Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 16 : Sudah Tidak Bersama


__ADS_3

Satu bulan sudah aku hidup tanpa adanya lagi seorang Nayl cantik disisi ku! Rasanya rungkad sekali! Aku tidak ingin tahu lagi apakah aku masih punya harapan untuk bahagia? Aku selalu tampil semangat dan ceria tapi sesungguhnya itu semua adalah kesemuan yang tidak berujung!


Saat kembali ke kos-an dan tenggelam dalam kesendirian, aku kembali hanya bisa merenung karena untuk menangis, rasanya air mata ini sudah habis di awal-awal perpisahan dengan Nayl.


Pernah suatu ketika Lily memergokiku sedang melamun dengan tatapan kosong saat Lily masuk kedalam kos-an ku untuk meminjam sebuah buku. Aku bahkan tidak sadar sudah berapa lama Lily ada di dekatku sebelum akhirnya dia menepuk pundak ku dengan gemas!


"Vajria! Ya Allah...! Kamu ini kenapa?!!!" teriaknya histeris!


"Hah!" aku kaget sekali melihat Lily sudah ada di hadapanku dengan mata melotot gemas! "Ada apa, Ly?" tanyaku.


"Kamu yang ada apa, Ra! Aku dari tadi di hadapan kamu! Aku udah panggil-panggil nama kamu! Aku udah melambaikan tangan didepan wajah kamu! Tapi kamu seolah sudah berubah menjadi batu!" jawab Lily dengan nada kesal tingkat tinggi!


"Oh, maaf Ly..." kataku menyesal.


"Kamu abis kena hipnotis?! Aku tepuk bahu baru sadar!"


"Aku lagi ngelamun..."


"Vajria! Kamu melamunkan apa?"


Aku diam. Mataku mendadak terasa hangat.


"Vajria, apakah kamu sedang melamunkan si cowok gemulai mantan kamu itu?!" tuding Lily curiga!


"Jauh di lubuk hatiku, Nayl masih kekasihku..."


"Astaga...!" mata Lily membelalak. "Kamu serius, Ra?! Jadi kamu masih mencintai Nayl?!"


Aku mengangguk lesu.


"Kalau masih cinta, kenapa kamu putusin dia?!"


"Aku gak mutusin dia. Aku minta dia pergi dan dia malah pergi. Tidak ada kepekaan sama sekali!"


"Mana bisa dia peka?! Jiwanya kan cewek! Harusnya kamu yang lebih peka dan tidak membiarkan dia pergi!"


"Kok kamu jadi seperti yang menyayangkan perpisahan aku dengan Nayl?! Bukankah selama ini kamu yang paling vokal menyuarakan aspirasi untuk aku meninggalkan Nayl?!"


"Iya, tapi sekarang akhirnya jadi begini, kamu sampai melamun dan tidak ada respon saat ku panggil! Aku gak mau kamu tertekan, stres dan akhirnya malah jadi tidak waras!"


"Sayangnya aku sepertinya telah terjangkit tiga hal yang kamu katakan barusan!"


"Ya Allah, Ra! Aku tidak menyangka sama sekali! Aku pikir kamu baik-baik saja dan memang kelihatannya seperti itu!"

__ADS_1


"Padahal dalam hatiku memendam luka yang teramat dalam!"


"Kamu tidak boleh seperti ini, Ra! Kalau memang cuma Nayl yang bisa membuat dunia kamu kembali berwarna dan matahari dalam jiwamu bersinar kembali, kejar dia! Dapatkan hatinya dan dirinya kembali!"


Aku menggeleng. "Tidak bisa!"


"Why?!" Lily kembali membelalakkan matanya yang bulat.


"Nayl kelihatan sangat bahagia tanpaku. Mungkin lebih baik seperti ini seterusnya. Mungkin selama delapan bulan kebersamaan kami, Nayl sebenarnya tertekan dan tidak bahagia..."


"Ya Allah, Ra...!" Lily memeluk tubuhku erat-erat. "Aku gak mau kamu hancur berantakan, Ra!"


Aku balas memeluk Lily. "Enggak, Ly! Gak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan kita. Aku percaya itu! Badai pasti berlalu dam akan selalu ada pelangi setelah badai!"


"Kamu yang kuat ya, Ra!"


"Aku pasti kuat!"


"Atau kamu alihkan deh perasaan kamu sama cowok lain! Mungkin kamu bisa cepat move on kalau kamu punya seseorang yang baru! Kamu balikan lagi kek sama Alvin!"


"Aku saat ini cuma menginginkan Nayl si cantik!"


"Kalau mau yang cantik, ada Alfred kan?! Mau aku kenalin sama dia?! Mungkin dia bisa gantiin posisi Nayl di hati kamu atau setidaknya bisa jadi hiburan kamu!"


"Kenapa? Apakah aku salah?" tanya Lily dengan wajah tanpa dosa. Padahal apa yang dia katakan barusan adalah merupakan satu dosa besar, bagiku!


"Nayl tidak sama dengan Alfred! Nayl cantik alami! Anugerah dari Tuhan! Lha Alfred apaan?! Dia mah maksain diri biar terlihat cantik sampai lenggak-lenggok segala!"


"Emangnya Nayl gak sok kecantikan?! Pake make-up, anting panjang!"


"Pokoknya beda!"


"Ya deh terserah apa kata kamu!"


Kata Lily ada benarnya juga. Sepertinya aku harus cari hiburan! Daripada aku stres dan akhirnya masuk rumah sakit jiwa!


Kebetulan sekali keesokan harinya saat makan di kantin, seorang dosen yang bernama Pak Ari datang ke mejaku dan menyapa dengan sangat ramah. Pak Ari ini dosen ilmu seni budaya orangnya nyentrik, sering pakai topi bundar dengan rambut yang panjang. Sepintas gayanya mirip-mirip dengan Nayl. Tapi tentu saja Pak Ari tidak cantik seperti Nayl! Pak Ari juga termasuk salah satu dosen yang populer di kalangan mahasiswa.


"Selamat siang, Vajria" sapa Pak Ari.


"Siang Pak" kataku membalas sapaannya.


"Sendirian saja nih?"

__ADS_1


"Lagi nunggu Lily"


"Saya boleh ikut pesan makanan di meja ini?"


"Boleh, Pak"


Pak Ari memesan satu porsi nasi goreng seperti yang aku pesan. Dia juga memesan dua es campur. "Silahkan diminum es campurnya" kata Pak Ari.


"Ini saya sudah pesan es teh manis"


"Ya gak apa-apa. Sekalian saja. Sayang ini saya sudah pesan dua. Oh ya kalau kamu mau pesan yang lainnya silahkan saja. Nanti saya yang bayar sekalian dengan nasi goreng yang sedang kamu makan sekarang"


"Makasih Pak" aku bingung juga, kenapa tiba-tiba Pak Ari jadi sok akrab begini?


Dan kami pun terlibat obrolan yang cukup seru mengenai seni dan musik. Sampai pada Pak Ari menyinggung soal aku yang sudah tidak tergabung dalam band-ku.


"Iya, saya sudah tidak jadi anggota band Power lagi sekarang" kataku agak sedih.


"Sayang sekali, padahal kamu sudah menyatu sekali dengan band itu! Bapak beberapa kali melihat aksi panggung kamu!"


"Ya mau gimana lagi, Pak"


"Bapak dengar kamu keluar dari band Power karena kamu lebih memprioritaskan Nayl? Pacar kamu itu?"


Aku menghela nafas panjang. "Ya Pak. Saya memang keluar dari band karena saya lebih memprioritaskan Nayl"


"Kamu serius dengan Nayl?"


"Kami sedang menjalani saja"


"Tapi kok Bapak lihat kalian sudah lama tidak bersama, maksudnya biasanya kalian selalu terlihat berduaan kalau sedang jamkos"


"Kami memang sedang dalam masalah. Sudah satu bulan ini kami tidak saling berkomunikasi dan tidak lagi bersama"


"Oh ya?! Kok bisa-bisanya?!"


Aku tidak tahu harus berkata apa, aku melayangkan pandanganku ke sisi barat kantin dan seketika mataku membelalak!


Nayl! Si cantik tampak ada di sudut sana dan memandang ke arah sini dengan tatapan mata indahnya yang terlihat dingin!


"Nayl..." batinku memanggil lirih namanya... Sejak kapan kamu ada disitu, cantik?!


__ADS_1


__ADS_2