
Semuanya pun kembali seperti semula. Aku kembali bersama dengan si cantik Nayl walaupun sebenarnya aku yang bersalah karena telah meninggalkannya hanya karena satu kesalahan kecil. Padahal aku pernah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan dia dalam keadaan apapun dan akan selalu melindunginya. Tapi ya sudahlah, aku menerima kesalahanku dan akan memperbaikinya.
Hubunganku dengan Nayl pun jadi terlampau jauh. Aku tidak bisa jika tidak membuat dia takluk tak berdaya jika dia sudah ada di dekatku! Aku suka rintihan dan gelinjangnya! Aku suka cara dia memanggil-manggil namaku jika aku sedang menggeluti tubuhnya.
Sebaliknya, Nayl sendiri tidak pernah berusaha untuk mengulangi lagi apa yang pernah dia perbuat kepadaku. Aku menjadi heran karena dia seperti enggan untuk melakukan hal itu kepadaku. Apakah dia berani melakukannya saat aku dalam keadaan tidak sadar saja?
Sepuluh bulan kebersamaan kami pun tiba. Aku mengajak Nayl untuk datang ke rumahku saat hari Sabtu. Saat itu hanya Bi Inah yang ada dirumah karena Kak Fathya belum pulang kantor.
Bi Inah yang tahu kalau aku akan pulang segera menyambut dengan gembira dan layaknya seorang ibu, dia langsung menggiring aku dan Nayl ke meja makan dan menyuruh kami untuk makan siang
"Ayo, Non Vajria. Makan dulu! Sama temennya siapa ini namanya?" kata Bi Inah sambil menyajikan hidangan di atas meja makan.
"Saya Nayl" kata Nayl.
"Oh, ayo ikut makan Neng Nayla!" kata Bi Inah yang membuat mata Nayl langsung mendelik dan bibirnya mengerucut.
"Hahahaha!" aku tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa Non Vajria malah tertawa?" tanya Bi Inah bingung.
"Ini cowok, Bi. Namanya Nayl, bukan Nayla!" kataku.
Bi Inah jadi bengong. "Ya Allah...! Maaf ya, Bibi kira cewek, abis cantik banget" kata Bi Inah dengan wajah pucat karena takut Nayl kesal padanya.
"Gak apa-apa, Bi" kata Nayl.
"Dia memang cantik, Bi" kataku sambil mengacak rambut Nayl.
"Sekarang kalian makan ya! Pasti udah pada lapar" kata Bi Inah.
Aku pun makan bersama Nayl dan setelah itu kami duduk-duduk berdua di ruang TV sambil nonton. Aku dan Nayl duduk di atas sofa. Nayl seperti biasa dengan manja-nya duduk sambil bersandar di bahuku. Aku pun membelai-belai rambut panjangnya sambil sesekali menciumnya.
Aku slalu bermimpi tentang
__ADS_1
indah hari tua bersamamu.
Tentang cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi.
Aku menyanyikan lagu milik Virgoun itu untuk Nayl-ku yang cantik...
Pukul Tiga sore itu, Kak Fathya muncul di rumah dengan tunangannya, Kak Arga. Mereka sudah dua tahun menjalin pertunangan saat Kak Fathya baru lulus kuliah. Mereka dulu kuliah di kampus yang sama dan berpacaran sejak saat itu. Sekarang Kak Arga juga sudah bekerja di sebuah perusahaan yang menjadi klien di perusahaan keluargaku yang di pegang oleh Kak Fathya.
Kak Fathya bertemu denganku di ruang TV dan aku masih bersama Nayl.
"Vajria, kapan kamu pulang?" tanya Kak Fathya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
"Tadi jam sebelasan" jawabku lalu mencium tangan Kak Fathya beserta Kak Arga.
"Hai Vajria" sapa Kak Arga.
"Hai Kak. Oh ya. Ini kenalin temen deket aku, Nayl" aku memperkenalkan Nayl kepada mereka.
Berbeda dengan Kak Arga yang langsung menjabat tangan Nayl dengan senyuman ramah, sebaliknya Kak Fathya menerima uluran tangan Nayl dengan wajah dingin dan datar.
"Iya Kak" jawab Nayl.
"Jadi kamu yang sering di ceritakan Alvin sebagai cowok gak jelas yang sudah merebut Vajria dari tangannya?" nada suara Kak Fathya terdengar mulai tidak enak.
"Iya, memang saya" jawab Nayl sopan.
"Berapa usia kamu sekarang?"
" Dua puluh enam tahun"
"Kamu satu tahun dibawah aku. Kamu tahu sedang dekat dengan siapa?" nada suara Kak Fathya makin terdengar tidak enak.
"Dengan Vajria"
__ADS_1
"Kamu cari tahu dulu siapa gadis yang sedang kamu dekati sebelum kamu berani mendekatinya!"
Aku tidak bisa melihat bagaimana Kak Fathya menekan dan mengintimidasi Nayl seperti itu! Maka aku segera berdiri diantara mereka untuk membela si cantik kesayanganku.
"Udah, Kak! Aku dan Nayl sudah memutuskan untuk selalu bersama dan Nayl tidak merebut aku dari Alvin karena aku memang tidak ada hubungan dengan Alvin" kataku.
"Vajria! Alvin sudah cerita semuanya sama kakak, tentang bagaimana Nayl melabraknya agar tidak lagi berhubungan dengan kamu! Padahal kamu dan Alvin sudah dekat sejak kalian di bangku SMA dan keluarga juga sudah sama-sama mendukung!" kata Kak Fathya.
"Tapi aku sukanya sama Nayl! Aku tidak perduli apakah ada yang mendukung hubungan kami atau tidak!"
Aku rasanya tidak tega melihat bagaimana Nayl-ku yang tetap tersenyum walaupun Kak Fathya berkata-kata seperti itu padanya. Aku tahu betul bagaimana lembutnya hati Nayl.
"Kamu masih punya keluarga dan kamu harus mendengarkan apa kata keluarga kamu!' kata Kak Fathya lagi.
Kak Arga yang sedari tadi diam saja mencoba untuk menenangkan Kak Fathya dengan memegang lengannya. "Udah, sayang. Mereka berdua kan saling mencintai. Kenapa kita harus melarang mereka?" katanya bijak.
"Tapi cowok ini belum ada masa depan cerah seperti Alvin!" kata Kak Fathya.
"Aku juga waktu dekat sama kamu belum ada masa depan. Kita berdua masih kuliah di kampus yang sama. Begitupun Vajria dan Nayl. Saat ini mereka kuliah di kampus yang sama" kata Kak Arga lagi.
Kak Fathya memandang marah pada Nayl. "Kamu buktikan kalau kamu pantas untuk bisa menjadi pasangan Vajria!' katanya tegas.
Nayl tetap tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Kak. Makasih atas kesempatannya untuk saya boleh berusaha untuk membuktikan bahwa saya pantas untuk Vajria. Saya sangat serius pada Vajria dan saya akan memperjuangkannya sampai kapanpun!" kata Nayl sambil merangkul bahuku.
Aku tidak menyangka kalau Nayl punya keberanian untuk berkata seperti itu pada Kak Fathya. Saat ini jiwa cowoknya muncul secara tiba-tiba terlihat sangat jelas.
Aku pun tak ingin banyak bicara lagi dengan Kak Fathya yang keras kepala. Aku memutuskan untuk segera membawa pulang ke kos-an ku.
"Cantik, maafkan Kak Fathya ya? Aku tidak menyangka kalau dia akan berkata seperti itu sama kamu" kataku saat kami sudah sampai di kos-an ku dan si cantik Nayl sudah bersandar manja di bahuku.
"Gak apa-apa, ayang. Semua kakak pastikan ingin yang terbaik buat adiknya" kata Nayl tapi aku tahu bagaimana kesedihan hatinya.
"Tapi kamu sedih kan?"
__ADS_1
"Aku sedihnya kalau kamu ninggalin aku..." Nayl menarik kepalanya dari bahuku dan menatapku dengan tatapan sayu.
Aku mendekap erat Nayl dan menciumi rambutnya. "Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, cantik! Kita akan sama-sama buktikan pada Kak Fathya kalau kita tidak akan terpisahkan!"