Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 29


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Bukannya hari ini jadwal Aurel untuk memeriksakan lukanya?" tanya mommy Ivi saat mereka semua selesai sarapan.


"Iya mom." sahut Aurel.


"Kalau suami kamu kerja, periksa sama mommy aja ya? Gak apa-apakan?" kata mommy Ivi pada sang menantu.


"Gak usah mom, biar Gavi aja yang anter." sahut Gavi.


"Memangnya kamu gak kerja Gav?" tanya mommy Ivi yang jelas-jelas melihat sang putra sudah memakai stelan kerjanya.


"Kerja mom, tapi gak ada meeting pagi ini jadi Gavi bisa berangkat agak siangan." jawab Gavi.


"Ya memang harus begitu...istri itu harus lebih utama dari pada pekerjaan." sahut Oma Cecil.


"Ya udah kalau begitu kami langsung pergi ya mom, biar gak kena macet di jalan." pamit Gavi.


❤️


"Maaf ya aku jadi ngerepotin." kata Aurel saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobil.


"Kamu ini ngomong apa, sudah tanggung jawab aku sebagai suamimu.'' sahut Gavi. ''Sini.'' pintanya agar Aurel lebih mendekat padanya.


Grep


Gavi langsung menarik tubuh Aurel agar bersandar di dadanya.


"Kamu itu istri aku...jadi gak usah ngerasa gak enak atau apapun itu." kata Gavi sambil mengelus rambut Aurel. "Nanti ikut ke kantor gak apa-apakan?" tanya Gavi. "Aku hari ini stay di perusahaan...gak ada meeting atau janji ketemu klien." katanya lagi.


"He'em." sahut Aurel yang begitu menikmati belaian tangan Gavi di kepalanya.


Bukan tanpa sebab Gavi mengajak istrinya itu ketempat kerja, mengingat Aurel yang tak bisa meminum obat sendiri...jadi sudah dapat di pastikan tak akan meminum obatnya jika Gavi tak ada.


"Berapa hari cuti kerja?" tanya Gavi.


"Satu minggu ini aku gak kerja." jawab Aurel.

__ADS_1


"Kamu gak mau resign aja? Gak ada niat buat ngurus perusahan sendiri gitu?" tanya Gavi lagi.


"Aku masih terlalu nyaman dengan perkejaan aku yang sekarang, lagian aku juga gak ada pengalaman buat ngurus perusahan." jawab Aurel. "Kamu aja yang ngurus." sambungnya lagi.


"Huft sekali-kali keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal yang baru." saran Gavi.


"Aku gak mau dan memang agak ada niatan buat ustus perusahaan." sahut Aurel. "Aku itu punya angan-angan...kalau akan resign dari kerja saat aku mengandung dan punya anak nanti hariku ingin aku dedikasikan sepenuhnya untuk keluarga kecilku." ujar Aurel.


"Kalau boleh jujur, aku pun ingin mempunyai istri yang stay di rumah...cukup aku saja yang kerja untuk mengurus serta mencukupi semua kebutuhan keluarga." kata Gavi. "Rel.." panggil Gavi.


''Hem." sahut Aurel.


"Apa sudah ada tanda-tanda?" tanyanya.


"Tanda-tanda apa?" tanya Aurel yang bingung dengan pertanyaan Gavi yang begitu gamang untuknya.


"Dia, apa kira-kira sudah ada di sini?" jawab Gavi yang di selipkan dengan adanya pertanyaan lagi, sedangkan tangannya yang menganggur kini sudah menyentuh perut rata Aurel.


"Em...be...belum Gav." jawab Aurel dengan gugup. "Enggak tau lebih tepatnya, karenakan itu...em...ini belum tiba tanggal aku menstruasi." sambung Aurel.


"Jadi belum tau ya.'' kata Gavi yang di angguki oleh Aurel.


❤️


Mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang praktek dokter yang menangani Aurel.


Tak begitu banyak pasien, jadi Aurel dan Gavi tak perlu untuk mengantri.


"Selamat pagi tuan dan nyonya." sapa sang dokter begitu mereka berdua masuk kedalam ruangan.


"Selamat pagi dok." balas Aurel.


"Bagaimana nyonya, apakah ada keluhan?" tanya sang dokter setelah Gavi dan Aurel di persilahkan untuk duduk.


"Gak ada sih dok cuma masih sedikit nyeri saja." jawab Aurel.


"Kalau begitu mari kita periksa dulu lukanya, apakah sudah mulai mengering atau belum." kata dokter.

__ADS_1


Aurel dengan di ikuti Gavi di belakangnya mulai duduk di bed pemeriksaan. Perban yang ada di lengan Aurel mulai di buka untuk di periksa serta di obati dan di ganti.


"Lukanya sudah semakin mengering dan untuk tas nyeri itu adalah hal yang wajar." papar sang dokter setelah selesai. "Kalau bisa jangan terlalu banyak untuk di gerakkan terlebih tak boleh mengangkat sesuatu yang berat.'' ujarnya.


"Baik dok." jawab Aurel.


"Ini saya tuliskan resep yang baru untuk anda dan ini juga ada obat untuk mengurangi rasa nyeri." kata sang dokter menyodorkan kertas resep kepada Aurel.


Begitu keluar dari ruang dokter, Aurel dan Gavi langsung menuju ke apotek rumah sakit untuk menebus obat yang harus di minum oleh Aurel.


"Kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanya Gavi saat mereka kembali lagi ke dalam mobil untuk menuju ke perusahaan.


"Kenapa obatnya masih banyak aja sih." keluh Aurel dengan mengangkat plastik obatnya.


"Kamu itu kayak anak kecil tau gak, yang agak bisa minum obat." ledek Gavi.


"Aku itu memang gak suka minum obat, makanya kalau sakit juga gak pernah minum obat...karena pasti selalu nyangkut di tenggorokan dan rasanya begitu pahit." jawab Aurel.


"Terus dulu kalau sakit gimana?" tanya Gavi begitu penasaran bahkan sampai memiringkan duduknya agar bisa sedikit berhadapan dengan Aurel.


"Ya gak gimana-gimana, kalau sakit kerikan aja gitu." jawab Aurel. "Atau numpang tidur di pos satpam." sambungnya lagi yang membuat Gavi kaget.


"Loh kok di pos satpam?" tanya Gavi. "Kenapa gak di kamar?" tanyanya lagi.


"Kalau ketahuan aku masih enak-enakan tidur di rumah, mama sama adik tiri aku itu gak bakal biarin aku istirahat...bisa-bisa aku di siram air seember kalau sudah siang masih tidur." jawab Aurel.


"Memangnya pernah sampai gitu?" tanya Gavi yang bertambah penasaran.


"Pernah, kalau gak salah pas kau demam kayaknya." jawab Aurelia yang membuat Gavi menjadi geram bahkan kedua tangannya sudah terkepal secara sempurna.


"Lihat saja...kalian akan dapat hukuman yang setimpal." gumam Gavi dalam hati.


Gavi akan meminta untuk anak buahnya melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan mama serta saudara tiri Aurel dulu.


Mereka berdua memang ada di penjara saat ini namun jangan sebut keluarga Marcio jika tidak punya pengaruh besar di segala aspek.


"Sekarang sudah ada kami yang selalu ada untuk kamu." kata Gavi menggenggam tangan Aurel.

__ADS_1


"Hem aku begitu bersyukur...sebuah musibah ternyata membawa kebahagiaan untukku karena telah bertemu orang-orang baik seperti kamu dan keluargamu." kata Aurel.


''Sekarang keluargaku juga keluargamu." sahut Gavi.


__ADS_2