
Aku tidak perduli apa yang akan teman-teman pikirkan tentang aku. Yang jelas saat ini bagiku yang terpenting adalah Nayl! Nayl sedang sakit dan aku harus segera menyelematkannya! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nayl, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri! Apalagi sekarang aku lihat Nayl sudah tidak ada lagi di kursi yang tadi di duduki nya!
Aku bergegas mencari Nayl keluar dan aku menghembuskan nafas lega saat melihat dia ada di bawah sebuah pohon di samping motor besar ku.
"Nayl!" seru ku seraya langsung mendekapnya erat-erat sambil merapikan rambutnya yang panjang.
"Kamu gak usah kesini, Ra! Jangan perdulikan aku! Teman-teman kamu nanti marah! Kamu akan kehilanganmu posisi penting dalam band kamu!" kata Nayl dengan tatapan sedih.
"Tidak, Nayl Sayang! Kamu adalah yang paling penting dalam hidupku! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun! Aku mencintaimu dan akan selalu melindungimu!"
Ya Tuhan! Sejak kapan aku berubah jadi seorang pujangga? Rasanya kata-kata romantis begitu mudah meluncur keluar dari mulutku jika itu untuk si cantik, Nayl!
"Tapi, Ra! Aku gak mau jadi beban kamu! Aku bisa pulang sendiri!" kata Nayl.
Aku menekap dua pipinya. "Gak usah banyak bicara lagi! Sekarang aku akan bawa kamu pergi dari sini!"
Nayl memegang dua tanganku yang sedang menekap pipinya. "Makasih ya, Ra..."
"Sama-sama, cantik!"
"Sun dulu, Ra..."
"Apaan sih! Lagi keleyengan juga!"
"Aahhh..." Nayl cemberut.
"Iya, aku sun dulu!" aku mencium keningnya. "Udah?!"
"Udah..."
"Mau lagi?!"
"Mau..."
"Idih alah!"
__ADS_1
Aku segera menghidupkan mesin motor ku dan pergi membawa Nayl ke kos-an ku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari cafe tempat dimana kami berada dan tempat dimana saat ini aku harusnya manggung bareng teman-teman ku. Membawakan lagu St Loco, tapi ya sudahlah!
Nayl bukan hanya memegang pinggangku tapi dia memeluk tubuhku erat-erat saat aku memboncengnya. Aku juga merasakan kalau Nayl menyandarkan kepalanya di punggungku.
"Kasihan kamu, Nayl! Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku kalau kamu takut jagung!" batinku sambil meremas tangannya yang melingkar di perutku. Sepanjang perjalanan itu akhirnya aku mengendarai motor ku dengan hanya memegang satu stang saja karena satu tanganku lagi memegangi tangan Nayl.
Sampai di kos-an ku, suasana sudah sepi karena penghuni sudah masuk kedalam kamar masing-masing. Beberapa kali aku pernah membawa Nayl kesini walaupun kami lebih sering menghabiskan waktu di kos-annya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih sepuluh menit.
Aku segera memasukkan Nayl ke kamarku dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurku. Nayl tampak langsung terlelap. Wajahnya masih tampak pucat dan keletihan. Tapi semua itu tidak bisa menutupi kecantikan wajahnya.
Aku duduk di samping tubuh Nayl dan memandangi wajah cantiknya sepuas hatiku. Matanya terpejam dengan bulu mata yang lentik, rambut panjangnya yang tergerai di atas bantal, hidung serta bibirnya yang sempurna dan tetap mempesona walaupun saat itu lampu kamar kos-an ku sudah ku matikan dan hanya ada cahaya temaram dari lampu teras.
Aku merunduk dan menjatuhkan satu kecupan manis di bibirnya. Baru kali ini aku mencium bibirnya. Nayl tampak menggeliat sedikit tapi kemudian terlelap lagi. Aku tidak mau mengganggu tidurnya. Aku pun menyelimutinya dan kemudian membaringkan tubuhku sendiri di atas sofa yang ada di kamar ku. Aku merasa kurang pantas jika tidur satu ranjang dengan Nayl, takutnya dia merasa aku melecehkannya kalau dia terbangun esok hari.
Begitu aku memejamkan mataku, aku pun langsung terlelap ke alam mimpi. Entah sudah berapa lama tertidur hingga akhirnya aku merasa ada tangan seseorang yang menggoyang-goyang tubuhku.
"Ra, Vajria! Bangun, Ra!" ada suara Nayl terdengar.
Aku membuka mataku. Memang Nayl yang sedang membangunkanku. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Aku langsung duduk di atas sofa dan meraih tubuh Nayl dalam dekapanku dengan posisi memangkunya.
"Kenapa tidur disini? Tidurnya sama aku dong!" kata Nayl.
"Kan belum minta izin"
"Gak apa-apa kok! Kita kan udah sering tidur bareng"
"Itukan siang. Kalau malam hari belum pernah"
"Apa bedanya?"
"Malam kan dingin, tapinya gak apa-apa sih..."
"Ya udah, kamu bobo sama aku ya?! Pelukin aku..."
__ADS_1
"Mabuk jagungnya udah mendingan?"
"Udah gak apa-apa kok. Cuma aku kedinginan..."
"Ya udah aku pelukin ya?" aku mengajak Nayl untuk kembali berbaring di atas ranjang dan menutupi tubuh kami berdua dengan selimut.
Aku mendekap erat tubuh Nayl dan menyusupkan wajahnya di dadaku. Nayl sendiri tampak nyaman dalam dekapanku, dia meringkuk sambil mengendusi dadaku. Aku bisa merasakan bagaimana dia mengecupi dadaku dari luar kaos yang aku pakai.
"Hmph... Hmph..." desah Nayl membuat tubuhku jadi terasa panas.
"Kamu kok nakal sih?!" bisik ku sambil menguncir rambutnya dengan tanganku.
"Kamu wangi... Hm... Pacar aku wangi banget..." katanya sambil mulai mengecupi ketiak ku.
"Ufh...! Geli, Nayl...!" desisku.
"Aku jadi bergairah, Ra! Betul kata kamu! Kalau malam gini sebaiknya kita tidak tidur bersama" kata Nayl.
"Ya makanya aku tadi tidur di sofa juga!"
"Mau pegang ini..." Nayl tiba-tiba dengan beraninya memegang dadaku sambil dia mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan takjub. "Besar banget, Ra!" katanya kagum.
"Dasar nakal!" aku menyingkirkan tangan Nayl dari dadaku dan bergerak menindihnya! Aku menyusupkan tanganku kedalam kaosnya dan merabai dadanya dengan gemas! Ku remas, ku belai dan ku pilin!
Dampaknya terhadap Nayl sangat luar biasa! Nayl mendesah-desah seperti orang kepedasan makan rujak dan tubuhnya menggelinjang hebat dalam tindihan ku!
"Ah... Ampun, Ra...! Udah! Udah! Aku gak kuat!" pekiknya!
Aku tidak bisa berhenti melakukan ini padanya! Malahan dengan dituntun oleh naluri seorang pria, aku menyusup kedalam selimut, mengangkat kaos yang di kenakan Nayl di bagian dada dan menciumi dadanya! Bukan hanya sekedar mencium tapi aku menyesap dan mengunyahnya! Malam itu dada Nayl menjadi sebuah santapan lezat untukku. Ibarat sebutir apel yang ku kunyah habis-habisan!
Nayl tidak sanggup menahan dirinya, tubuhnya melejang-lejang sambil keduanya tangan meremasi rambutmu yang pendek! Beribu desah lolos dari bibirnya yang tipis merah.
Aku sendiri tidak akan melepaskan Nayl sebelum aku puas, salah dia sendiri kenapa berani memegang dadaku! Apa yang aku lakukan bisa seribu kali lebih berani darinya!
Nayl akhirnya aku lepaskan setelah suaranya serak akibat terus mendesah. Keadaannya sudah berantakan karena terlalu banyak mengejang dan berontak. Rambutnya tergerai menutupi wajahnya dan Nayl tampak meringkuk kelelahan dalam selimutku!
__ADS_1
Aku sudah berhasil menaklukkannya!
Aku pun memeluknya dari belakang dan kembali terlelap dalam mimpi.