
Ketika terbangun di pagi menjelang siang, (aku memang sengaja tidak menyetel alarm di HP ku pada hari Minggu seperti ini) aku tidak mendapati Nayl ada disisiku. Aku seketika langsung bangkit dari berbaring dan mencari si cantik.
Ternyata Nayl sedang sibuk mencuci baju-baju kotor ku yang memang sudah segudang! Aku tidak pernah mencuci baju-baju kotor ku karena selalu membawanya pulang ke rumah pada akhir pekan untuk di cuci di rumah oleh asisten rumah tangga ku.
Nayl tampak mengikat rambutnya dengan tali sepatu karena aku memang tidak punya ikat rambut. Dia tampak begitu fokus mencuci baju-baju kotor ku.
"Ya ampun, Nayl! Kamu apa-apaan sih?! Kok nyuci baju segala!" kataku prihatin.
"Banyak sekali lho baju kotornya!" kata Nayl.
"Tapi kan nanti aku bisa bawa pulang ke rumah!"
"Kamu ini udah gede masih belum bisa cuci baju sendiri! Ke rumah itu bawa oleh-oleh buat keluarga! Bukannya bawa baju kotor!"
"Udah ah! Cepat keluar dari kamar mandi! Biar aku yang lanjut cuci bajunya!"
"Gak apa-apa, ini tinggal di bilas aja kok! Kamu sarapan sana! Aku udah siapin"
"Wah, bikin apa kamu?!"
"Mie goreng instan sama kopi hitam. Cuma itu yang ada di lemari kamu! Aku gak berani ke warung! Takut ketahuan nginep disini! Malu!"
"Alah, paling kamu dikira cewek!"
"Ya enggaklah, aku masih berbentuk cowok kok!"
"Kamu udah makan?"
"Udah barusan. Isi tenaga dulu sebelum nyuci"
Aku menghampiri meja makan minimalis yang ada di samping kamar mandi dan melihat mie goreng instan dan kopi hitam panas yang sudah Nayl siapkan untukku. Aku dengan lahap segera menghabiskannya.
"Makasih ya, Nayl. Kamu udah bikinin aku sarapan, nyuci baju ku" kataku setelah makan.
"Sama-sama, Ra. Tapi kok kamu pakai CD cowok?! Aku lihat gak ada CD cewek dan juga bra di tumpukan baju kotor kamu? Adanya CD cowok sama kaos dalam cowok juga" tanya Nayl bingung.
"Mana punya aku yang begituan?!"
"Tapi dada kamu besar, Ra! Gak nyaman lho kalau kamu gak pakai bra! Atau minimal kamu pakai tanktop!"
"Kata siapa dadaku besar?!"
"Kan semalam aku pegang"
"Dasar nakal! Jadinya aku garap kamu kan?!"
"Iya ih! Kamu jahat, Ra! Kamu perlakuan aku seperti cewek! Nanti lama-lama aku jadi cewek betulan!"
__ADS_1
"Kenapa tidak melawan?!"
"Aku juga suka sih..."
"Nanti kita lakukan lagi kalau kamu suka!"
"Enggak ah! Jangan sekali-kali lagi, Ra! Aku bisa kelepasan!"
"Kelepasan gimana?!"
"Aku semalam nahan banget untuk enggak melakukan hal yang sama ke kamu"
"Awas saja kalau kamu berani!"
"Ya makanya!" Nayl keluar dari kamar mandi dengan satu ember besar berisi baju yang sudah di cucinya. "Nih, kamu jemur sendiri!"
"Iya" aku mengambil ember itu dari tangan Nayl, tidak lupa mencium pipinya dan mengucapkan terima kasih setelah itu aku segera menjemur pakaian ku.
Saat itulah Lily, teman kuliah sekaligus tetangga satu kos-an denganku menghampiriku dan mencolek bahuku. "Ra, kamu bawa Nayl nginep ya?!" tanyanya.
"Iya, semalam dia gak enak badan abis manggung. Ya aku bawa kesini aja!" jawabku.
"Awas ketahuan Ibu kos lho! Bawa cowok boleh tapi jangan nginep!"
"Paling dianggap Nayl adalah cewek! Hahahaha!"
"Iya, kamu tenang aja! Aku gak ngapa-ngapain Nayl kok!"
"Ih Vajria! Aku takutnya kamu yang di apa-apain sama dia!"
"Mana bisa dia ngapa-ngapain aku?!"
"Kamu ini! Bagaimanapun dia cowok, Ra!"
"Gak ada yang terjadi kok, Ly! Aku baik-baik saja!"
"Oke, aku percaya kamu"
Aku selesai menjemur pakaian dan kembali masuk kedalam rumah. Nayl tenyata sedang sibuk beres-beres. Pegang sapu dan juga lap.
"Kamu ngapain lagi?!" tanyaku jengkel karena Nayl tidak mau diam! Ada saja yang dikerjakannya!"
"Beres-beres kamar kamu" jawabnya santai.
"Ribet amat sih jadi orang!"
"Ribet gimana?! Ini kamar kamu penuh debu dan sampah!"
__ADS_1
"Namanya juga kamar cowok!"
"Aku cowok tapi gak berantakan kaya kamu!"
"Lha kamu kan cewek!"
"Berhenti bilang aku cewek, Ra! Aku tadi denger kamu bicara sama temanmu itu, si Lily. Dia bilang bagaimanapun aku ini cowok!"
"Ya deh, kamu cowok! Cowok cantik yang sudah berhasil aku taklukan!"
"Nah, kalau begitu aku lebih suka!"
"Kamu adalah seorang definisi cowok cantik!"
"Kenapa sih banyak sekali orang yang bilang aku cantik?!" Nayl memukul kepalanya sendiri!
"Oh ya, Nayl. Aku mau pulang ke rumah hari ini. Kamu mau ikut?"
"Enggak ah. Lain kali aja"
"Mendingan ikut. Nanti aku kenalin sama kakakku"
"Kamu punya kakak?"
"Ya, kakak perempuan"
"Cantik seperti kamu?"
"Dia mah cantik banget! Aku sih ganteng!"
"Ganteng dan cantik!"
"Idih alah!"
Hari itu aku pun pulang ke rumah dan bertemu dengan kakak perempuanku, namanya Fatya. Orangnya cantik dan juga berkerudung modis. Kak Fathya sudah lulus kuliah dan ikut bekerja di perusahaan milik Papa. Kak Fathya adalah seorang wanita yang sangat pintar dan ambisius. Dia juga sangat ferfeksionis, tidak sepertiku yang tomboi dan semaunya.
Oh ya, aku adalah bungsu dari dua bersaudara. Papa ku adalah seorang pengusaha batu bara yang sukses tapi tidak pernah ada waktu untuk dua anaknya. Papa lebih sering berada diluar pulau Jawa untuk mengurus proyek batu bara nya yang berada di Kalimantan. Sementara perusahaan utama yang berada di Bandung di pegang oleh Kak Fathya. Sementara Ibuku sudah lama berpulang dan Papa tidak memiliki istri lagi.
Aku sebetulnya selalu merasa kesepian sejak Ibuku meninggal dunia. Saat itu aku baru masuk SMP dan Kak Fathya sudah mulai kuliah di luar kota. Otomatis aku menjalani masa remajaku hanya bersama dengan seorang asisten rumah tangga yang sudah tua bernama Bi Inah.
Karena itulah aku lebih suka bergaul dan berpenampilan layaknya seorang cowok. Apalagi memang semenjak SD aku sudah merasakan ada yang berbeda denganku yaitu aku merasa kalau aku lebih memiliki kepribadian cowok ketimbang cewek. Makanya pada saat SMP dan kurang perhatian dari keluarga juga, aku bebas untuk menentukan jati diriku yang lebih senang tampil sebagai seorang cowok!
Dunia memang aneh, saat aku memiliki kepribadian seperti ini aku justru di pertemukan dengan Nayl. Seorang cowok yang cantik dan manis. Aku jatuh cinta padanya dan kami tidak melanggar kodrat karena kami tidak menjalin cinta sejenis!
Tapi pada kenyataannya cintaku dengan Nayl tidak berjalan selalu mulus. Ada saja orang yang tidak suka kepada hubungan kami. Dan cobaan pertama dalam hubunganku dengan Nayl justru datang dari teman satu band ku sendiri, Bondan!
Malam itu saat aku baru pulang dari rumah keluargaku, aku segera di hampiri oleh Lily yang tampaknya memang sudah sedari tadi menungguku didepan teras kos-an.
__ADS_1
"Ra! Ini gawat, Ra!" kata Lily tampak panik.