Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 8 : Cinta Kita


__ADS_3

Aku memarkirkan motorku secara asal-asalan karena Lily sudah menarik jaketku dengan tergesa-gesa.


"Ada apa sih, Ly! Heboh amat!" tanyaku seraya melepaskan helm yang kupakai.


"Sini!" Lily mengajakku untuk duduk di kursi plastik yang ada didepan teras kos-anku. "Apa kata aku tadi pagi?! Kamu tidak boleh mengajak Nayl menginap disini! Sekarang tahu rasa kamu akibatnya!"


"Ada apa memang?!" aku kebingungan.


"Memangnya kamu gak liat di grup WA kelas kita?! Kamu udah viral! Ya Allah, Ra! Kamu ngapain semalam sama Nayl?!!!" lalu begitu berapi-api!


"Aku belum buka grup WA kelas kita. Sebentar aku cek dulu!" aku mengeluarkan HP dari saku jaket dan memeriksa grup WA kelasku. Seketika mataku membelalak saat melihat isi grup WA kelasku yang sudah ramai menggunjingkan aku dengan Nayl!


Awalnya ada sebuah video yang dikirimkan oleh Bondan. Videonya berisi tentang saat dia pulang ke kos-an pada pukul dua dini hari tadi, ada caption yang tertulis disana :


pulang nge-band jam segini eh gak taunya ada teman kos-an gue yang belum tidur, guys!


Kemudian terlihat dalam video kalau


Bondan mendekatkan HP-nya ke atas ventilasi yang ada di atas pintu kamar kos-an ku (mungkin dia naik keatas kursi plastik karena ventilasi kamarku cukup tinggi) dan terdengar suara de*sahan Nayl yang luar biasa berisik dan pastinya membuat bulu kuduk siapapun akan berdiri karena tidak akan sanggup membayangkan bagaimana kejadiannya sampai dia ribut mendesah seperti itu!


Selanjutnya bisa dibayangkan bagaimana ributnya grup WA kelasku! Mana didalam grup WA itu juga ada para dosen pembimbing sebagai anggota grup!


"Gila banget si Bondan!" rutukku marah besar!


"Kamu juga sih?! Ngapain kamu sama Nayl?! Kamu apakan dia sampai dia histeris seperti itu?!" desak Lily.


"Aku tidak apa-apain dia kok! Aku cuma nyiumin dadanya aja!"


"Ya ampun, Ra! Masa sih cuma itu saja?!"


"Betulan kok! Emangnya aku apain lagi?! Dianya aja yang rusuh! Di gituin aja berisik!"


"Tapi suaranya seolah kamu sedang memperkosa dia, Ra! Aku kan sering dengar suara seperti itu di film BL petir merah!"


"Enggak, Ly! Aku tidak sampai sejauh itu!"


"Aku kira kamu udah gituin Nayl lho! Sumpah!"

__ADS_1


"Ya enggaklah! Aku akan menemui Bondan sekarang juga!"


"Gak ada, aku udah nemuin dia tadi tapi katanya dia pulang dulu ke rumahnya"


"Brengsek!"


"Kamu pasti dipanggil besok untuk sidang di ruang dosen bareng Nayl!"


"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan pada Nayl!"


"Ya ampun, Ra! Kamu sebegitunya mencintai Nayl?!"


"Iya! Aku mencintai Nayl!"


"Alvin gimana?!"


"Alvin?"


Aku jadi ingat Alvin, teman masa SMU sekaligus kakak kelas yang memang selama ini selalu mendekatiku. Alvin kini kuliah di luar kota tapi dia selalu rutin mengunjungiku ke kampus ataupun ke kos-anku. Alvin juga sudah dikenal baik oleh Papa dan Kak Fathya karena Papanya Alvin adalah klien penting mereka. Sudah beberapa kali Alvin menyatakan cinta tapi aku tidak ada rasa tertarik sama sekali kepadanya.


"Gak ada apa-apa dengan Alvin" kataku.


"Belum aku terima ah"


"Tapi kan kalian rutin ketemu dan kalian selalu kencan berdua!"


"Ya tapi kami cuma makan dan nonton bareng aja!"


"Gimana sekarang setelah ada Nayl?! Gak bisa aku bayangkan bagaimana cemburunya seorang Nayl kalau melihat Alvin datang mengunjungimu!"


"Aku pasti bisa jelasin! Nayl itu pengertian kok!"


Lily mencibir! "Nayl pengertian?! Hahahaha! Kamu lawak deh! Sudah seringkali aku juga di cemburuin sama dia! Dia selalu curiga kalau aku jalan bareng kamu! Awas ya Lily kalau kamu berani merebut Vajria-ku!, Katanya! Seolah aku ini cewek yang mau mengambil cowoknya! Padahal kan kamu cewek!"


"Nayl emang gitu, tapi bisa di kasih pengertian kok!"


"Ya terserah kamulah! Yang penting sekarang kamu pikirkan masalah video syur kamu sama Nayl!"

__ADS_1


Dan keesokan harinya pun di kampus sudah heboh dengan pemberitaan ku dengan Nayl. Terutama di kelas jurusan kami masing-masing.


Nayl sendiri segera menghampiriku dan menggenggam tanganku. "Kamu gak apa-apa, Ra?!" tanyanya panik.


Aku meremas tangannya yang menggenggam tanganku. "Gak apa-apa, aku yang justru takut kalau kamu yang kenapa-kenapa, Nayl!"


"Peristiwa ini memang tidak enak buat kita berdua. Tapi kita kudu kuat, Ra! Cinta kita tidak boleh terbelah walaupun banyak orang yang tidak suka dengan hubungan kita! Mereka cuma sirik sama kita!"


Aku mengacak-acak gemas rambutnya, "Kamu benar, cantik! Cinta kita tidak boleh terpecah!"


Aku dan Nayl pun benar-benar di panggil oleh dosen pembimbing ke ruangan dosen tapi bukan cuma kami, ada Bondan juga disana.


Aku yang emosi langsung menghampiri Bondan dan meremas kerah bajunya! Kebetulan belum ada seorangpun dosen di ruangan tersebut.


"Maksud Lo, apa?! B*ngsat!" bentakku dan dengan marahnya langsung meninju wajah Bondan!


Bondan sedikit terhuyung dan menyeka wajahnya dengan tangan, dia tidak membalas pukulanku. "Ini semua karena Lo juga yang udah bikin band kita hancur! Semalam kami manggung tanpa Lo dan berantakan! Lo udah terpengaruh sama cowok Lo yang gak jelas itu!" teriak Bondan marah!


"Tapi gak gini juga caranya!" aku maju dan hendak memukulnya lagi!


"Udah, Ra! Udah!" Nayl merangkul bahuku dan mengusap-usapnya.


"Semua gara-gara Lo! Kalau bukan karena cinta mati sama Lo, Vajria gak mungkin ninggalin band yang udah dua tahun lebih digawanginya! Dasar cowok gak jelas! Katanya sakit tapi ternyata cuma mau gituan aja sama ceweknya di kos-an!" Bondan malah balik marah pada Nayl!


"Bondan! Tutup mulut Lo! Jangan nyalahin Nayl atas masalah ini!" aku membentak Bondan!


Saat itulah Bu Sri yang adalah dosen pembimbingku muncul di ruangan itu bersama dengan Pak Gito yang adalah dosen pembimbing Nayl.


"Hey! Kenapa kalian jadi ribut di ruangan dosen?!" bentak Pak Gito marah!


Aku, Nayl dan Bondan pun terpaksa menghentikan pertengkaran diantara kami.


"Maaf, Pak" kataku.


Dan sidang pun dimulai. Aku dan Nayl beserta Bondan di marahi habis-habisan oleh dosen pembimbing kami. Kami pun menerima semua kemarahan itu dengan lapang dada karena merasa kalau kami memang salah.


Selanjutnya kami juga membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani kalau kami berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Untungnya hal ini tidak sampai membawa pihak orang tua, karena tidak dapat ku bayangkan kalau sampai Kak Fathya sampai dipanggil karena masalah ini.

__ADS_1


Semenjak itupun aku resmi berhenti berkawan dengan anggota mantan band ku. Aku justru semakin dekat dengan band Nayl dan kawan-kawannya.


__ADS_2