
❤️ Happy Reading ❤️
Cklek
"Kenapa gak tidur?" tanya Gavi saat masuk ke kamar dan mendapati sang istri sedang duduk termenung di atas ranjang bersendarkan headboard.
"Capek, dari tadi rebahan terus." jawab Aurel yang sebenarnya saat ini perasaannya sedang tak baik-baik saja.
Gavi berjalan melangkah mendekati Aurelia dan langsung naik ke atas ranjang dan duduk seperti Aurel saat ini.
Tanpa basa-basi Gavi langsung menarik tubuh Aurel hingga bersandar pada dada bidangnya.
"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Gavi yang seolah tau dengan apa yang ada Aurelia rasakan.
"Aku..." kata Aurel.
"Jangan bilang kalau kamu baik-baik saja dan sedang tak memikirkan apapun." potong Gavi.
"Sok tau...memangnya kelihatan apa." kata Aurel.
"Tantu saja, dari raut wajah kamu itu sudah menunjukan segalanya secara tidak langsung." kata Gavi.
"Huft aku sedang memikirkan keluarga aku, kenapa mereka bisa begitu tega padaku...bahkan papa kandungku sendiri.'' kata Aurel.
"Sudah gak usah di pikirkan lagi, biarkan mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka dan saat ini ada aku dan keluarga Marcio yang akan selalu ada untukmu selamanya." kata Gavi dengan membelai kepala Aurel dengan lembut.
Tak ada pembicaraan lagi serta mendapatkan elusan di kepalanya dari Gavi membuat Aurel lama-lama menjadi mengantuk dan tertidur, begitu pula dengan Gavi.
Cklek
"Oh manis banget mereka." gumam Oma Cecil dengan tangan yang saling bertautan di depan dada ketika masuk ke kamar Aurel begitu saja karena ingin melihat keadaan cucu mantunya.
"Ma..."
__ADS_1
"Shuttt." mommy Ivi yang semula memanggil Oma Cecil pun langsung tak bersuara lagi begitu mendapat kode dari wanita paruh baya itu. "Lihatlah, mereka berdua sweet banget ya..." lirih Oma Cecil.
"He'em." sahut mommy Ivi.
"Ayo kita keluar, nanti malah jadi ganggu mereka berdua." ajak Oma Cecil dan langsung berjalan keluar dari kamar Gavi di ikuti oleh mommy Ivi, tapi tak lupa mommy Ivi menutup pintu kamar anaknya dengan rapat dan tertutup sempurna.
Ada kelegaan tersendiri ketika mommy Ivi melihat posisi tidur naka dan menantunya, segala resah juga khawatir bahkan ketakutan yang kadang hinggap di hati serta pikirannya langsung lenyap begitu saja, menguap entah kemana saat melihat bagaimana posisi Gavi dan Aurel tadi.
❤️
"Mau makan di kamar atau di luar?" tanya Gavi saat waktu menunjukkan sudah mendekati jam makan malam.
"Diluar aja Gav, lagian ini aku cuma sedikit sakit." jawab Aurel.
"Ya udah ayo..." kata Gavi yang mendekat ke arah Aurel dan langsung merangkul pinggang aurel secara posesif.
"Gav." lirih Aurel yang hendak melayangkan protesnya, karena ini membuatnya tak nyaman sebab jantungnya serasa bertalu-talu.
"Aku cuma gak mau kejadian sat turun dari mobil tadi terulang lagi." hah tentu saja itu hanya akal-akalan dari Gavi saja dan Aurel hanya bisa pasrah, mau protes seperti apapun tak akan pernah bisa melawan kehendak tuan muda Marcio itu.
"Bagaimana luka kamu sayang?'' tanya mommy Ivi .
"Oh ini gak apa-apa mom, cuma sedikit perih dan panas saja." jawab Aurel apa adanya.
"Pasti itu karena efek biusnya sudah habis." sahut Oma Cecil.
Kemudian tak ada pembicaraan lagi karena mereka semua sibuk untuk memakan makanan mereka masing-masing.
"Ish..." desis Aurel dengan pelan karena tak ingin semua orang mengkhawatirkannya.
"Kenapa?" tanya Gavi dengan suara normal sehingga membuat atensi semua orang jadi melihat ke arah Aurel.
" Enggak ini tanganku terasa sakit dan ngilu." jawab Aurel apa adanya, toh gak ada gunanya juga untuk ditutup-tutupi.
__ADS_1
"Sini, biar kau suapi." kata Gavi yang langsung menggeser piring Aurel yang masih berisi makanan menjadi berada di hadapannya karena piring miliknya telah dia geser.
"Ah gak usah, aku bisa sendiri." tolak Aurel yang merasa tak enak serta malu dengan yang lain.
"Bisa apanya, orang meringis kesakitan gitu." kata Gavi.
Yang terkena tembak dari Arni adalah lengan Aurel sebelah kanan, sehingga jika di pakai atau di gerakkan terus akan terasa sakitnya.
Dengan telaten Gavi mulai menyiapkan suap demi siapa makanan yang ada di piring Aurel hingga tandas tak tersisa.
"Kalian langsung ke atas saja, Aurel belum minum obatnyakan?" tanya mommy Ivi yang di angguki Aurel, karena wanita yang masih cantik meski usianya sudah tak muda itu tak melihat ada obat Aurel di sana.
Aurel dan Gavi pun pergi meninggalkan kedua orangtua serta Oma dan opa untuk masuk ke kamar.
❤️
"Ayo di minum obatnya." kata Gavi dengan menyerahkan obat milik Aurel yang sudah di siapkan olehnya sehingga tinggal minum saja.
Tak menyahut atau mengambil obat yang ada di tangan Gavi, justru Aurel hanya memandang obat tersebut dengan ngeri.
"Ayo ambil dan minum." kata Gavi lagi.
"Enggak Gav, aku gak bisa." kata Aurel sambil menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa minum obat Gav dan itu pasti rasanya sangat pahit." kata Aurel lagi yang membuat Gavi menghela nafasnya dalam.
Istrinya itu bak seperti anak kecil yang sulit untuk minum obat dan itu memang kelemahan Aurel...dirinya tak bisa meminum obat.
Gavi menarik tangannya dan kemudian meminum seluruh obat itu, namun sedetik kemudian...Gavi menarik tengkuk Aurel bahkan sedikit menekan sehingga satu persatu obat yang ada di dalam mulutnya masuk semua kedalam mulut Aurel sampai tetelan.
"Hah...hah...hah." nafas Aurel terasa tersengal-sengal begitu Gavi melepaskan ciumannya. "Pahit Gav." kata Aurel karena ada obat yang nyangkut tadi.
Gavi pun langsung menyodorkan satu gelas air dan langsung di minum Aurel hingga tandas tak tersisa.
Gluk...gluk...
__ADS_1
"Mulai saat ini sampai lukamu sembuh, aku akan menggunakan caraku sendiri agar kamu meminum obatnya sampai lukanya mengering." kata Gavi.
Mendengar perkataan Gavi serta mengingat bagaimana caranya tadi meminum obat membuat wajah Aurel sudah semerah tomat yang matang.