
Mobil Ari akhirnya berhenti di depan salah satu rumah dengan pagar besi tinggi. Ari tampak keluar dari dalam mobil dan membuka pintu pagar besi itu. Sepertinya rumah itu memang rumah Ari, karena dia harus membukakan pagar besi itu seorang diri. Hatiku semakin tidak tenang! Untuk apa Ari membawa Vajria ke rumahnya?!
Ari masuk kembali kedalam mobilnya dan memasuki halaman rumah itu, setelah mobil masuk kedalam, Ari kembali turun dari mobilnya untuk kemudian menutup kembali pagar besinya.
Sementara aku masih berada didalam mobil milik Lily. Untuk beberapa saat aku diam mematung karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus turun dari mobil ini lalu dengan tidak tahu malunya mendatangi rumah itu dan membawa Vajria pulang?!
Ah! Aku tidak perduli! Aku harus datang kesana dan membawa Vajria pulang! Kalau perlu aku seret dia keluar dari rumah itu! Tempat Vajria bukan disini! Tapi didalam pelukanku!
Aku memarkirkan mobil Lily dekat dengan pagar besi rumah itu, lalu dengan perlahan aku turun dari mobil dan mendekati pagar untuk kemudian mengintip keadaan didalam halaman rumah itu. Suasana tampak sepi, sepertinya Ari dan Vajria sudah masuk kedalam rumah.
Aku perlahan membuka pagar besi yang untungnya tidak di kunci itu dan memasuki halaman rumah dengan mengendap-endap. Tak lama aku sudah berada didepan pintu masuk rumah itu dan aku merasa bingung. Apakah aku harus mengetuk pintu atau aku langsung membukanya saja?
Sepertinya aku harus langsung membukanya saja! Tidak perlu aku ketuk pintu segala! Makhluk seperti Ari tidak perlu diberikan sedikitpun kesopanan!
Ternyata pintu rumah itupun tidak terkunci! Aku segera masuk kedalam rumah dan mendapati tidak ada siapapun di ruang tamu. Kemana Ari dan Vajria?! Apakah mereka berdua berada didalam kamar?! Seperti apa yang selalu aku dan Vajria lakukan saat sedang bersama?! Berduaan didalam kamar!
Seketika darahku mendidih dan jantungku serasa bergejolak oleh api amarah yang membara! Keterlaluan kalau mereka berdua sampai berduaan didalam kamar! Ari bukanlah aku yang selalu bisa menjaga kehormatan diri Vajria!
Aku segera menuju kamar tidur utama yang tertutup pintunya dan dengan kasar aku langsung membukanya! Pintu tidak terkunci dan langsung terbuka lebar! Seketika mataku membelalak saat melihat Ari sedang membaringkan tubuh Vajria diatas tempat tidurnya!
"B*angsat! S*ialan!" teriakku keras dan dengan satu gerakan cepat aku menerjang kearah Ari dan menjatuhkan satu pukulan keras di wajahnya!
'Bug!'
Ari langsung terjengkang di sisi tubuh Vajria dengan bibir berdarah akibat pukulanku! Aku tidak puas sampai disini, aku cengkram kerah bajunya dan memaksanya untuk berdiri!
"Nayl! Sabar, Nayl! Tenang!" kata Ari dengan wajah mengernyit kesakitan!
"Lo apain cewek gua?!" bentakku!
"Saya hanya menolong Vajria! Dia pingsan di wahana permainan yang kami kunjungi!"
__ADS_1
"Bohong! Lo pasti mau berbuat hal-hal yang gak senonoh sama Vajria!"
"Sumpah, Nayl! Demi Tuhan! Itu kamu lihat sendiri saja bagaimana keadaan Vajria! Dia pingsan!"
Aku melirik Vajria yang memang tampak tidak sadarkan diri. Tapi aku tidak bisa menerima kata-kata Ari yang berkata kalau dia ingin menolong Vajria!
"Kalau Vajria pingsan, kenapa Lo gak bawa di ke rumah sakit?! Kenapa Lo malah bawa dia kesini?! Dasar tua bangka mesum! Kurang ajar!" aku tidak bisa lagi menahan amarah dan kembali memukuli Ari tanpa henti! Tanpa ampun! Tanpa kendali!
Hingga akhirnya aku tersadar saat melihat Ari yang sudah babak belur dengan muka berdarah-darah! Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, aku pasti akan di salahkan karena melakukan tindak penganiayaan! Aku akan di tangkap oleh pihak yang berwajib dan aku akan mendekam di sel! Aku tidak akan bisa bertemu Vajria lagi dalam jangka waktu yang lama!
Aku segera menghentikan pukulan-pukulan ku kepada Ari dan beralih kepada Vajria yang masih terbaring tak sadarkan diri. Aku mengangkat tubuhnya dan kemudian memeluknya erat.
"Kamu nakal, Vajria! Dan ini akibatnya!Aku hampir saja kehilangan kamu! Sekarang kamu harus ikut aku pulang!" bisikku ditelinganya dan membopong tubuhnya keluar dari kamar.
Aku tidak perduli pada tanganku yang berlumur darah dari luka-luka di wajah Ari dan juga mungkin dari luka bakarku yang kembali basah! Aku segera mengeluarkan Vajria dari rumah laknat itu dan memasukkannya kedalam mobil Lily.
Ku dudukkan Vajria di jok depan dan ku pasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Selanjutnya aku segera membawa Vajria pergi dari kompleks perumahan itu! Tujuanku hanya satu! Kos-an ku, karena itulah tempat paling aman untuk Vajria!
Akhirnya aku memutuskan untuk memanggil salah teman kos ku yang kuliah di jurusan kedokteran, namanya Rini. Aku minta dia datang ke kamar kos ku untuk memeriksa keadaan Vajria. Tidak lupa aku segera mencuci tanganku yang penuh noda darah.
Oh ya! Aku juga harus mengganti pakaian Vajria yang model cewek dengan pakaian ku! Aku tidak mau kalau Rini tahu Vajria adalah seorang cewek dan nantinya akan menuduhku yang tidak-tidak kalau sampai ada cewek yang pingsan di kamarku!
Aku melepaskan baju Vajria dan melihat kalau dia memakai bra untuk menutupi dadanya! Sejak kapan dia pakai bra?! Aku menelan ludah sendiri!
Nayl! Ini bukan saatnya *****!
Aku pun segera memakaikan Vajria kaos milikku.
Tak lama, Rini teman kos ku yang ku panggil lewat telepon datang ke kamarku dan segera ku ajak melihat keadaan Vajria.
Dia datang dengan tas alat-alat medisnya.
__ADS_1
"Aduh, Nayl! Teman kamu ganteng banget!" seru Rini saat melihat Vajria.
Tuh kan! Pasti Rini kagum melihat ayang aku yang tampan! Padahal sebenarnya dia cantik dan seksi!
"Iya, dia emang ganteng!" kataku.
"Namanya siapa?! Anak mana?"
"Satu kampus sama aku. Namanya Vajra" aku terpaksa merubah nama Vajria dengan Vajra. Tapi memang selama ini Vajria lebih suka nama Vajra dibandingkan Vajria. Itu sebabnya dia selalu minta dipanggil Ra bukan Ria.
"Wow! Vajra! Halilintar!" seru Rini.
"Aku baru tahu kalau Vajra artinya halilintar"
"Cakep banget ih! Cocok sama namanya!"
"Ya udah sekarang cepet kamu periksa dia!"
"Emang si tampan ini kenapa?"
"Aku nemuin dia pingsan di pinggir jalan"
"Kasihan banget" Rini segera memeriksa keadaan Vajria dengan teliti.
Aku menunggu dengan was-was. Ya Tuhan... Semoga tidak ada sesuatu yang gawat dengan Vajria-ku!
Rini selesai memeriksa keadaan Vajria dan menatap kearah ku. "Temen kamu yang tampan ini sepertinya minum obat tidur dosis tinggi!" katanya.
"Astaghfirullah! Jadi gimana keadaannya?! Bisa sadar apakah harus dibawa ke rumah sakit?" tanyaku khawatir.
"Tidak apa-apa, nanti juga bangun sendiri kalau pengaruh obat tidurnya udah hilang"
__ADS_1