
Nayl memeluk erat tubuhku, di ciumnya pipiku kiri kanan. "Kamu cantik banget, Ra! Kenapa kamu tidak pernah dandan cantik seperti ini saat dulu kita masih bersama?" bisiknya.
Kita masih bersama, Nayl... Raga kita boleh terpisah tapi hati kita tetap dekat...
"Aku lagi pengen aja..." jawabku sekenanya.
"Ya sudah, sekarang kamu sarapan. Aku pulang dulu. Hati-hati di jalan ya..."
Nayl melepaskan diri dan berjalan mundur perlahan menjauhiku.
"Nayl... Bilang kalau kamu ingin aku tetap disini bersama kamu! Bilang kalau kamu tidak rela aku pergi! Bilang, Nayl! Aku pasti akan tetap disini bersamamu!" jerit batinku berharap Nayl bisa mendengar dan berkata padaku untuk jangan pergi...
Tapi Nayl sama sekali tidak berkata apa-apa! Nayl keluar dari kos-an ku dan menghilang di balik pintu...
Air mataku seketika tumpah ruah!
Aku mengambil tas plastik hitam yang tadi dibawa Nayl dan memeriksa isinya. Ada sebuah tuperware kotak berisi nasi goreng. Aku segera mengeluarkannya dari dalam plastik dan memakan isinya dengan lahap sambil bercucuran air mata... Mungkin ada beberapa tetes air mata yang jatuh kedalam nasi goreng itu dan tetap ku makan!
Nasi goreng terenak yang pernah ku makan dan nasi goreng ini sangat besar artinya untukku! Nayl sampai terluka karena memasakkan aku nasi goreng ini...
Nayl... Aku kangen banget masakan kamu... Aku kangen banget semua tentang kamu... Aku kangen kamu!
Selesai memakan nasi goreng buatan Nayl, aku kembali merapikan riasan wajahku yang agak berantakan karena terkena air mata.
Aku lalu keluar dari kos-an dan menunggu Pak Ari di depan rumah. Lily yang juga baru keluar dari kamarnya tampak kaget dan takjub melihat bagaimana penampilanku pagi ini.
"Astaga, Vajria?! Ini aku gak mimpi kan?!" pekik Lily seraya menekap kedua belah pipiku.
"Kenapa harus mimpi?!" tanyaku.
"Kamu cantik banget! Luar biasa! Ya Allah... Cantik sekali sahabatku!"
"Ah biasa aja!"
"Aku gak nyangka kalau ternyata kamu juga punya baju cewek!"
"Dari Kak Fathya"
__ADS_1
"Akhirnya kamu perlahan jadi cewek!"
"Haha! Besok juga aku kembali jadi cowok kok!"
"Kamu mau jadi cewek apa cowok juga tetep kamu adalah sahabat terbaik aku!" kata Lily.
"Kamu juga sahabat terbaik aku, Ly!"
Tak lama kemudian Pak Ari pun datang menjemputku, Aku pun ikut dengan mobil Pak Ari menuju sebuah pusat wahana permainan.
Tapi sepanjang perjalanan hingga tiba disana, aku kehilangan semangat untuk bermain... Aku tidak lagi antusias dan jiwaku seolah tidak berada dalam ragaku...
Aku ingat Nayl si cantik! Sedang apa dia sekarang?! Luka di tangannya sudah mendingan apa belum?! Perih atau tidak? Bagaimana perasaannya saat aku mencium keningnya tadi? Lalu kenapa dia balas memelukku dengan erat?
"Vajria, are you oke?!" tanya Pak Ari pada suatu saat ketika kami makan siang di sebuah restoran yang ada di area wahana permainan tersebut.
"Saya oke, Pak" jawabku.
"Kamu sejak dari kita berangkat sampai pada saat ini sepertinya tidak terlihat bersemangat. Apakah kamu sakit? Atau kamu mau pulang saja?"
"Kamu mau saya antarkan pulang?"
"Tapi kita mainnya kan baru sebentar. Jadi gak enak sama Bapak. Udah beli tiket mahal"
"Tidak apa-apa, Vajria. Kalau kamu tidak enak hati, kita pulang saja ya?!"
"Iya deh, Pak"
Pak Ari kemudian mengajakku kembali ke mobilnya dan segera meninggalkan tempat wahana permainan itu.
Dalam hati aku merasa ingin segera pulang. Tapi bukan untuk beristirahat! Aku ingin pulang untuk kemudian menemui Nayl di kos-annya! Aku ingin memeluk dan menciumnya! Akan aku katakan padanya kalau aku tidak sanggup lagi untuk berpisah dengan dia! Waktu lima minggu sudah cukup untuk aku mengerti arti kehadirannya dalam kehidupanku!
Aku minta maaf Nayl... Aku ternyata tidak bisa lebih lama lagi terpisah denganmu! Aku akan kembali kepadamu walaupun kamu belum tentu bisa menerima aku lagi.
Aku sayang kamu, Nayl... Aku cinta kamu...
__ADS_1
Aku tidak sanggup melihat luka di tanganmu tadi... Aku tidak bisa tenang sementara kamu menahan rasa sakit... Aku akan segera datang untuk merawat luka bakar di tanganmu itu...
Pak Ari menyerahkan satu botol air mineral padaku, "Nih minum, Vajria. Wajah kamu pucat sekali" katanya.
Aku menerima botol air mineral itu dan segera membuka kemasannya. Aku minum hingga setengahnya. Aku menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalaku di sandaran kursi mobil.
Dan entah kenapa tiba-tiba rasa kantuk yang teramat berat menyerangku...
Aku pun tertidur pulas...
*****
Nayl POV
Lima minggu sudah aku hidup tanpa adanya Vajria disisiku. Aku merasa kehilangan arah. Aku merasa tidak ada semangat. Aku merasa tidak sanggup lagi...
Aku membutuhkan Vajria, bukan hanya karena aku mencintainya, tapi aku tidak bisa hidup tanpanya... Aku merasa gila dan kadang ingin menghilang dari dunia ini kalau saja aku tidak ingat kepada Ayah dan Ibuku...
Hidup tanpa Vajria berat sekali... Apalagi saat malam-malam yang dingin dan sunyi. Aku selalu terbayang akan kebersamaan yang pernah aku lalui bersamanya...
Benar apa kata lirik lagu-lagu Slank yang sering aku mainkan dengan gitarku.
Terlalu manis untuk dilupakan.
Kalau kami memang tidak pernah saling cinta, mungkin takkan terjadi...
Aku bagai ikan tanpa air...
Aku bagai hiu tanpa taring...
Aku bagai pantai tanpa lautan...
Dan yang paling menyakitkan hatiku, sudah satu minggu ini Vajria dekat dengan seorang dosen sok gaya bernama Pak Ari yang penampilannya seperti aku, ala-ala rocker tapi aku berani bertaruh kalau pengetahuannya tentang musik rock tidak akan sedalam aku!
Vajria tampak nyaman dan ceria bersama Pak Ari yang lebih cocok sebagai Om-nya. Aku sendiri tidak bisa melarang walaupun aku merasa tidak rela! Aku tidak ada komunikasi lagi dengan Vajria semenjak pertengkaran yang terjadi waktu itu... Aku malah sudah menghapus nomor HP- nya karena aku khawatir tidak bisa menahan rasa keingintahuan akan statusnya kalau aku masih menyimpannya.
Dan akhirnya hari ini aku tidak tahan lagi untuk tidak menemui Vajria, ayang aku yang cantik tapi juga tampan! Pagi-pagi aku sudah memasak nasi goreng untuk sarapannya yang akan aku kirim langsung ke kos-annya. Walaupun akhirnya tanganku harus mengalami luka bakar akibat terkena minyak panas!
__ADS_1
Tapi sumpah, ini tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa panas hatiku saat melihat Vajria-ku berdekatan dengan Ari si tua bangka berbahaya itu! Aku tahu kalau Vajria hari ini akan pergi ke sebuah pusat wahana permainan bersamanya! Aku mendengar rencana mereka saat aku menguntit mereka kemarin siang di kampus!