa...aku bisa pergi sendiri." tolak Aurel. "Aku gak mau ngerepotin kamu dan kayaknya juga aku akan lama di sana." sambungnya lagi memberi alasan.


" Hem baiklah kalau begitu, aku tak akan memaksa lagi." sahut Imelda. "Hati-hati dan sampai ketemu besok Aurel sayang..." katanya.


Begitu memastikan kalau Imelda benar-benar sudah pergi, Aurel baru melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobil Gavi terparkir.


Brak


"Lama." kata Gavi dengan sarkas.


"Maaf." ucap Aurel.


Tanpa banyak kata lagi, Gavi langsung saja menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalanan ibu kota yang padat merayap.


"Kok..."


"Mommy sama oma minta kamu buat makan malam di rumah." potong Gavi. "Mommy juga sudah bilang sama mami Ica kalau kamu kesini dulu." sambungnya lagi dan langsung keluar dari mobil di ikuti oleh Aurel.


❤️


"Aurel sayang..." seru mommy Ivi begitu melihat kehadiran anak serta calon mantunya. "Maaf ya sayang kalau mommy minta Gavi buat jemput kamu kesini." ucap mommy Ivi sambil menggandeng tangan Aurel. "Mommy sama oma cuma ingin lebih dekat saja sama kamu, soalnya setelah menikah dengan Gavi...kamu juga akan tinggal di sini bersama kami." sambungnya lagi.

__ADS_1


"Khem...mommy lupa kalau ada anaknya di sini." kata Gavi yang mengatakan protesnya.


"Ah ya ampun anak ini...gitu aja pakek protes segala." kata mommy Ivi. "Kalian berdua lebih baik bersih-bersih dulu dan Aurel, kamu masih ingat kamar yang kemarinkan sayang?" kata mommy ivi lagi.


"Iya mom." jawab Aurel.


"Kamu bisa pakai kamar itu untuk bersih-bersih dan di sana juga sudah ada pakaian yang bisa kamu kenakan." kata mommy Ivi memberi tahu.


Setalah Aurel dan Gavi pergi,mommy Ivi kembali lagi ke ke kamarnya.


Cklek


"Anak-anak sudah datang mom?" tanya daddy Geva.


"Iya dad, baru saja." jawab mommy Ivi. "Huft...mommy harap pernikahan mereka nanti berjalan dengan baik dad...mereka bisa saling membuka hati dan menerima satu sama lain.'' harap mommy Ivi. "Pernikahan yang terjadi bila berlandaskan cinta...seperti kita." sambungnya lagi sambil mengenang masa lalu.


"Tapi semendadak-mendadaknya pernikahan mereka tak sebanding mendadak dengan pernikahan kita dulu." sahut daddy Geva. "Dan daddy yakin...rumah tangga mereka akan lebih baik dari apa yang kita bayangkan." sambungnya lagi.


"Ya semoga saja dad." sahut mommy Ivi. "Tapi di balik ini semua...mommy sangat bersyukur dad, karena apa? karena kalau tak ada kejadian seperti ini mana mungkin putramu itu akan menikah dalam waktu dekat." kata mommy Ivi. "Jangankan menikah, calon istri atau kekasih aja gak punya...sikap dinginnya itu terlalu." imbuhnya.


"Ini yang dinamakan ada hikmah di setiap musibah mom." kata daddy Geva dan mommy Ivi setuju akan hal itu.


Grep


"Terimakasih ya mom karena telah hadir di hidup daddy, terimakasih karena telah mau mengikuti ide konyol daddy waktu itu." ucap Geva sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"Dan karena ide konyol itu...kita bisa hidup bahagian seperti saat ini...memiliki putra yang sangat tampan dan juga pintar, memiliki putri yang mommy yakin begitu cantik di atas sana." sahut mommy Ivi. "Ngomong-ngomong tentang putri kita...sudah lama kita tak berkunjung ke sana dad, mommy rindu." kata mommy Ivi dengan wajah yang berubah sendu.


"Besok kita akan kesana mom...kita akan mengunjunginya." sahut daddy Geva. "Daddy pun merasakan hal yang sama." imbuhnya lagi.


"Andaikan putri kita masih ada...pasti dia saat ini juga sudah berkeluarga dad...mungkin kita bahkan sudah mendapatkan cucu darinya." kata mommy Ivi. "Ini semua salah mommy...karena mommy kita jadi kehilangan dia untuk selamanya." sambungnya dengan suara yang sudah serak.


"Shutt ini bukan salah mommy...ini adalah takdir dan Tuhan lebih sayang pada putri kita." kata daddy Geva yang kini sudah membalik tubuh sang istri menjadi menghadapnya.


Tangan kekar itu terulur untuk menghapus air mata yang sudah menetes di pipi wanita tersayangnya, kemudian di rengkuhnya tubuh yang sudah bergetar itu kedalaman pelukan.

__ADS_1


Mommy Ivi memang selalu begini jika mengatakan tentang putrinya dan hal ini bahkan terjadi hampir setiap hari dalam puluhan tahun ini, dirinya masih terus di liputi perasan bersalah juga kesedihan yang mendalam atas kematian putri kecilnya, putri yang bahkan belum sempat menatap indahnya dunia...putri yang sama sekali belum merasakan timangannya.


__ADS_2