
Aku tidak suka kalau Nayl menyebut ku cewek! Aku ingin jadi cowok dan aku ingin Nayl juga merasakan hal itu! Aku memang menyukai Nayl, tapi bukan berarti aku ingin berpacaran dengannya. Berpacaran dengan Nayl hanya akan membuat aku secara tidak resmi mengakui kalau aku adalah seorang wanita!
Tapi Nayl beda denganku! Dia tidak suka kalau aku bilang cantik! Dia merasa sebagai cowok tulen walaupun dia memang berpenampilan cantik!
"Aku bukan cantik! Aku unik!" kata Nayl.
"Kalau aku bilang cantik, kamu mau apa?!" tanyaku.
"Kamu kok yang cantik!"
"Idih! Aku ganteng! Lihat nih bahuku lebar, jari-jari tanganku besar!"
"Tapi dada dan pinggul kamu juga besar!"
"Nayl!!!" aku setengah menjerit! "Berani kamu bilang gitu sekali lagi, aku gantung kamu di Monas!"
"Maaf, Ra. Aku gak maksud gitu! Cuma bentuk tubuh kamu gak bisa di sembunyikan walaupun kamu pakai celana jeans cowok dan baju oversize begitu! Dada kamu tetap menonjol! Beda sama aku yang rata!"
"Buah dada sial*n!"
"Hus! Astaghfirullah! Gak boleh bilang gitu! Pamali!"
"Aku akan cepat lulus kuliah dan kerja! Aku akan kumpulkan uang banyak untuk meratakan dada ku dan mengecilkan pinggulku! Aku juga mau operasi pita suara biar punya suara gahar seperti kamu dan aku juga mau bikin jakun besar menonjol kayak kamu!"
"Ya Allah... Ra! Emangnya kenapa sih kamu mau banget jadi cowok?"
"Orang aku cowok kok! Aku bukan cewek! Aku hanya TERJEBAK DALAM RAGA YANG SALAH!!!
"Hus! Tidak ada manusia yang Allah ciptakan menempati raga yang salah! Itu sudah jadi bagian kamu seperti itu! Jangan pernah ingkari dirimu adalah wanita! Apalagi kamu niatan oprasi! Haram! You know, Vajria!"
Aku cemberut dan langsung pergi meninggalkan Nayl. Kalau sudah begini, Nayl yang langsung mengejarku dan mengamit lenganku.
"Jangan marah, Vajria. Jangan pernah ninggalin aku!" katanya mulai manja lagi!
Aku mengacak rambutnya dan anehnya rambutnya itu langsung rapi lagi setelah Nayl mengibaskan nya!
Tapi kata-kata Nayl ada benarnya juga. Aku memang seorang wanita! Buktinya aku mengalami datang bulan dan itu tidak bisa dicegah! Sialnya aku dapet saat sedang di kampus dan aku langsung lemas, pusing, plus sakit perut! Selalu saja seperti ini setiap bulan!
Dan akhirnya saat Nayl menjemput ku ke kelas, dia melihat aku bersandar lemah di kursi ku.
"Ra! Kamu kenapa?!" Nayl panik sekali dan langsung merangkul bahuku.
"Aku sakit, Nayl..." jawabku pelan.
"Kita ke dokter ya?!"
"Gak mau! Aku mau pulang..."
__ADS_1
"Tapi kamu udah pucat sekali... Kita ke kosan aku aja ya?!"
"Dimana?"
"Deket. Cuma satu kiloan dari sini. Yuk!" Nayl memapah ku perlahan dan membawa ku ke kosannya yang memang tidak terlalu jauh dari kampus. Sampai disana aku langsung di baringkan di atas tempat tidurnya.
Aku tidak bisa istirahat. Rasa sakitnya semakin parah dan rasanya perut ku sedang di aduk-aduk! Aku sampai menangis sambil membenamkan wajahku ke bantal Nayl!
"Ya Allah, Ra! Sakit apa kamu ya?" tanya Nayl panik dan segera duduk di sampingku sambil memijit punggung ku.
"Gak kuat Nayl... Sakit..." kataku...
"Tahan ya? Aku ambilkan air panas dalam botol"
"Gak mau..."
"Mau aku beliin obat?"
"Gak mau..."
"Kamu sampai nangis begini... Baru kali ini aku liat kamu nangis... Aku gak kuat..."
Ini hal yang paling aku benci! Menangis! Dan sialnya ini terjadi di depan Nayl!
"Tinggalin aku sendiri! Aku gak mau nangis didepan kamu!" bentak ku!
"Mana mungkin aku pergi saat kamu kesakitan seperti ini! Aku akan panggil dokter sekarang juga!" Nayl bangkit berdiri dan aku langsung menarik lengannya!
"Kamu kesakitan, Ra!"
"Aku gak akan sembuh karena kedatangan dokter!"
"Lho, kenapa?!" Nayl bingung.
"Aku..." aku tidak bisa meneruskan.
"Kamu kenapa?" tanya Nayl lembut sambil mengusap pipiku.
"Please... Jangan usap pipi ku kaya gitu! Emang aku anak manja?! Awas kamu ya?!!!" aku marah besar!
"Ya Allah, di sayang malah marah!" Nayl pusing sampai memukul jidatnya sendiri!
"Aku yang biasanya melakukan hal itu sama kamu! Aku yang usap-usap kamu! Bukannya kamu yang usap-usap aku!!!"
"Iya, maaf! Trus kamu kenapa sebenarnya?! Jangan bilang kalau kamu lagi sakaw! Aku gak akan bisa nolong kamu! Aku gak ada yang begituan!" Nayl panik.
"Bukan! Enak aja kamu bilang gitu! Aku bukan pemakai!!!" teriak ku kesal! Enak saja Nayl menuduh ku sedang sakaw!!!
"Terus kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku... Aku... Whua...!!!" tangis ku malah pecah lagi!
"Ya Allah, Ra! Sakit banget ya?" Nayl merangkul bahu ku.
"Nayl... Aku sebenarnya lagi datang bulan..." kataku akhirnya dengan menahan rasa malu yang luar biasa!
Seketika itu Nayl jadi bengong. "Jadi kamu lagi haid? Bilang dong, Ra!" kata Nayl akhirnya setelah beberapa saat bengong.
"Lalu apa yang sekarang bisa kamu lakuin buat meringankan sakit ku?!"
Nayl tiba-tiba memeluk tubuhku yang masih berbaring di atas tempat tidurnya. Rasanya jantungku berhenti berdetak! Dadanya menekan dadaku. Terasa ada suara detak jantung yang kencang disana.
"Kasihan banget kamu, Ra. Kalau saja aku bisa merasakan juga. Aku rela gantiin kamu" bisik Nayl.
"Kamu mau gantiin aku datang bulan?" tanyaku.
"Ih! Bukan! Aku yang gantiin rasa sakitnya. Aku gak tega liat kamu begini"
"Oh, aku kira kamu mau gantiin aku haid! Aduh... Sakit banget Nayl... Mules..."
Perlahan Nayl merayapkan kedua telapak tangannya yang berada di punggung ku karena dia masih dalam keadaan memeluk ku.
"Aduh! Geli! Mau apa kamu?!" aku panik kegelian!
"Diam!" bisik Nayl tegas! Tumben sekali dia bisa tegas begitu. Tapi aku diam.
Nayl perlahan-lahan mengangkat tubuhku yang ada dalam pelukannya agar aku duduk dan dia mulai mengurut-urut bagian punggung ku dari atas ke bawah. Terus seperti itu dan ternyata rasa mulas ku jauh berkurang.
Gilanya Nayl mengurut-urut punggung ku dengan posisi masih memeluk ku. Entah kenapa kali ini rasanya beda. Ada getaran aneh yang merayapi dadaku. Padahal kami sudah sering berangkulan. Tapi memang bukan berpelukan.
Dengan posisi seperti ini juga wajah kami jadi sangat dekat satu sama lain. Mata kami jadi saling bertatapan dan hembusan nafas Nayl pun terasa hangat di wajahku.
"Enakkan, gak?" tanya Nayl.
"Iya, mendingan. Sakitnya jauh berkurang. Kok kamu tahu sih kalau memijit seperti ini bisa mengurangi rasa mulas?"
"Ya, aku pernah lihat aja sih di google cara meringankan sakit perut karena lambung. Tapi bukan karena sakit saat haid. Tapi sama aja kan?"
"Ya sih... Tapi bisa gak lepasin pelukannya. Aku gak bisa nafas..."
"Ups, ok" Nayl melepaskan pelukannya dan bergerak ke belakang tubuhku untuk kembali memijit punggungku. Tapi aku menahan gerakannya.
"Udah, ah! Udah gak begitu sakit kok" kataku.
"Beneran?"
"Heeh"
"Ya udah, Alhamdulillah kalau begitu. Tapi Ra, berarti kamu beneran cewek kan? Kamu datang bulan! Kamu juga nanti akan hamil dan menyusui lho!" kata Nayl lagi dengan wajah yang serius!
__ADS_1
"Nayl! Tutup mulut atau aku gantung di Monas!!!"