Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 30 : Jadi Ganteng


__ADS_3

Ternyata Kak Fathya benar-benar tidak menyukai hubunganku dengan Nayl. Tepat seminggu kemudian saat aku kembali pulang ke rumah, aku bertemu dengan Papa yang baru pulang dari Kalimantan. Papa memang lebih sering berada disana dibandingkan dengan di Bandung.


Aku jarang bertemu dengan Papa, kalaupun bertemu paling hanya bicara sedikit tentang perkuliahan. Tapi hari ini Papa memintaku untuk menemuinya di ruang keluarga kami yang besar tapi jarang terisi tawa bahagia keluarga yang berkumpul.


Ternyata Papa memintaku menemuinya untuk membicarakan tentang Nayl. Rupanya Kak Fathya sudah menceritakan tentang Nayl pada Papa.


"Papa sayang kamu, Vajria. Papa tidak mau kamu salah dalam memilih teman dekat. Kakakmu bilang kalau kamu memutuskan hubungan dengan Alvin dan lebih memilih seorang pemuda rocker gondrong yang tidak jelas!" kata Papa.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alvin, Pah. Aku sama Alvin cuma teman biasa" kataku.


"Tapi Alvin bilang pada Papanya kalau kalian pacaran?"


"Enggak, Pah. Kalau aku pacaran sama Alvin gak mungkin aku secepat ini publikasi hubungan aku sama Nayl"


"Kamu tahu, Vajria? Karena menurut Alvin hubungan kalian kandas karena kehadiran pemuda bernama Nayl itu, Papa Alvin sampai mengancam akan menarik sahamnya dari perusahaan kita yang ada di Kalimantan"


Aku geleng-geleng kepala. "Jadi seperti itu sifat Alvin yang sebenarnya?! Manja dan pengadu kepada Papanya?! Cowok seperti itu tidak akan bisa menjadi teman hidup yang baik, Pah!"


Papa mengangguk. "Kamu benar, Vajria. Kalau masalah itu memang Papa juga kurang simpatik dengan Alvin yang berusaha untuk mencampur adukkan urusan kalian dengan bisnis Papa dengan Papanya"


"Nah itu!"


"Masalahnya sekarang, bagaimana dengan pemuda bernama Nayl itu?! Menurut Fathya, pemuda bernama Nayl itu seorang rocker, gondrong, pakai anting besar seperti pedangdut dan dia juga belum menyelesaikan kuliahnya di usia yang sudah dua puluh enam tahun?"


"Nayl lagi nyusun skripsi dan akan wisuda dua bulan lagi, Pah. Dia juga bukan seorang mahasiswa pengangguran. Nayl seorang vocalis band yang sering manggung di cafe"


"Kamu mencintai pemuda itu?"


Aku mengangguk pasti! "Ya, Pah. Aku mencintai Nayl dan sudah berjanji untuk selalu bersamanya dalam keadaan apapun!"


Papa menghela nafas panjang. "Apa yang membuat kamu sampai jatuh cinta kepadanya?"


"Aku gak tahu persisnya kenapa aku bisa jatuh cinta pada Nayl. Tapi yang jelas aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku ketemu dia! Nayl itu seorang pemuda yang cantik, Pah. Dia lembut dan feminim. Papa tahu kan aku ini seperti apa?! Aku tidak akan bisa jatuh cinta pada cowok, Pah. Nayl cantik, tapi dia cowok! Aku hanya bisa jatuh cinta kepadanya! Aku selama ini merasa memiliki jiwa yang berada didalam raga yang salah. Kehadiran Nayl yang membuat aku perlahan mulai menerima kenyataan kalau aku adalah seorang gadis..."

__ADS_1


Tanpa disangka, Papa mendekati dan memeluk tubuhku erat-erat. Pelukan seorang Papa yang hampir tidak pernah aku dapatkan. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Papa memelukku dan Kak Fathya. Mungkin saat Mama meninggal tujuh belas tahun yang lalu...


Sejak saat itu Papa seolah jauh dari kami.


Dia lebih memilih menghabiskan waktunya di Kalimantan dan hanya menitipkan aku dan Kak Fathya pada Bi Inah. Sehingga aku merasa tidak ada yang bisa melindungiku selain dari diriku sendiri! Maka dari itu aku harus menjadi seorang anak cowok agar tidak ada seorangpun yang akan berani mengganggu ku!


Dan saat ini mendapatkan pelukan hangat kembali dari Papa, aku merasa hatiku hangat dan mataku basah.


"Papa sayang kamu, Vajria. Maafkan Papa yang selama ini tidak pernah memperhatikan keadaan kamu dan Fathya. Papa seolah belum bisa bangkit dari rasa sakit akan kehilangan Mama kalian. Fathya tumbuh menjadi seorang wanita yang keras dan ambisius. Sementara kamu tumbuh menjadi sosok gadis yang berkepribadian seperti seorang lelaki" kata Papa dengan nada sedih.


Aku berlindung dalam pelukan Papa. Tidak pernah ada yang memelukku seperti ini. Bahkan Nayl-ku pun lebih sering berlindung dalam dekapanku, bukan melindungiku dalam dekapannya.


"Aku juga sayang Papa" kataku.


Papa melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. "Baiklah, sayang. Kalau kamu memang mulai merasa bisa menerima kenyataan bahwa kamu adalah seorang gadis, Papa izinkan kamu bersama Nayl"


Aku terbengong-bengong mendengar kata-kata Papa yang ajaib itu. "Papa mengizinkan aku bersama Nayl?! Papa serius?" tanyaku seolah tidak percaya.


Papa mengangguk. "Nanti malam kita ajak Nayl makan malam bersama disini"


"Kenapa?"


"Minggu kemarin juga Kak Fathya menunjukkan sikap gak enak sama Nayl. Aku takut malam ini Kak Fathya akan kembali bersikap dingin. Aku gak mau Nayl tersakiti lagi"


"Nanti Papa yang akan bicara dengan Fathya kalau dia harus bisa menghormati pilihan adiknya seperti kamu juga yang mau menerima Arga sebagai calon-nya Fathya"


Aku tersenyum dan memeluk Papa. "Makasih ya, Pah. Aku sayang Papa!"


"Papa juga sayang kamu, Vajria"


Dan saat aku menelepon Nayl untuk datang ke rumahku nanti malam, ternyata si cantik bersedia! Aku kira dia akan kapok datang ke rumahku setelah apa yang kakakku lakukan kepadanya.


"Dengan senang hati aku akan datang ke rumahmu, Vajria-ku yang manis!" kata Nayl saat aku meneleponnya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?! Vajria-ku yang manis?! Enak aja! Aku sama sekali tidak manis! Aku tampan!" kataku mendadak emosi mendapatkan sebutan manis dari Nayl.


"Emang kamu manis kok!"


"Tutup mulut kamu!"


"Aku serius, kamu manis! Manis sekali malah! Aku kan sudah sering mencicipi manisnya ***** kamu! Nyam-nyam!"


"Dasar cantik dan menyebalkan! Awas kamu nanti aku jadikan es krim jumbo!"


"Haha! Ampun! Jangan! Ini juga udah lecet karena sering kamu gigit!"


"Aku sekarang ingin bicara serius! Papaku ingin bertemu dengan kamu!"


"Oh ya?! Aku kira Kak Fathya yang mau ketemu aku lagi"


"Bukan!"


"Wah... Aku harus pakai baju apa buat ketemu calon mertua?!"


"Pokoknya jadilah diri kamu sendiri! Yang penting sopan!"


"Aku harus lebih baik dari Alvin! Aku akan sesuai menurut ekspektasiku! Bukan ekspektasi orang lain!"


Dan malam itu Nayl datang ke rumahku dengan dandanan yang sedikit agak kecowokan. Aku sendiri yang menjemputnya di depan rumah dan mengerutkan kening saat melihat bagaimana penampilannya.


"Kok gak cantik?!" protesku!


"Kalau cantik nanti gak boleh bawa kamu pulang malam ini!" kata Nayl.


"Ih... Kamu ternyata bisa ganteng! Aku jadi gak suka!"


"Lebih baik kamu yang gak suka daripada Papa kamu yang gak suka!"

__ADS_1


"Idih alah!"



__ADS_2