Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 5 : Insiden Jagung Bakar


__ADS_3

Satu bulan setelah aku dan Nayl saling mengucapkan kata cinta di kamar kos-nya. Malam itu ada acara festival band di sebuah cafe di dekat kampus ku. Kami sebagai anak band jelas kebagian untuk mengisi acara disana.


Saat itu band Nayl sudah tampil sementara band ku masih menunggu bagian. Kami yang selalu bersama pun tidak pernah berjauhan. Nayl tidak pernah sedikitpun melepaskan genggamannya pada tanganku kecuali saat tadi dia manggung.


Saat itu Bondan menghampiriku dan mencolek bahu ku, "Ra, kita cek sound dulu bentar di belakang yuk! Tiga puluh menitan lagi bagian kita" katanya.


Aku bingung. Sementara Nayl tampak memandangiku dengan wajah manis nya dan bibir sedikit mengerucut yang aku paham artinya dia tidak mau di tinggal.



"Nayl gak mau di tinggal" kataku pada Bondan.


Bondan menatap tidak senang ke arah Nayl. "Ya udah kamu bawa aja si Nayl ke belakang juga! Masa kita mau manggung gak cek sound dulu sih?!" kata Bondan yang tampak kesal.


"Nayl, kamu ikut ke belakang ya!" kataku pada Nayl.


"Heeh" kata Nayl.


Ku gandeng tangan Nayl mengikuti langkah Bondan yang sudah berjalan lebih dahulu dengan mulut yang merutuk tidak jelas.


Sesampainya di bagian belakang cafe, aku melihat Angga dan Ricky sudah berada disana dan sama-sama memandang tidak suka ke arah Nayl.


"Hai, Nayl cantik!" goda Angga dengan nada julid.


"Sini, cantiknya Vajria" kata Ricky sambil tertawa.


Aku melirik Nayl yang tampak tidak nyaman dengan sapaan cantik. Iyalah, aku yang bilang cantik aja dia gak suka, apalagi orang lain! Tapi mau ngebelain gak enak juga sama teman-teman satu band ku. Apalagi sudah lama aku gak latihan sama mereka semenjak aku memiliki Nayl.


"Hai guys, kita ngemil dulu yuk! Eh udah ada Vajria sama si cantik Nayl-nya juga!" seru Lukman yang baru datang dengan membawa satu kantong plastik bening yang terlihat berisikan jagung bakar berukuran besar dan tampak masih mengepulkan asap! Baunya harum sekali!


"Asik!" seru Bondan yang langsung mengambil kantong plastik di tangan Lukman dan merobeknya lalu kemudian di gelarnya di atas meja. Ricky dan Angga segera ikut mengambil jagung bakar itu.


"Nayl, kamu mau jagung bakar gak?" tanyaku sambil meremas tangan Nayl.


Nayl tidak menjawab. Aku meremas tangannya sekali lagi. "Nayl, mau gak?"


Si cantik tetap tidak menjawab. Terasa telapak tangannya dingin dan basah...


Aku seketika merasa kalau ada yang tidak beres dengan Nayl! Aku segera memegang kedua bahunya untuk mengamati keadaannya. Nayl tampak pucat, bibirnya bergetar dan nafasnya tersengal-sengal!

__ADS_1


"Nayl, kamu kenapa?" tanyaku panik!


"Aku gak kuat, Ra... Huek!" Nayl malah seperti orang yang mau muntah! Nayl menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Sayang, kenapa?!" aku semakin panik dan meraih kepala Nayl untuk bersandar di bahuku. Nayl begitu lemah saat bersandar di bahuku, aku merasa seluruh tubuhnya bergetar.


"Aku mau pulang, Ra..." bisik Nayl.


"Kamu sakit?" tanyaku sambil membelai pipinya dan mengecup pelipisnya.


"Aku gak kuat... Aku mabuk..." jawabnya lemah.


"Mabuk apa?!"


"Aku gak kuat melihat dan mencium jagung... Aku takut jagung..."


"Apa?!" aku kaget sekali! Setelah lima bulan mengenal Nayl, baru sekarang aku tahu dia takut jagung!


"Aku pulang sekarang ya?!" Nayl melepaskan tanganku dan menarik kepalanya dari bahuku lalu kemudian hendak berlari sambil menutup mulutnya.


"Nayl, tunggu! Aku gak akan biarkan kamu pulang sendiri dengan keadaan mabuk seperti ini!" kataku sambil merangkul bahunya.


"Enggak! Aku akan bawa kamu pulang sekarang juga! Lagipula tadi kan kita kesini naik motor ku! Kamu mau pulang naik apa?"


"Naik ojek online aja gak apa-apa. Aku udah gak kuat... Aku mau muntah..."


"Enak aja naik ojek online! Nanti cantiknya aku di culik tukang ojek! Tunggu sebentar, ya" aku mendudukkan Nayl di sebuah kursi dengan keadaan memegangi kepalanya. Wajah Nayl makin pucat membuat aku ingin menangis!


Aku pun segera menghampiri teman-temanku yang sedang makan jagung bakar.


"Ra, mau gak?" tawar Ricky sambil menyodorkan sebuah jagung bakar kepadaku.


Aku mendelik melihat jagung yang telah membuat Nayl-ku mabuk itu! "Aku mau pulang! Nayl sakit!" kataku.


Spontan semua teman-temanku terkejut dan memandangku dengan sorot mata yang tidak percaya!


"Apa kamu bilang, Vajria?!" tanya Bondan heran.


"Aku mau pulang. Nayl sakit" aku mengulangi kata-kataku.

__ADS_1


"Jangan gila, Vajria!" kata Lukman marah.


"Kamu bercanda kan?!" kata Angga.


"Aku serius! Nayl sakit dan aku akan membawanya pulang sekarang juga!" kataku.


"Gila kamu, Vajria. Kita sebentar lagi naik panggung! Kamu mau ninggalin kita cuma karena pacar kamu itu sakit?!" tanya Bondan.


"Tapi kasihan Nayl!" aku jadi serba salah.


"Kamu keterlaluan, Ra! Kamu udah gak pernah ikut latihan! Kamu juga gak ada waktu buat hangout bareng kita! Dan sekarang kamu mau mengorbankan acara manggung kita demi seorang cowok yang kecewek-cewekan itu?!" kata Ricky.


"Terus gimana Nayl? Nanti dia kenapa-kenapa gimana?!" aku bingung sekali!


"Ya sudah sana! Bawa pergi calon istri kamu yang cantik itu! Kelonin ampe pagi!" kata Bondan marah!


"Plis jangan pada marah dong! Kalian gak ada yang di posisi aku! Saat orang yang paling kalian sayangi lagi sakit, masa kalian diam saja?!"


"Bodo amat! Kamu emang udah berubah, Ra! Kamu apatis! Semenjak kamu kenal sama anak itu, kamu abaikan kami yang udah bareng-bareng sama kamu sejak tiga tahun lalu!" kata Angga.


"Gimana kalau kalian manggung tanpa aku?! Sesi nge-rap nya di hilangkan aja! Kali ini aja!" usulku karena aku juga sebenarnya gak enak sama teman-temanku.


"Mana bisa! Menghilangkan banyak part penting mendadak begini!" kata Ricky kesal!


"Lagian kami gak yakin Nayl sakit! Tadi dia manggung atraktif banget! Bawain lagu tragedi-nya Boomerang! Mana mungkin sekarang dia tiba-tiba sakit!" kata Lukman.


"Nayl beneran sakit! Dia mabuk karena..." aku tidak melanjutkan kata-kataku karena kalau aku katakan Nayl mabuk gara-gara jagung, yang ada mereka akan makin kesal pada Nayl.


"Karena apa?! Karena dia udah gak tahan pengen kamu sekap malam ini?!" tanya Bondan julid!


"Jaga mulut kamu ya?!" aku emosi dan mendorong dada Bondan!


"Udah gak usah muna deh, Ra! Aku tahu sudah sejauh apa hubungan kamu sama anak itu! Hampir tiap pulang kuliah kamu nyamperin dia di kamar kos-annya!"


"Bondan!!!" aku menjerit histeris dan hendak memukul Bondan!


Untungnya Ricky memegang tanganku dan berkata. "Udah, Ra! Sekarang kamu pergi aja! Kamu udah bukan bagian dari kami lagi!"


"Oke! Aku pergi sekarang juga!"

__ADS_1


__ADS_2