
❤️ Happy Reading ❤️
Beberapa hari telah berlalu, hingga kembali hari Sabtu yang mana pasti Gavi akan pergi ke perusahaan bersama sang istri.
Namun kali ini berbeda entah kemana Gavi akan membawa wanita itu.
"Gav, ini seperti bukan jalan ke perusahaan...apa kamu ada jadi di luar sama klien?" tanya Aurel saat menyadari jalan yang dia lewati berbeda dengan yang kemarin. "Tau gitu tadi aku di apartemen aja." sambungnya lagi yang merasa tak enak jika harus bertemu dengan rekan bisnis sang suami.
"Sudah ikut dan diam." kata Gavi. "Nanti kamu juga akan tau kemana aku akan membawamu." sambungnya dengan mata yang begitu fokus ke arah jalan.
Setelah itu hanya keheningan yang ada karena mereka berdua tak ada lagi yang membuka suaranya.
"Gav, ini..." kata Aurel dengan mata terbelalak sambil menunjuk ke arah luar.
"Iya...ayo turun." ajak Gavi.
"Tunggu Gav, mau ngapain kita kesini?" tanya Aurel dengan tangan yang sudah memegang tangan Gavi yang hendak membuka pintu mobilnya. "Kita pulang aja ya..." pinta Aurel yang di jawab gelengan kepala oleh Gavi. "Kalau begitu aku di sini aja...gak usah ikut masuk." kata Aurel.
"Gak bisa Rel, kamu harus ikut masuk sama aku." kata Gavi. "Karena di sini Kamilah pemeran utamanya." sambungnya.
"Apa maksud kamu Gav? pemeran utama apa? aku gak ngerti maksud kamu." cecar Aurel yang mencerna apa yang di katakan Gavi padanya.
"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Gavi yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Aurel. "Ayo." katanya lagi.
"Tapi..." kata Aurel yang tertahan karena Gavi keburu keluar dari dalam mobil.
Klik
"Ayo Aurel." kata Gavi sambil mengulurkan satu tangannya di hadapan Aurel.
Aurel hanya bisa menghela nafasnya dan mau tak mau menyambut uluran tangan Gavi dan keluar dari sana.
Begitu masuk ke dalam lobi Aurel serta Gavi sudah di sambut oleh Reno, ternyata asisten tuan muda Marcio itu sudah menunggu mereka.
"Selamat pagi tuan muda...selamat pagi nyonya muda." sapa Reno yang hanya di balas anggukan kepala oleh Gavi.
__ADS_1
"Selamat pagi asisten Reno." balas Aurel.
"Mari tuan, nyonya." kata Reno yang langsung berjalan untuk membimbing atasannya menuju ke ruangan utama.
Ya tujuan mereka adalah ruangan presiden direktur di sana.
Cklek
"Silahkan." kata Reno dengan membiak pintu lebar-lebar.
"Gav, ini maksudnya apa? untuk apa kita kemari? aku tak ingin kita sampai membuat keributan di sini Gav." kata Aurel dengan menatap kearah Gavi, tangannya juga saat ini memegang tangan Gavi.
Bukannya menjawab, Gavi malah hanya menanggapi berbagai pertanyaan Aurel dengan sebuah senyuman...senyuman misterius yang penuh arti dan hal itu semakin membuat Aurel kesal karena semakin penasaran.
"Ayo duduk dulu.'' ajak Gavi menarik Aurel ke salah satu sofa yang ada di sana. "Tak usah kesal karena sebentar lagi kamu juga akan tau maksud aku membawamu kesini." kata Gavi.
Saat Aurel hendak berbicara sudah terjadi keributan di luar sana.
❤️
"Siapa kalian? kenapa kalian ada di perusahaanku?" tanyanya dengan marah. "Aku mau masuk." katanya lagi.
Reno meminta dia pengawal keluarga Marcio untuk berdiri di depan pintu ruangan pemimpin perusahan yang mana ada Gavi juga Aurel di dalamnya.
"Apa-apa kalian...ini perusahan aku dan ini ruangan aku, apa hak kalian melarang aku masuk!" bentaknya karena emosinya saat ini sudah di ubun-ubun.
"Maaf tuan anda tak diperbolehkan untuk masuk." kata Reno yang baru saja datang.
"Kamu...kamu bukannya salah satu asisten keluarga Marcio? mau apa kamu disini?" tanyanya. "Walaupun tuanmu adalah orang terpandang dan juga kaya...kamu tak bisa seenaknya di perusahan orang." hardiknya.
"Saya..."
Cklek
Mendengar keributan di luar, mau tak mau Gavi dan Aurel pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Gavi.
"Kamu..." tunjuk pria itu pada Aurel.
Aurel begitu kaget karena ternyata ada papanya di sana.
Benar, saat ini mereka sedang ada di perusahan WB grup yang mana perusahaan itu adalah milik keluarga Aurel.
"Dasar anak tak tau diri...mau apa lagi kamu kesini, hah!" bentak papa Rey. "Apa kamu lupa kalau kamu itu bukan lagi bagian dari keluarga aku...dasar j*****." katanya lagi yang begitu menusuk hati Aurel.
Gavi langsung menggenggam tangan Aurel dengan maksud untuk menguatkan istrinya.
"Maaf sebelumnya tuan Rey, anda salah jika menanyakan mau apa kami kesini." kata Gavi. "Apa salah jika istri saya datang ke perusahaannya sendiri?" tanya Gavi dengan senyum smirk yang tersungging di bibirnya.
"Omong kosong." kata tuan Rey.
"Omong kosong ya..." kata Gavi memandang remeh ke arah pria paruh baya itu yang sialnya adalah papa dari istrinya. "Reno..." kata Gavi memanggil sang asisten.
Reno yang mengerti apa maksud Gavi pun langsung menyuruh salah satu anak buahnya untuk memanggil seseorang.
"Selamat pagi." sapa seseorang yang baru datang itu.
"Pak Ilham." beo pak Rey.
"Iya benar ini saya tuan Rey,orang yang selama ini anda cari." jawab pak Ilham dengan santai karena. merasa saat ini dirinya ada yang melindungi. "Apa anda kaget karena saya masih hidup sampai saat ini?" tanyanya lagi yang membuat tuan Rey bingung harus berkata apa.
Sejak kematian ibu Aurel, pak Ilham yang notabene pengacara keluarga Wibowo harus pergi dari kita itu untuk bersembunyi, karena tuan Rey yang menjadi suami dari kliennya sedang mencari dirinya untuk meminta surat wasiat yang di tinggalkan nyonya Vany Wibowo.
"Katakan pak." pinta Gavi.
"Menurut surat wasiat yang di tinggalkan oleh nyonya Vany, perusahaan WB grup dan segala aset yang di miliki oleh keluarga Wibowo akan jatuh di tangan nona Aurelia Revany Wibowo yang tak lain dan tak bukan adalah putri kandung sekaligus anak satu-satunya dari nyonya Vany Wibowo dan tuan Rey Aprilian jika nona Aurelia sudah menikah." kata tuan Ilham mengatakan isi surat wasiat mama Aurel. "Jadi karena saat ini nona Aurel sudah menikah jadi anda sudah tidak berhak lagi dengan semua ini." kata pak Ilham lagi.
Sebelumnya mama Vany sempat bercerita dengan pak Ilham jika dia tau bahwa suaminya diam-diam telah selingkuh darinya dari saat dirinya mengandung Aurel.
Anak hasil selingkuhnya adalah Arni, jadi tak heran jika Arni dan Aurel memiliki umur yang hampir sama.
__ADS_1
Nyonya Vany juga sempat mendengar rencana busuk suaminya dengan sang selingkuhan lewat panggilan telpon, mereka berdua berniat untuk melenyapkan mama Vany dna Aurel agar bisa menguasai harta keluarga Wibowo dan hal itu terjadi saat Aurel sudah menginjak usia lima belas tahun.
Karena papa Rey sebenarnya hanyalah orang biasa yang begitu begitu beruntung bisa menjerat hati putri satu-satunya keluarga Wibowo.