
Nayl POV
Tiga hari setelah acara makan malam di rumah Vajria.
Aku sedang berada dalam dekapan Vajria malam itu, dengan keadaan tubuh kami berdua yang tidak tertutup selembar benangpun. Aku sibuk melahap buah dadanya yang manisnya melebihi buah apel. Vajria sendiri tampak terpejam rapat menikmati apa yang sedang aku lakukan sambil sesekali meremas rambutku dan membisikkan namaku.
"Sudah Nayl... Geli..." desahnya.
"Masih mau..." kataku sambil melahapnya lagi! Sementara dibawah sana jari-jari tanganku sudah membuat Vajria basah kuyup.
"Aku gak tahan lagi..." desahnya lalu mengigit bibirnya sendiri kuat-kuat!
Aku menaiki tubuh seksinya dan menempatkan diriku tepat ditengah kedua kakinya yang sudah terbuka lebar. Mata kami saling bertatapan dengan penuh gairah aku lihat ada kepasrahan disana.
"Lakukan, cantik..." tuntutnya.
"Aku juga tidak tahan lagi..." kataku sambil menelan ludah sendiri saking hangatnya dibawah sana.
"Lakukan sekarang! Lakukan apa yang pernah kamu lakukan malam itu...!"
"Aku sudah dapat SIM sekarang?"
"SIM apa?"
"Surat Izin Menabrak pacar sendiri!"
"Jangankan ditabrak, dirobek dan dikoyak pun aku tidak akan melawan..."
Aku memutuskan untuk menuruti keinginan Vajria dan menabrak-nabrak tubuhnya perlahan agar terkuak dan mengizinkan aku untuk masuk. Beberapa kali aku mencoba untuk menembus sampai kedalam tapi terasa sangat sulit, sementara Vajria sudah mendesis-desis seperti orang kepedasan.
Dan akhirnya dengan satu hentakan keras akhirnya aku bisa melesakkan diriku kedalam tubuhnya. "Aduh, Ra...!" aku tidak tahan merasakan bagaimana ketatnya dia menjepitku!
"Aduh... Sakit banget, Nayl...!" kali ini Vajria yang merintih sehingga membuatku segera menatap wajahnya yang tampak meringis kesakitan dengan kening yang basah.
"Tuh kan, sakit!" kataku khawatir.
"Udah masuk semuanya ya?"
"Baru kepalanya, Ra. Setengahnya pun belum!"
"Idih alah..." Vajria tampak kaget dan wajah cantiknya menyiratkan adanya rasa takut. "Waktu itu aku kesakitan seperti ini juga?"
"Iya... Sekarang kita udahan aja ya?!"
Vajria menggeleng dan berkata, "Gak mau udahan... Mau di goyang sampai kamu keluar!"
__ADS_1
"Ya udah segini aja ya? Aku juga nanggung banget ini..." aku mulai menggerakkan pinggul naik turun perlahan di atas tubuh Vajria dengan tidak menambah kedalaman sebatas yang tadi aku berhasil lakukan.
Efeknya sangat luar biasa! Vajria merintih antara sakit dan nikmat sehingga bibir mungilnya terus-menerus mendesah panjang dengan memanggil-manggil namaku. Bahkan tangannya memeluk erat tubuhku sehingga terasa benar-benar menyatu dengan tubuhnya. Aku bahkan bisa merasakan bagaimana kuku-kukunya menancap di punggungku.
"Kok sampai sebegininya, Nayl... Padahal baru kepalanya aja..." rintih Vajria dengan terengah-engah.
"Ayang suka?" bisikku sambil merayapkan kedua tanganku untuk menggerayangi dadanya.
"Suka banget... Terus Nayl... Pelan-pelan... Jangan dalam-dalam..."
"Iya ayang..."
"Aduh Nayl... Apalagi kalau semuanya ya..."
"Mau dicoba sekarang?"
"Ah... Enggak... Jangan... Ini juga sakit...!"
"Ugh... Punya ayang sempit banget...!"
"Kepala sosis kamu yang kegedean!"
Aku sendiri sampai menggigil hebat dengan gigi bergemeletukan karena tidak sanggup menahan kenikmatan yang menderaku! Bagaimana bisa senikmat ini padahal aku baru memasukkan kepalanya saja?! Kalau begini aku bisa kalah terus!
Untungnya saat itu Vajria akhirnya menjerit kecil sambil menyusupkan wajahnya ke dadaku yang berarti dia sudah sampai. Tubuhnya bergetar hebat dan akhirnya melemah dan perlahan wajahnya menengadah menatap wajahku.
"Aku belum... Tapi kalau kamu udah gak kuat, aku gak apa-apa" kataku sambil mencium keningnya beberapa kali.
Akulah pemenangnya kali ini!
Vajria menggeleng. "Lanjutin! Keluarin!"
"Sebentar ya, ayang?" aku mencengkram erat pinggulnya.
Vajria mengangguk lemah.
Aku pun melanjutkan perbuatanku atas tubuhnya sampai semuanya lepas dan berceceran di atas tubuhnya. Aku pun tidak sanggup untuk bangkit lagi dan memilih untuk mendekap tubuhnya erat-erat hingga pagi tiba.
Aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara panggilan telepon pada HP Vajria, awalnya aku ingin mengabaikan saja karena Vajria juga tidak terbangun dari tidurnya dengan suara HP-nya itu. Tapi panggilan itu terus berulang sampai beberapa kali.
Aku meraih HP Vajria diatas meja dan melihat layarnya yang memperlihatkan bahwa ada panggilan telepon dari Kak Fathya.
Wah! Ini pasti penting! Dan aku tidak mungkin mengangkatnya karena itu sama saja dengan memberi tahu Kak Fathya kalau aku sedang berada di kos-an Vajria sepagi ini dan itu artinya Kak Fathya akan tahu kalau aku menginap disini.
"Ra, bangun ayang! Bangun!" aku mengguncang-guncang bahu Vajria yang masih terlelap dalam dekapanku.
__ADS_1
Mata Vajria terbuka, "Ada apa, cantik?" tanyanya.
"Bangun dulu, ayang"
"Kenapa? Cantiknya aku mau masuk lagi?"
"Bukan, itu beberapa kali Kak Fathya nelepon"
Vajria membuka matanya lebih lebar dan langsung terduduk di atas tempat tidurnya. Buah dadanya yang padat menggantung bebas menggiurkan, membuat aku menelan ludah sendiri. Aku segera menaruh kepalaku di atas pangkuannya dan melahapnya.
"Ih...! Sebentar cantik! Aku telepon Kak Fathya dulu! Ini dia udah beberapa kali nelepon! Awh...! Aku gak mau Kak Fathya mendengar suara desahku yang kegelian!" kata Vajria.
Aku terpaksa melepaskan dua benda padat kesukaanku itu.
"Halo Kak" sepertinya Vajria sudah berhasil menelepon kakaknya.
"Oh, ini Kak Arga? Ada apa, Kak?"
Dan seketika aku lihat wajah tampan dan cantik milik Vajria tiba-tiba berubah memucat dengan bibir bergetar hebat!
"Apa Kak? Ya Tuhan..." aku lihat tangan Vajria yang menggenggam HP-nya gemetar hingga HP itu terlepas dan Vajria langsung ambruk pingsan!
"Vajria!" teriakku sambil segera meraih tubuhnya kedalam dekapanku dan mengambil alih HP Vajria. Tadi Vajria menyebutkan nama Kak Arga yang berarti bukan Kak Fathya yang sedang bicara dengannya. Aku tidak perduli Kak Arga akan berpikiran apa tentangku yang sepagi ini sudah ada bersama Vajria.
Aku segera bicara dengan Kak Arga melalui HP Vajria. "Halo kak Arga. Ini Nayl"
"Nayl! Kamu lagi sama Vajria?!"
"Iya, ada apa Kak? Ini Vajria pingsan!"
"Nayl, aku juga sedang bersama Fathya. Sekarang Fathya juga sedang tidak sadarkan diri!"
"Ada apa sebenarnya, Kak?"
"Barusan Fathya mendapat telepon dari rumah sakit kalau Papanya sedang dalam keadaan kritis karena mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan ke bandara!"
"Ya Tuhan..." aku juga merasa lemas seketika.
"Kita harus segera kesana Nayl! Kamu bawa Vajria! Aku bawa Fathya!"
"Iya Kak! Aku segera kesana!"
"Nanti aku share lokasinya!"
Telepon terputus dan aku merasakan bagaimana mataku terasa hangat dan dadaku sakit. Aku mendekap tubuh Vajria lebih erat ke dadaku. "Sabar, Ra! Kamu harus kuat!" bisikku.
__ADS_1
Aku tahu kalau malam tadi memang Papa Vajria akan kembali ke Kalimantan setelah beberapa hari berada di Bandung. Papa Vajria sudah berangkat ke Jakarta sejak kemarin sore untuk melanjutkan penerbangan ke Kalimantan pada malam harinya.
Dan sekarang Papa mengalami kecelakaan?! Ya Tuhan... Kenapa kecelakaan itu terjadi saat aku menggeluti anaknya semalaman?!