Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 9 : Kehadiran Alvin


__ADS_3

"Hai, Vajria" sapa Alvin yang siang itu hadir di kelasku. Alvin yang tampan dan memiliki definisi seorang cowok yang sempura. Selain tampan dia juga baik, keren, tinggi, putih dan kaya raya. Tapi aku cuma menganggap Alvin sebagai teman biasa walaupun sudah beberapa kali Alvin meminta aku untuk mau menjadi kekasihnya.


Kak Fathya dan Papaku juga sempat menyinggung tentang Alvin saat kami kebetulan sedang bersama. Mereka mendukung jika aku mau menerima Alvin, tapi aku katakan kepada mereka kalau kami cuma teman saja.


"Hai Alvin! Kapan pulang dari Jakarta?!" Tanyaku pada Alvin yang memang sedang berkuliah di ibukota.


"Kemarin sore" jawab Alvin sambil duduk di sebuah kursi yang ada di kelasku.


"Mana oleh-olehnya?!"


"Nih!" Alvin memberikan satu buah paperbag kepadaku.


Aku melihat isinya, ada sebuah jaket klub bola keluaran terbaru favoritku! "Ih makasih banget!" seruku senang!


"Sama-sama. Kita makan siang bareng yuk?!" ajak Alvin.


"Gimana ya?!" aku seketika ingat sama Nayl. Aku celingukan mencari Nayl yang biasanya sudah datang ke kelasku. Tapi Nayl tidak nampak sama sekali.


"Kenapa?! Kok ragu?! Gak biasanya kamu mikir dulu kalau aku ajak makan" kata Alvin.


"Aku mau ajakin seseorang buat makan bareng kita"


"Oh ya?! Siapa?!"


"Namanya Nayl"


"Teman baru kamu?!"


"Ya, teman baru sekaligus teman dekatku"


"Mana dia?!"


"Aku telepon dulu dia sebentar ya?!" aku segera menelepon Nayl. Langsung tersambung dan diangkat olehnya.


"Halo, Ra?!"terdengar suara Nayl.


"Nayl, kamu dimana?! Kita makan bareng yuk?!" ajak ku.


"Enggak ah!" Nayl menolak.


"Kenapa?!"


"Aku ada latihan sama anak-anak"


"Oh... Ya udah deh..." aku sedikit kecewa... Tapi aku mencoba untuk memahami Nayl karena main musik bersama bandnya adalah sebagian dari hidupnya.


"Maaf ya, Ra" kata Nayl.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa. Aku jalan bareng sama Alvin dulu ya?!"


"Alvin itu siapa kamu?! Aku barusan lihat dia menuju kelas kamu dan nanyain kamu ke Lily. Aku tanyain sama Lily, katanya namanya Alvin"


"Teman waktu SMU dulu"


"Sampai kesini buat ajak kamu makan?"


"Iya kan dia kuliahnya di Jakarta. Jadi kalau dia lagi pulang ke Bandung, pasti nengokin aku"


"Kamu dekat sama dia?" ada nada suara yang tidak enak terdengar dari Nayl.


"Nanti deh aku ceritakan semuanya. Aku jalan dulu. Kamu latihannya yang rajin ya?! See you"


"See you..."


Aku menutup teleponku dan melirik Alvin yang tampak bete. "Mau izin makan baewuaku aja ampe bertele-tele gitu!" katanya.


"Maaf, Nayl emang gitu. Suka ambekan"


"Ya sudah, jalan yuk!"



Aku pun pergi bersama Alvin dan makan bareng dengannya. Setelah itu kami pergi ke mall dan belanja beberapa pakaian untukku. Alvin memang rutin mengajakku shoping ataupun nonton kalau dia pulang dari Jakarta.


Paham sekali aku kalau Nayl sedang kesal!


"Hai cantik!" sapaku seraya mencium pipinya.


"Apa sih cium-cium aku didepan rumah! Mau viral lagi kaya waktu itu?!" tanyanya dengan nada sok kesal!


"Biasanya juga suka aku cium!" godaku sambil membuka pintu kos-an. "Udah lama kamu disini?!" tanyaku kemudian.


"Sudah lima belas menit!" jawabnya.


"Oh, baru sebentar. Masuk yuk, cantik!"


"Berhenti memanggilku cantik!"


"Kok galak banget sih?!" aku mencubit pipi Nayl.


"Biarin! Kamu-nya juga bikin aku marah!"


"Kenapa kamu marah?" aku masuk kedalam kamar kos-an dan Nayl segera mengikutiku.


"Kenapa gak sekalian kamu ajak aja cowok ganteng itu kesini?!" tanya Nayl.

__ADS_1


"Maksudmu Alvin?!" aku balik bertanya.


"Ya, dia ganteng kan?!"


"Iya, ganteng banget dia mah!"


"Ih! Kamu nyebelin!" Nayl tampak marah dan mencubit lenganku dengan keras!


"Ih, sakit tahu! Kok pake acara nyubit segala?!"


"Beraninya kamu bilang kalau si Alvin itu ganteng banget didepan aku! Kamu jahat sekali, Vajria!"


"Kamu ini kenapa sih, Nayl? Uring-uringan terus?!" aku mengacak rambutnya.


"Mana bisa aku biasa aja setelah aku mergokin kamu kencan seharian sama cowok lain! Apalagi kamu bilang kalau dia itu ganteng banget!"


"Ya ampun, Nayl. Kamu cemburu sama Alvin?!"


"Iyalah! Apalagi kata Lily, Alvin itu udah lama suka dan pengen kamu jadi pacarnya?! Awas saja kamu kalau main-mainin aku, Ra! Kamu udah bikin aku jatuh cinta setengah mati sama kamu!"


Aku merasa ada maksud yang sangat serius dari perkataan Nayl, aku segera membawanya kedalam pelukanku. "Kamu gak boleh bilang begitu, Nayl! Aku sayang kamu dan gak akan main-mainin kamu! Aku janji!" aku menciumi pipinya berkali-kali.


"Kalau begitu aku minta kepastian sekarang juga! Aku mau kamu bilang kalau kamu adalah pacarku! Aku mau kita jadian resmi dan kamu nembak aku!"


"Oke, oke!" aku pikir tidak ada salahnya kalau aku meresmikan hubunganku dengan Nayl. Kami sudah sejauh ini dan kami sudah tidak mungkin bisa di pisahkan lagi. Lagipula bukankah sudah cukup lama aku mengenal Nayl, sudah hampir enam bulan dan itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan hatiku kalau Nayl adalah seorang yang terbaik untukku!


Aku memegang kedua belah pipi Nayl dan menatapnya dalam-dalam. "Nayl Sayang, yang cantik, yang baik. Kamu mau gak jadi pacar aku? Jadi orang yang selalu aku sayangi, aku temani dan aku cintai?"


Nayl tersenyumlah dan menganggukkan kepalanya. "Ya, Aku mau, Ra!"


Aku langsung mencium keningnya dan mengecup bibirnya. Niatnya hanya ciuman lembut saja tapi entah kenapa Nayl tiba-tiba merangkul leherku dan menciumi bibirku dengan ganasnya. Sepertinya dia ingin membalas dendam karena aku pernah menciumi dadanya seganas saat dia menciumku sekarang!


Aku tidak tinggal diam dan membalas ciumannya dengan sama ganasnya. Jadinya waktupun merambat dengan aktifitas saling meremat, mengulum, dan mengigit. Tidak ada yang mau mengalah dan tidak juga ada yang mau berhenti!


"Aku minta kamu tidak usah pergi kencan sama si Alvin lagi!" kata Nayl malam itu sebelum dia pergi meninggalkan kos-anku.


"Iya, cantik! Aku gak akan pergi bareng dia lagi!" kataku.


"Aku gak mau kamu lama-lama merasa nyaman dan jatuh cinta sama dia!"


"Ya ampun, Nayl. Aku gak akan jatuh cinta sama Alvin! Dia itu ganteng seperti aku dan aku sukanya sama cowok cantik seperti kamu!"


"Pokoknya gak boleh! Bagaimanapun dia cowok dan kamu cewek! Apa saja bisa terjadi!"


"Ya, bawel!"


"Pokoknya cinta kamu cuma buat aku! Kamu cuma milik aku dan kamu adalah mawar merahku, Vajria!"

__ADS_1


"Iya, Nayl! Iya! Sekarang kamu pulang, cuci muka dan tangan lalu pergi bobo!"


__ADS_2