
Aku tidak perduli orang mau bilang apa tentang hubunganku dengan Nayl, walaupun aku harus kehilangan teman-teman band-ku, dari mulai Alvin yang menjauhi aku, Lily yang terus menerus mencoba untuk mengubah jalan pikiranku, sampai Kak Fathya yang terang-terangan memintaku untuk menyudahi hubungan dengan Nayl.
"Maafkan aku, Ra. Aku sudah menunjuk Vino jadi pengganti kamu untuk menjadi raper di band kita. Aku sebenarnya berat melepaskan kamu karena kebersamaan kita dalam band ini sudah tiga tahun lebih. Tapi kamu udah gak bisa diajak kerjasama dan berkomitmen lagi. Kamu terlalu sibuk dengan Nayl, Nayl dan Nayl!" kata Ricky suatu hari saat kami bertemu di kantin.
"Aku gak habis pikir kenapa kamu lebih memilih cowok gemulai itu dibandingkan dengan aku! Kalau harus dibandingkan, ya jelas aku yang menang! Apa sih yang kamu lihat dari dia?!" kata Alvin lewat sambungan telepon saat dia sudah kembali ke Jakarta.
"Aku minta kamu berubah pikiran, Ra! Jauhi Nayl! Kamu lebih cocok dengan Alvin! Kalau kamu sama Nayl, yang ada kamu akan semakin tenggelam dalam alam pikiran kamu sendiri sebagai seorang cowok! Kamu gak akan pernah bisa jadi cewek yang sebenarnya!" kata Lily.
Apalagi Kak Fathya, dia adalah orang yang paling frontal menentang hubunganku dengan Nayl! Entah apa yang sudah Alvin katakan padanya, yang jelas Kak Fathya terkesan tidak suka sekali pada Nayl walaupun belum pernah bertemu dengan cowok cantik-ku itu.
Tapi yang jelas aku sayang Nayl dan tidak akan pernah meninggalkan dia walaupun apa yang terjadi! Apalagi setelah aku mengecap manisnya percintaan dengan Nayl, aku merasa kalau aku harus selalu ada untuknya dan bertanggung jawab atas segala apapun yang berhubungan dengannya.
Tapi semua itu mendadak berantakan saat di usia tujuh bulan hubungan kami, aku mulai menyadari bahwa aku dan Nayl adalah dua orang yang sangat berbeda dalam hal prinsip. Memang sulit untuk menyatukan dua kepala, tidak semudah saat kita menyatukan dua hati kita untuk melangkah bersama.
Malam itu aku berniat menjemput Nayl ke cafe tempatnya manggung dan ternyata Nayl sudah tidak ada disana. Aku menanyakan keberadaan Nayl pada teman-teman satu band-nya yang terdiri dari tiga anggota dan aku mendapat kabar bahwa Nayl sedang pergi bersama seseorang yang aku tidak kenal.
"Nayl tadi dibawa sama Om Bas. Katanya sih mau di ajak makan" kata Regan, salah satu teman band Nayl.
"Om Bas?" aku merasa asing dengan nama itu.
"Om Bas itu pemilik bengkel dan pernak-pernik moge tempat Nayl suka modifikasi Moge-nya. Namanya Baskoro, tapi kita-kita biasa memanggilnya Om Bas" kata Derren salah satu teman band Nayl juga.
"Kenapa dia ajak Nayl keluar makan? Kok kalian kaga di ajakin juga?" tanyaku
"Kan Om Bas nya cuma ngajakin Nayl, masa kami ikut-ikutan?" kata Regan.
"Ya bisa aja kan kalau kalian menawarkan diri untuk ikut makan? Ya itung-itung kalian bodyguard-nya Nayl?"
"Malu dong, Ra!" kata Derren.
"Tapi sejak kapan Nayl kenal sama Om Bas itu?! Apa memang sudah sering Om Bas itu ngajakin Nayl keluar makan?"
"Baru kali ini sih dia ngajak Nayl keluar makan. Biasanya kan Nayl yang rutin datang ke tempatnya buat perawatan Moge-nya"
__ADS_1
"Nayl gak pernah cerita tentang Om Bas itu ke aku"
"Ya gak penting juga mungkin kalau dia cerita" kata Regan.
"Sejauh apa hubungan antara Om Bas dengan Nayl?"
"Ya Allah! Kamu gak usah berpikiran negatif gitu, Ra! Om Bas udah lama kenal sama Nayl karena Nayl sering modifikasi Moge-nya ke bengkel Om Bas. Kalau gak salah sih tadi aku denger Om Bas mau jadiin Nayl brand ambassador bengkelnya. Jadi Nayl di ajak keluar makan buat ngomongin masalah itu juga"
"Brand ambassador? Belagu amat tuh Om-Om pake brand ambassador segala!"
Aku pun menunggu Nayl pulang. Tapi satu jam kemudian Nayl belum juga datang dan yang membuat aku kesal adalah dia tidak mau mengangkat telepon ataupun membalas pesan WA dariku! Sebegitu pentingnyakah Om Bas untuknya sehingga Nayl tega menepikan aku disini?...
"Vajria, aku sama Regan mau pulang. Kamu mau pulang bareng juga?" kata Derren saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Tapi Nayl belum kesini lagi!" kataku.
"Paling nanti di anterin sama Om Bas ke kos-annya"
"Nayl dari tadi gak angkat telepon dariku lagi!"
"Padahal dia tahu aku pasti udah jemput dia kesini..." kataku sedih.
Regan dan Derren jadi saling pandang dengan serba salah.
"Kamu pulang aja, Ra. Gak baik juga kan kamu masih ada di cafe jam segini, nanti takutnya akan ada Om-Om yang deketin kamu!" kata Regan.
"Tapi, Nayl juga lagi di bawa Om-Om!"
"Gak akan terjadi apa-apa sama Nayl! Nayl itu cowok! Kamu yang cewek yang harusnya pulang sekarang"
"Tapi kan Nayl itu lembut dan cantik! Aku takut terjadi apa-apa sama dia!"
Saat itulah tiba-tiba HP ku berdering nyaring, ada telepon masuk dari Nayl! Aku pun langsung mengangkat teleponnya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Halo, Nayl! Kamu dimana, cantik?!" aku langsung bertanya pada Nayl. Kulihat sekilas dari sudut mataku kalau Derren dan Regan saling pandang sambil nyengir mendengarku memanggil Nayl cantik.
"Aku sama Om Bas, Ra" jawab Nayl.
"Ngapain aja kamu?! Aku udah satu jam nungguin kamu disini! Kamu kan tahu kalau aku mau jemput kamu! Kenapa kamu malah pergi sama orang lain?!"
"Maaf, ayang... Aku kan lagi ngomongin masalah kerjaan sama Om Bas. Ini lagi di bengkelnya. Mau pemotretan sebentar"
"Kenapa kamu gak angkat teleponku dan balas WA-ku?!"
"Kan tadi abis manggung. Aku silent HP-nya. Belum aku kembalikan lagi nada deringnya. Maaf ya ayang..."
"Jadi kapan kamu pulang?! Ini udah malem! Kamu masih kelayapan diluar!"
"Aku nanti pulang di anterin sama Om Bas. Kamu pulang aja. Atau aku pulang ke kos-an kamu deh! Aku janji!"
"Aku tungguin ya?!"
"Iya, ayang"
"Kalau udah beres langsung pulang!"
"Iya, ayang. Kamu pulang sekarang ya! Ini udah malem! Gak baik cewek jam segini masih diluar rumah!"
"Gak bakalan ada yang nyangka aku cewek, kok! Kamu tuh yang cantik dan menggiurkan! Kamu bisa di culik dan di mangsa oleh Om-Om tua bangka yang berbahaya!"
"Enggak, ayang... Aku aman kok!"
"Ya udah, aku pulang sekarang!"
"Muach ayang..."
"Muach, cantik!"
__ADS_1
Aku menutup telepon dan memandang pada Regan dan Derren. "Aku pulang sekarang!" kataku.
"Hati-hati, Ra!" kata keduanya.