
Perkenalan ku dengan Nayl terjadi tidak sengaja. Beberapa waktu setelah acara pentas seni di kampus, aku akhirnya bertemu lagi dengan Nayl pada suatu pagi saat aku sedang dalam perjalanan ke kampus dengan mengendarai motor besar ku.
Aku tinggal di satu tempat kosan yang tidak jauh dari kampus ku. Mungkin hanya sekitar dua kilometer saja. Waktu itu aku melihat si cantik berambut panjang itu sedang berjongkok di pinggir jalan sambil memeriksa motor besarnya yang sepertinya sedang mogok.
Aku segera menghentikan laju motor besar ku tepat di sampingnya. Kebetulan memang sudah beberapa hari ini aku selalu iseng mencarinya karena jujur aku kadang teringat pada sosok nya yang menarik.
"Hai cantik!" sapa ku iseng. Padahal aku tahu dia adalah seorang cowok!
Nayl menengadah ke arah ku dan mengerucutkan bibirnya sendiri. Gumush nya...
Tapi kemudian dia kembali fokus kepada motor nya.
"Hey, di sapa kok gak jawab?!" tanyaku.
Nayl akhirnya berdiri dan menatap ku dengan cemberut. "Kamu ini siapa sih?! Enak saja memanggil aku cantik! Aku ini cowok!" sungutnya kesal!
"Orang kamu memang cantik, kok!" kataku iseng.
"Terserah kamu lah!"
"Motor kamu kenapa? Mogok ya?" tanyaku.
"Iya, nih! Gak tau ada apa! Ada yang gak beres! Mana sudah siang!" jawab nya dengan nada jengkel.
"Ya sudah kamu ikut aku aja! Aku bonceng!"
"Memangnya kamu mau kemana?" Nayl menatap curiga kepadaku.
Apakah dia takut kalau aku akan menculiknya?!
"Ke kampus lah! Masa ke pasar?!"
"Kampus? Emang kamu anak universitas Buana juga?!"
"Iyalah! Mana mungkin aku ngajakin kamu barengan kalau kampus kita gak sama?!"
"Tunggu sebentar! Aku sekarang inget kamu! Kamu cewek tomboi yang waktu pentas seni video-in aku dari sisi panggung kan?!" katanya semangat.
Tapi aku malah merasa kesal! Kok dia tahu sih aku cewek! Aku maunya dia menyangka aku cowok! Sumpah!
"Kata siapa aku cewek?! Aku cowok kok!" kataku menyangkal.
__ADS_1
Nayl mencibir lucu. "Cowok dari mana?! Suaranya kecil, badannya bagus, cantik lagi!"
Wajahku terasa panas mendengar kata-kata Nayl itu! "Enak aja kamu bilang aku cantik! Kamu tuh yang cantik!"
"Kamu juga cantik!"
"Stop! Aku gak cantik! Aku ganteng!"
Nayl tampak bingung.
"Gak usah bengong gitu! Ayo sekarang kamu naik motor ku! Aku bonceng sampai ke kampus!"
"Tapi..."
"Tapi apa?! Aduh kamu ini mau di tolong aja pake bawel segala!"
"Masa aku di bonceng cewek?! Kamu turun dulu! Aku yang bawa motornya!"
"Enak aja! Ini motor ku!"
"Terserah kalau gak mau!" aku pura-pura akan berlalu dari hadapannya dengan menyalakan mesin motor ku.
"Eh, tunggu dulu! Jangan pergi! Aku ikut kamu!" kata Nayl akhirnya.
"Nah gitu kek dari tadi!"
"Tapi aku nelpon temen dulu yang kerja di bengkel. Suruh dia ambil motor ku" Nayl segera menelepon temannya untuk segera mengambil motor nya yang mogok agar dibawa ke bengkel.
Aku sabar menunggu karena tidak mau kehilangan kesempatan untuk membonceng si cantik!
"Nah selesai! Sekarang aku bisa ikut kamu!" kata Nayl sambil tersenyum. Candu banget senyumnya...
"Ya udah, ayo naik!" kataku.
"Tapi sebelum aku ikut kamu, kita sebaiknya kenalan dulu ya?!" Nayl mengulurkan tangannya. "Aku Nayl"
"Nayla?!" tanyaku sambil menyambut jabatan tangannya.
"Nayl! Bukan Nayla!"
__ADS_1
"Nayla aja, kaleh! Lebih cocok! Hahahaha!" aku malah tertawa terbahak-bahak.
Nayl cemberut. "Terserah kamu! Kamu siapa?!"
"Aku Vajria, tapi kamu boleh panggil aku Vajra atau Ra aja"
"Idih! Kamu mah nama udah cewek malah di rubah kaya cowok!"
"Suka-suka aku lah! Kamu juga aneh! Masa Nayla kamu rubah jadi Nayl?!"
"Ih kalau aku beneran! Aku emang Nayl!"
"Ya udah, kita berangkat sekarang!" Aku menghidupkan kembali motor ku. Nayl segera naik di belakangku dan merangkul pinggangku.
"Nah, gitu! Pegangan yang kenceng! Ntar jatuh" kataku.
"Ih kamu mah!"
Sejak saat itu aku dan Nayl menjadi dekat satu sama lain. Kami selalu bersama. Kalau aku selesai kuliah duluan, aku jemput dia ke kelas komunikasi. Sebaliknya kalau dia selesai kuliah duluan, dia yang jemput aku ke kelas arsitektur.
Kehidupan di kampus jadi menyenangkan. Dimana ada aku, pasti ada Nayl. Sebaliknya dimana ada Nayl pasti ada aku. Kita sudah selayaknya dua kembar siam yang tidak bisa di pisahkan lagi. Nayl sudah seperti perangko dan aku adalah amplop nya. Dia selalu nempel dan tidak mau jauh-jauh dariku.
Aku sendiri perlahan mulai tidak bisa jauh dari Nayl. Aku merasa ada yang kurang kalau Nayl tidak ada di mataku. Sosoknya yang cantik dan manis selalu bikin kangen...
Aku jadi heran dengan diriku sendiri. Aku tidak pernah merasa tertarik pada siapapun kecuali kepada Nayl. Aku tidak suka cowok dan juga tidak tertarik pada cewek! Aku justru menyukai Nayl yang cowok tapi berpenampilan seperti cewek.
Nayl cantik alami. Dia tidak berusaha untuk tampil cantik, tapi dia memang cantik. Bentuk mata, hidung dan bibirnya benar-benar menggambarkan kesempurnaan yang selalu di inginkan oleh setiap wanita. Nayl juga suka merawat rambut panjangnya ke salon bahkan alis matanya sudah terbentuk indah secara alami. Nayl juga selalu memakai anting-anting panjang di kedua telinganya. Karena kecantikan Nayl, aku bahkan sampai memasang foto Nayl sebagai wallpaper HP ku.
Satu sifat lain yang di miliki Nayl adalah manja. Dia itu seperti kucing. Mau nya deket-deket terus. Geser-geser, mepet-mepet, meang-meong. Kalau manja nya udah dateng, dia persis seperti anak kucing kecil yang minta di sayangi.
Aku sendiri memposisikan diri sebagai seorang cowok yang selalu melindunginya. Aku selalu memberikan bahuku sebagai tempatnya bersandar. Aku juga selalu membelai rambut panjangnya kalau dia sedang bersandar di bahuku.
Dua bulan kami menjalani kebersamaan sebagai sepasang sahabat dekat. Orang-orang di kampus mulai menuduh kalau kami ini adalah sepasang kekasih. Aku kadang bingung untuk klarifikasi soal masalah ini. Aku dan Nayl memang dekat tapi kami bukan pacar. Tapi mereka tidak percaya begitu saja. Mereka yakin kalau kami hanya menyembunyikan status pacaran sebagai sahabat dekat.
Ya terserah mereka mau bilang apa!
Yang aku bingung, ada beberapa orang yang menanyakan tentang status ku dengan Nayl. Dan aku menjawab kalau aku teman dekat Nayl, tapi mereka berkata: "Lho, kata Nayl kalian emang pacaran!"
Saat aku klarifikasi ke Nayl, dengan entengnya dia malah bilang. "Ya gak apa-apa kok kalau aku bilang kamu pacar aku! Kan kamu cewek! Aku cowok! Gak ada salahnya kan?! Kita tidak melanggar kodrat?!"
Idih alah!
__ADS_1