
Vajria POV
Dua Minggu setelah tragedi yang menimpa kepadaku...
Sedari pagi aku merasa tidak enak badan. Untungnya hari ini adalah hari Sabtu sehingga aku tidak perlu pergi ke kampus. Kepalaku pusing dan perutku mual. Aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur dan hanya berbaring sampai siang...
Hingga akhirnya Lily datang ke kamarku karena tidak melihatku sedari pagi.
"Ra, kamu sakit?" tanya Lily sambil duduk di sisi tempat tidurku. "Jam segini kamu masih selimutan"
"Aku gak enak badan..." kataku lemah sambil membuka selimut yang menutupi wajahku.
Lily memegang dahi dan leherku, "Badan kamu anget" katanya.
"Iya... Tadi pagi aku muntah-muntah"
"Ya ampun... Aku buatkan teh manis ya?"
"Boleh"
"Tunggu sebentar" Lily segera ke dapur untuk membuatkan aku teh manis. Tak lama kemudian dia sudah datang lagi dengan teh manis dan bubur ayam hangat.
"Nih makan dan minum dulu" kata Lily.
"Aku gak mau makan... Mual..." aku menolak.
"Gak boleh gitu! Makan aja sedikit. Aku udah bela-belain pesan online"
"Gak mau..."
"Aku suapin" Lily memaksa untuk menyuapi aku.
Aku terpaksa duduk dan memakan bubur ayam itu sendiri. Tapi baru tiga suap yang ku makan, mendadak rasa mual luar biasa menyerangku dan akibatnya aku berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah lagi!
Lily dengan panik segera membantuku untuk kembali ke atas tempat tidur. "Maaf ya, Ra. Gara-gara aku paksa, kamu jadi muntah lagi" katanya sedih.
"Kan aku udah bilang aku mual" kataku.
"Aku balur ya?" Lily mengambil minyak kayu putih dan membantu mengolesi di perut dan dadaku. "Kamu udah biasa pakai bra sekarang?"
"Iya, sayang di beliin Kak Fathya kalau gak di pake, ternyata enak juga pakai bra"
"Iyalah! Payudara kita itu harus di sangga"
"Duh, mual lagi!"
"Nih minum teh manisnya" Lily menyerahkan gelas teh manis padaku.
Aku meminumnya dan merasa agak enakan. "Makasih ya, Ly. Kamu baik banget sama aku"
"Abisnya dari pagi aku gak lihat kamu keluar kamar"
"Iya, aku gak kuat bangun..."
"Kamu kayak orang hamil, Ra"
Seketika itu juga wajahku terasa panas dan jantungku seolah berhenti berdetak! "Hamil?! Tidak mungkin! Enak aja kamu bilang!" aku marah dan membentak Lily!
Lily tampak kaget sekali! "Aku gak bilang kamu hamil, Ra. Aku cuma bilang kamu kaya orang hamil"
__ADS_1
"Aku tidak hamil!"
"Iya, aku percaya! Lagipula kamu sama Nayl kan belum pernah gituan"
Aduh, Ly! Kalau kamu tahu sebenarnya apa yang sudah Nayl lakukan kepadaku!
Setelah Lily pulang ke kamarnya, aku semakin merasa tidak enak badan. Aku juga merasa mulai khawatir kalau-kalau aku benar-benar hamil... Ya Tuhan... Jangan...! Aku tidak mau jadi ibu!
Tapi kan Nayl bilang dia keluarkan diluar?! Aku segera mengambil HP dan searching apakah kalau seorang cowok keluar diluar saat berhubungan intim bisa hamil juga? Dan jawabannya sangat mengejutkan! Ternyata benih s*perma yang di keluarkan diluar juga masih berpotensi menyebabkan kehamilan sebanyak 20%!
Aku langsung lemas... Bagaimana kalau aku betulan hamil?! Apakah Nayl mau bertanggung jawab?! Selama dua minggu ini dia selalu mengajakku untuk kembali bersama, kan?!
Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Nayl... Setelah kurang lebih satu bulan kami tidak ada komunikasi lewat telepon.
"Halo ayang" sapanya terdengar sangat mesra seolah kami tidak ada masalah.
"Kamu tahu ini nomor aku?! Aku kira kamu udah hapus!" kataku.
"Aku udah simpan lagi kok. Siapa tahu akhirnya kami berubah pikiran dan menghubungi aku"
"Kepedean!"
"Ini buktinya!"
"Ini penting! Aku sedang dalam masalah besar dan ini semua terjadi karena kamu!"
"Masalah apa? Kenapa karena aku?"
"Aku sakit, Nayl!"
"Apa?! Ayang aku sakit?! Sakit apa?!"
"Aku kesana sekarang! Ayang mau aku beliin apa? Atau mau aku masakin?"
"Aku tidak butuh makanan! Tadi juga Lily beliin bubur, aku muntah-muntah setelah memakannya!"
"Ya Tuhan... Kamu emang sakit apa, Ra? Mau aku bawa ke dokter?"
"Gak mau!"
"Maunya apa?"
"Nayl..."
"Iya, ayang?"
"Aku sepertinya hamil..."
Hening sejenak sebelum akhirnya terdengar suara Nayl. "Kamu hamil?"
"Sepertinya..."
"Kok bisa?!"
Aku merasa kesal karena Nayl bertanya seperti itu! "Ya bisalah! Aku punya rahim!"
"Bukannya begitu, Ra. Aku hanya bingung karena aku merasa tidak mungkin menghamili kamu"
Aku tambah kesal! "Ya sudah! Kalau kamu tidak mau mengakuinya tidak apa-apa!"
__ADS_1
"Eh, jangan marah dulu dong! Aku kesana sekarang! Kita obrolin lagi biar jelas ya!"
Tak lama kemudian Nayl muncul di kos-an ku dengan membawakan aku berbagai roti aneka rasa. Di ciumnya pipiku kiri kanan lalu dia duduk di sisiku yang masih berbaring di atas tempat tidur. "Gimana sekarang keadaan kamu, Ra?" tanyanya.
"Masih pusing, lemas dan mual!" jawabku
"Duduk dulu yuk, makan dulu" kata Nayl sambil membantuku untuk duduk.
"Gak mau... Mual..." kataku.
Nayl merangkul bahuku lalu mengusap-usap perutku. "Ada Nayl kecil ya didalam sini?"
Aku menepis tangannya. "Apaan sih?! Tadi gak mau ngakuin!"
"Tadi masih kaget"
"Kalau sekarang?"
"Sekarang seneng banget!"
"Tapi kan belum tentu juga aku hamil!"
"Emang kalau aku keluarin diluar bisa hamil juga ya?"
"Aku udah searching di Google, katanya ada kemungkinan hamil 20%!"
"Oh begitu... Gimana kalau kita ke dokter saja untuk memeriksa keadaan kamu. Kalau kamu hamil, kita kan bisa minta vitamin atau suplemen. Kalau kamu sakit, kita minta obat"
Aku menggeleng panik! "Aku gak berani! Aku takut kalau aku betulan hamil..."
Nayl memeluk erat tubuhku, "Kamu gak usah takut, kalau kamu hamil kan itu artinya bayi dalam kandungan kamu adalah anak aku. Kita akan besarkan dia bersama-sama!"
"Tapi aku gak mau mengurus Baby! Aku yang kerja cari uang! Kamu dirumah! Jadi ibu rumah tangga! Kamu masak, nyuci, ngurus anak, dan pake daster! Hahahaha!"
Nayl malah ikutan tertawa.
"Kok malah ikutan ketawa?!"
"Lucu aja! Nah sekarang berarti kita baikan! Demi anak kita!"
Aku diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Iya deh, aku mau baikan sama kamu, demi anak kita..."
Nayl mencium perutku yang rata, "Makasih ya, sayang! Karena kamu, Papa dan Mama sekarang sudah baikan!"
"Aku yang jadi Papanya!" kataku segera!
"Terserah kamulah!"
"Aku mau punya anak cewek yang cantik seperti kamu, Nayl...!"
"Aku maunya punya anak cowok yang ganteng seperti kamu!"
Kami pun tertawa bersama. Aku merasa kembali dekat dengan Nayl...
"Nah, sekarang kamu makan rotinya ya?!" kata Nayl sambil mengambil satu roti yang dibawanya dari kantong plastik besar.
"Suapin ya?"
"Iya, ayang!"
__ADS_1