
Aku memutuskan untuk mengabulkan keinginan Vajria karena aku juga memang sudah sangat menginginkannya. Apalagi sudah dua minggu lamanya kami tidak pernah bercinta lagi.
Aku secepat kilat melepaskan apa yang melekat pada tubuh Vajria dan juga tubuhku sendiri. Hingga kami berdua sudah polos seperti dua bayi yang baru lahir. Aku laksana seekor induk kucing yang sedang memandikan anaknya. Sekujur tubuh Vajria basah kuyup dengan air liur yang menetes dari mulutku karena terlalu bernafsu menjilati setiap inci tubuhnya.
Hingga akhirnya aku sudah menempatkan diriku tepat diatas tubuh Vajria yang tampaknya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi sedari tadi Vajria memang sudah mengerang dan menggelinjang karena ciuman yang aku lakukan pada sekujur tubuhnya.
"Lakukan, Nayl...!" bisiknya menuntut dengan tidak sabar!
"Aku juga udah gak tahan, Ra" bisikku dan segera melesakkan ujung kepala sosisku hingga menyusup kedalam tubuh Vajria. "Ugh... Nikmat, Ra!" erangku!
"Ah... Nayl...!" Vajria ikut mengerang dan memeluk tubuhku erat-erat.
Dan kami pun langsung terlibat dalam hubungan badan yang panas dimana aku sudah menggerakkan tubuhku perlahan agar bisa menciptakan rasa yang luar biasa untuk kami berdua.
Tapi baru beberapa menit aku melakukannya, tiba-tiba Vajria memeluk tubuhku lebih erat dan berbisik di telingaku. "Nayl... Lebih dalam lagi... Please...!"
Aku tertegun dan gerakanku terhenti dengan keringat mengalir deras! Aku menatap wajah Vajria yang tampak luar biasa cantik saat sedang dalam keadaan mabuk cinta seperti saat ini.
"Kenapa ayang ingin lebih dalam?" tanyaku.
"Aku mau memberikan kamu kenikmatan yang sesungguhnya, Nayl..." jawab Vajria.
"Seperti ini juga aku sudah keleyengan, Ra..."
"Tapi aku mau kamu masukin semua, Nayl... Jangan ditahan lagi...! Dorong lebih kuat! Kamu pernah melakukannya saat aku tidak sadar kan?"
"Nanti kamu kesakitan, Ra..."
"Aku tidak perduli...! Aku pasti akan bisa menahan rasa sakitnya dan ikut menikmatinya!"
__ADS_1
"Tapi, Ra..."
"Cepet, Nayl! Aku gak tahan! Aku mau semuanya!"
Aku mendorong sedikit tubuhku dan merasakan bagaimana bagian bawah tubuhku seperti hendak merobek suatu selaput didalam tubuh Vajria.
"Ah... Sakit Nayl..." rintih Vajria.
Aku paling tidak bisa mendengar Vajria-ku merintih kesakitan, aku segera mencabutnya dan membelai kening Vajria yang basah. "Tuh kan, sakit! Udah ya?! Kita udah aja!" kataku.
"Ah...! Gak mau...! Kenapa gak lanjut aja?! Sakitnya masih bisa aku tahan kok!" katanya ngeyel.
"Enggak, Ra! Nanti kamu kesakitan lagi!"
"Ah...! Kamu jahat!" Vajria malah melingkarkan kedua kakinya ke pinggulku dan menariknya agar menekan lagi. "Ayo, lakukan lagi! Please cantik...!"
Aku tidak bisa melanjutkan ini semua betapapun aku juga ingin! Aku bahkan teringat pesan almarhum Papanya dan juga Kak Fathya yang meminta aku untuk selalu menjaganya.
Vajria menatap wajahku dengan sorot mata kecewa yang teramat sangat. Aku merasa bersalah tapi aku tidak mungkin merusak Vajria sekarang. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Vajria.
"Aku minta maaf, Ra" kataku sambil mengusap pipinya.
"Kamu ini kenapa, sih?! Kamu tidak jantan!" katanya menusuk hatiku.
"Bukan seperti itu, Ra!"
"Lalu apa?! Kamu kan sudah pernah melakukannya padaku?! Kenapa sekarang kamu tidak berani untuk mengulanginya lagi?! Kamu mau enaknya sendiri!"
"Enggak, Ra! Aku enggak pernah melakukannya!"
__ADS_1
Vajria membelalakkan matanya yang indah. Ekspresi kaget tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Apa maksud kamu, Nayl?!" tanyanya.
"Aku tidak pernah melakukan hal itu sama kamu, Ra! Aku cuma ingin kamu merasa sudah menjadi milik aku dan agar kamu mau balikan lagi sama aku! Aku tidak mungkin melakukannya, Ra! Aku sayang banget sama kamu!" aku akhirnya mengakui bahwa aku tidak pernah merenggut kesuciannya.
"Kamu gila..." desis Vajria marah!
"Aku minta maaf, Ra... Kamu kamu mau marah, aku tidak akan balik marah. Aku memang sudah keterlaluan! Aku tidak seberani apa yang kamu duga, Ra! Aku bodoh! Kamu sudah pasrah tapi aku tidak ada nyali!"
Aku menarik pakaianku yang tercecer di lantai dan keluar dari kamar.
"Nayl!" seru Vajria!
Aku tidak menoleh tapi tetap keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi dan kemudian berdiam diri di dapur dengan secangkir kopi hitam panas dan sebatang rokok. Sedih sekali rasanya tidak bisa melakukan apa yang diinginkan Vajria saat ini... Tapi mau bagaimana lagi?! Aku terlalu menyayangi mawar merahku itu...
Perasaanku kacau balau saat ini! Rasa sedih dan rasa tidak mampu berbaur menjadi satu sehingga membuat dadaku terasa sesak. Aku ingin sekali menangis saat ini dan ternyata aku memang telah menangis... Mataku basah...
Kenapa aku selalu tidak bisa melakukan hal yang satu itu?! Padahal Vajria sudah pasrah dan menyerahkan dirinya secara sukarela...
"Kamu bodoh, Nayl! Kenikmatan dunia terpampang nyata dihadapanmu tapi kamu malah pergi! Kamu pasti di cap sebagai cowok lemah dan tidak jantan oleh Vajria yang tampan dan cantik itu!"
Aku mengumpat diriku sendiri!
Setelah ini apa yang akan terjadi pada hubunganku dengan Vajria?! Aku tidak bisa membayangkan... Aku takut untuk menduga-duga... Kekhwatiran utama adalah bagaimana jika Vajria merasa marah karena telah aku bohongi selama ini?! Lalu aku khawatir kalau dia juga akan meninggalkan aku seperti waktu itu...
Tapi apapun kenyataannya aku harus bisa menerima dan tidak mungkin terus membohongi Vajria terus. Aku ingin dia tahu kalau aku sangat mencintainya dan tidak mau merusaknya. Aku memang menginginkan tubuhnya tapi tidak untuk saat ini. Aku masih bisa menahan diri sampai pada waktu yang belum bisa aku tentukan. Aku hanya ingin menepati janji pada Papa dan kakaknya untuk menjaganya.
Kemungkinan lain adalah Vajria menganggap kalau aku memang bukan seorang cowok tulen! Bukan pria sejati! Buktinya untuk merenggut kegadisannya saja aku tidak mampu. Aku memang seorang pecundang! Benar apa katanya tadi, aku tidak jantan!
Terserah dia mau bilang apa tentang aku... Aku sudah siap untuk menerima apapun yang akan dia katakan kepadaku...
__ADS_1
Yang jelas tidak akan ada yang akan menyayanginya sebaik aku! Aku yakin itu! Aku tidak ingin dia rusak, aku tidak ingin dia sakit, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa...