
Sebuah ide gila muncul tiba-tiba dalam benakku. Apakah Nayl masih mempedulikanku? Bagaimana kalau aku dekati saja Pak Ari saat ini dan melihat bagaimana respon Nayl?!
Aku pun meningkatkan volume suaraku dan mengobrol lebih akrab dengan Pak Ari. Bahkan aku mengiyakan saja saat Pak Ari berkata kalau kapan-kapan dia mau mengajakku jalan-jalan.
Aku lihat Nayl tampak kesal, si cantik bahkan sampai membanting sendok dan garpu yang sedang di gunakan ke atas piring hingga mengeluarkan suara berdentang keras sehingga membuat Pak Ari kaget dan menoleh ke arahnya.
"Nayl?" sapa Pak Ari.
Nayl tidak menjawab melainkan segera berlalu dari kantin dengan wajah cemberutnya yang cantik.
"Maaf, saya tidak tahu ada Nayl" kata Pak Ari padaku.
"Gak apa-apa, Pak. Nayl sudah bukan siapa-siapa saya lagi!" kataku enteng dan aku yakin Nayl pasti mendengar kata-kataku itu karena dia belum jauh melangkah.
Sejak saat itu, Nayl seolah menjadi detektif yang selalu ada di dekatku. Anehnya kalau aku sedang bersama orang lain, Nayl tidak terlihat. Tapi saat aku bersama Pak Ari, tiba-tiba Nayl sering terlihat ada di dekat kami.
Aku merasa kalau Nayl aneh, dia tampak marah, kesal, dan menatap penuh amarah kepadaku dan Pak Ari. Tapi dia juga tidak berusaha untuk menjauh dari kami.
Pak Ari memang semakin intens mendekatiku dan aku juga seolah suka dengan dia. Aku tidak pernah menghindar dan kerap makan bersamanya. Aku melakukan semua itu tidak lain hanya untuk membuat Nayl cemberut. Aku merasa sedikit berbahagia karena sering bertemu dengan Nayl walaupun dengan keadaan-keadaan yang sedang bersama Pak Ari.
Semua itu pun berjalan selama dua Minggu ini...
Dan komunikasi antara aku dengan Nayl masih belum terjalin dengan baik lagi. Dia tidak pernah berusaha untuk menghubungiku atau mungkin no HP-ku sudah di hapus nya karena aku sudah tidak pernah lagi melihat status WA-nya.
Hingga pada satu hari Pak Ari mengajakku untuk pergi ke salah satu wahana permainan yang ada di Bandung ini.
"Kalau kamu mau, besok pagi kita berangkat, Vajria. Mumpung besok weekend" kata Pak Ari.
"Boleh juga, Pak" kataku setuju.
"Besok saya jemput jam delapan pagi ke kos-an kamu ya?!"
"Oke"
Sepertinya seru sekali pergi ke tempat wahana permainan yang sedang ramai-ramainya di kunjungi di Bandung saat ini. Ya mumpung ada yang mau bayarin juga. Lagipula aku dengar Pak Ari itu seorang duda, jadi tidak ada salahnya kalau aku pergi bersamanya. Daripada diam di kos-an dengan mendengarkan lagu-lagu galau yang selalu di setel Lily dengan suara keras! Yang ada aku malah semakin kangen si cantik, Nayl!
Dan hari esok pun tiba, aku bersiap untuk pergi ke wahana permainan bersama Pak Ari. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin sekali tampil sebagai wanita tulen. Aku punya beberapa potong pakaian cewek dari Kak Fathya saat aku berulang tahun ke 22. Aku tidak pernah memakai pakaian itu dan sekarang aku ingin mencobanya.
__ADS_1
Aku ingin terlihat cantik seperti Nayl...
Dan aku pun mengenakan sebuah celana jeans model cutbray dengan blus katun cantik berdada rendah. Aku juga mengikat rambut ku yang pendek dengan satu karet rambut milik Nayl yang tertinggal di kamar kos-an ku ini.
Mataku terpaku pada make-up milik Nayl yang juga ada di atas meja belajarku. Si cantik itu memang memiliki banyak koleksi make-up dan beberapa tertinggal di kamar ini. Ada bedak, lipstik, dan eyeliner.
Aku mencoba memakai make-up milik Nayl itu dengan hati-hati dan ternyata aku bisa! Aku bahkan tidak percaya kalau aku bisa terlihat secantik ini!
"Fix, Ra! Kamu cewek!" terngiang kembali kata-kata Nayl saat terakhir kali dia tidur dikamar ini sebelum esoknya kami bertengkar hebat dan aku menyuruhnya pergi dari sini...
Aku meraih tas ransel punggung model cewek yang juga adalah pemberian Kak Fathya, ku masukkan dompet dan HP kedalamnya. Sekali lagi ku lihat pantulan diriku di cermin, ya Tuhan... Fix! Aku wanita!
Saat itulah tiba-tiba pintu kos-an ku di ketuk orang dari luar. Apakah itu Pak Ari?! Tapi kan kami janjian jam delapan pagi dan ini baru jam setengah delapan! Bukan rahasia kalau seorang pendidik di negeri ini semua menganut sistem jam karet!
Aku membuka pintu kos-an dan seketika terpana saat melihat bagaimana si cantik Nayl yang berdiri di depan pintu dengan rambutnya yang di ikat dan menenteng sebuah tas plastik hitam.
Nayl juga tampak kaget melihat bagaimana keadaanku yang sedang berwujud wanita! Matanya membelalak dengan mulut sedikit terbuka!
"Nayl, ada apa pagi-pagi kesini?" tanyaku sambil mencoba meredakan jantungku yang berdebar keras! Bukan Vajria namanya kalau aku tidak bisa menguasai keadaan!
"Kamu cantik sekali, ayang... Eh! Maksudku, Vajria" katanya gelagapan.
"Iya ya...?"
"Ada apa kesini?" tanyaku lagi.
"Kamu mau pergi sama Pak Ari, kan?" Nayl malah balik bertanya.
"Kok tahu?!"
"Kemarin aku denger"
"Dasar cantik tukang nguping!"
"Serasa mimpi bisa mendengar kamu menyebutku cantik lagi..."
"Trus kalau kamu dengar aku mau pergi sama Pak Ari, kamu mau apa?"
__ADS_1
"Ini aku buatkan sarapan nasi goreng. Kamu pasti belum sarapan karena biasanya kamu baru bangun jam segini kalau weekend" Nayl menyerahkan tas plastik hitam yang dibawanya.
Aku menerimanya. "Makasih ya, aku memang belum sarapan"
"Iya, makanya aku buatin. Aku gak mau kamu masuk angin. Pergi-pergi itu harus makan dulu"
Tiba-tiba aku melihat ada luka bakar di tangan Nayl! Merah dan basah! Aku segera meraih tangannya dan mengernyit melihat dari dekat tangannya yang terluka itu.
"Ini kenapa?!" tanyaku.
"Kena minyak panas pas masak" jawabnya.
"Kok bisa?!"
"Iya, kan buru-buru sat set sat set kena deh"
"Perih gak?!" aku meniup-niup luka bakar ditangannya itu.
"Sedikit"
"Sini masuk! Aku obati dulu!"
"Gak usah, tadi udah pake odol. Kamu makan aja sarapannya"
"Enggak! Aku mau obati luka kamu dulu!" aku menarik tangan Nayl agar dia masuk kedalam kos-an ku dan mendudukkannya di atas sofa.
Aku mengambil kotak P3K dan dengan posisi berlutut aku mengobati lukanya sebisaku.
"Nah beres" kataku lalu menatap Nayl yang ternyata sedang menatapku juga.
Nayl duduk di atas sofa dan aku berlutut di hadapannya. Posisi yang bagus jika aku melamarnya saat ini...
"Makasih ya" kata Nayl.
"Lain kali kalau masak hati-hati ya, cantik!"
"Iya... Ayang..."
__ADS_1
Aku bangkit berdiri dan menjatuhkan satu kecupan lembut di kening Nayl.