
Vajria memasuki kamar kos-an ku pada Minggu sore hari itu dengan wajah yang lesu. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya. Aku yang sedang asyik memetik gitar akustik kesayanganku segera menaruhnya di atas meja dan menghampiri Vajria.
"Ra, kamu kenapa pucat begitu? Kamu hari ini pulang ke rumah kan?" tanyaku.
"Ya, aku baru pulang dari rumah" jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya yang indah ke atas sofa.
Aku segera duduk di sampingnya dan memegang tangannya. "Kamu lelah atau sakit? Kelihatannya lemes banget" tanyaku lagi.
"Kamu melabrak Alvin ya, cantik?!" Vajria malah balik bertanya.
Aku mengangguk karena memang tidak bisa berbohong kepada mawar merahku itu. "Iya, habisnya aku kesal melihat dia pergi bersama kamu! Jadi aku minta sama dia untuk tidak mendekati kamu lagi!"
"Nayl... Kamu tahu? Tadi Kak Fathya marah-marah kepadaku karena Alvin sudah menceritakan semuanya kepada Papanya tentang kamu!"
"Jadi dia menggunakan Papanya yang adalah rekan kerja Papa kamu buat menyerangku?"
Vajria menganggukkan kepalanya. "Aku gak nyangka Alvin bisa berbuat seperti itu!"
"Trus kamu bilang apa sama Kak Fathya?"
"Ya aku jelasin aja kalau aku sekarang sudah punya kamu dan gak bisa dekat lagi sama Alvin"
"Kamu bilang gitu, Ra? Serius?!"
"Iya, dan Kak Fathya meminta aku untuk mengenalkan kamu kepadanya. Aku pasti akan segera membawa kamu kehadapan Kak Fathya. Kamu mau kan?!"
"Mau! Aku mau! Tapi Kak Fathya mungkin gak akan suka sama aku..." aku sejenak merasa ragu...
"Kata siapa?! Kok belum apa-apa sudah minder gitu?!" Vajria mencium pelipisku.
"Aku takut gak sesuai dengan ekspektasinya"
"Yang jalani kan aku dan kamu! Kak Fathya harus menerima apapun pilihanku!"
"Kamu gak nyalahin aku, Ra? Kamu gak marah sama aku?" aku benar-benar takut kalau Vajria marah kepadaku atas perbuatanku yang telah melabrak Alvin beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Vajria membawaku kedalam pelukannya, "Mana mungkin aku marah sama kamu, cantik!" dan dia menciumi wajahku bertubi-tubi.
Aku merasa nyaman dipeluk dan diciumi seperti ini! Aku tidak perduli Vajria menganggap aku sebagai cewek atau cowok! Yang penting dia adalah kekasihku!
"Maafkan aku, Ra. Aku udah salah karena melabrak Alvin tanpa bilang dulu sama kamu. Aku tidak bisa menahan diri. Aku cemburu dan takut kehilanganmu!" kataku seraya menyusupkan wajah di ketiaknya yang wangi maskulin!
Terasa Vajria mengacak-acak rambutku. "Gak apa-apa, cantik! Aku ngerti kok! Aku kan sekarang udah jadi milik kamu!"
Aku mendongak dan menatap matanya, "Kalau kamu milikku, aku boleh apa-apain dong?!"
"Emangnya kamu mau apa?!" mata Vajria membelalak dan wajahnya tampak semakin cantik!
"Kamu cantik, Vajria! Kamu cantik dan aku suka!" bisikku berusaha untuk menjadi seorang cowok yang semestinya. Aku mendekati wajahnya dan menekan bibirnya dengan bibirku. Dan semuanya terjadi tanpa bisa di hentikan. Aku sangat menyukai saat-saat dimana kami bisa seperti ini. Manis dan hangat.
Perlahan-lahan dengan di tuntun oleh naluri seorang cowok, aku membaringkan tubuh Vajria di atas sofa dan bergerak menindih dadanya dengan dadaku tanpa melepaskan ciumanku pada bibirnya.
Vajria yang kemudian mendorong daguku hingga ciuman itu terlepas. Mata kami saling bertatapan dengan penuh cinta. Aku hendak kembali menciumnya tapi Vajria menahan bibirku dengan dua jari tangannya.
"Apa-apaan sih kamu, Nayl! Berat tahu!" kata Vajria yang berada di bawah tindihan tubuhku.
"Gak mau! Aku mau di atas! Rambut kamu yang panjang itu menjuntai kebawah dan kamu jadi kayak kuntilanak kalau kamu diatas!" protesnya!
"Ya udah terserah kamu, aku sih di atas bisa, dibawah juga mau..." aku mengalah dan menggeser posisi tubuhku hingga kini Vajria yang ada diatas.
Luar biasa! Dengan posisi seperti ini aku memang tidak berdaya untuk melawan! Aku pasrah saja saat Vajria menindih tubuhku dan melanjutkan pergulatan antara dua bibir kami.
Yang gilanya lagi Vajria tiba-tiba menduduki kedua pahaku! Dia seolah ingin memastikan bahwa dirinya adalah sang pendominasi dalam permainan ini.
"Ngapain kamu duduk gitu?! Sini bobo lagi!" kataku yang sebenarnya sedang bergulat menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa sesak dibagian bawah tubuhku!
"Emangnya kenapa kalau aku dudukin kamu seperti ini?" Vajria malah menantang.
"Berat banget, Ra! Paha aku sakit!"
"Masa sih? Aku cuma lima puluh kilo, kok!"
__ADS_1
"Udah sini, pelukan lagi!" aku mengulurkan tanganku agar dia mau kembali ke posisi awal yaitu berbaring di atasku.
"Kalau disini berat gak, Nayl?" Vajria malah menggeser duduknya lebih ke atas hingga bokongnya menduduki tepat di bagian bawah pinggangku!
"Ra! Argh...!" aku menggigil dan gigiku bergemeletukan seolah-olah sedang menahan rasa dingin yang sangat! Tapi kenyataannya aku tidak merasa dingin! Aku justru merasa panas! Rasa panas yang belum pernah aku rasakan sebelumnya!
"Mendesah lagi, cantik!" Vajria malah menekan duduknya agar lebih mendesakku!
"Ah..." satu de*sahan lolos dari bibirku!
"Lanjut, cantik?"
"Ra, please Ra! Jangan seperti ini! Aku gak kuat! Kalau aku gak bisa nahan gimana?!"
"Nahan apa?! Lepaskan aja, cantik!"
"Jangan gila kamu, Ra!"
Vajria kembali menjatuhkan tubuhnya di atasku, tapi masalahnya dia masih menduduki aku! Aku bisa merasakan bagaimana bagian bawah tubuhnya menekan dan bergoyang perlahan!
"Jangan, Ra! Ya ampun! Aku udah gak kuat lagi, Ra! Jangan mancing aku terus! Aku cowok normal! Kamu mau rusak sebelum waktunya?!" aku masih mencoba untuk menyadarkannya karena aku tidak mau sesuatu terjadi kepadanya! Itu belum boleh terjadi!
"Nayl... Nayl..." Vajria malah semakin nakal dan menciumi leher dan dadaku! Kancing-kancing bajuku dilepaskannya dengan cepat tanpa aku sadari!
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan membiarkan apapun yang ingin dia lakukan kepadaku! Ingin rasanya aku membalas tapi pasti aku tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya!
Akhirnya aku hanya bisa kembali menjadi bonekanya! Vajria menciumi ku, mengigit kesana-kemari, dan bagian bawah tubuhnya seolah ingin menekanku habis-habisan!
Akupun menjadi selayaknya seorang cewek yang sedang di garap cowoknya! Aku dibawah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mendesah dan mengerang! Aku mati-matian bertahan walaupun rasanya aku ingin meledak sekuat-kuatnya!
Kalau saja waktu tidak menunjukkan pukul delapan malam dan dia tidak merasa lapar, mungkin Vajria tidak akan melepaskan aku...
Untungnya Vajria akhirnya mau melepaskan aku setelah dia puas! "Sudah dulu ya, Nayl! Aku lapar dan kita cari makan dulu!" katanya enteng dan melepaskan diriku yang sedari tadi berada di bawah penguasaannya!
Aku lemas... Lemas karena menahan diri untuk tidak membalas semua perlakuannya yang nantinya akan bisa merusak dirinya sendiri.
__ADS_1