Terjebak Raga Yang Salah

Terjebak Raga Yang Salah
Bab 33 : Kuat Untuk Menguatkan


__ADS_3

Vajria akhirnya tersadar saat aku memakaikan pakaian padanya. Ingatannya langsung tertuju pada Papanya dan matanya langsung basah. "Nayl... Papa..." katanya pilu.


"Iya, Ra. Kamu sabar ya. Semoga Papa kamu gak apa-apa. Kita ke Jakarta sekarang ya? Kak Arga udah share lokasinya" kataku.


"Kita pinjam mobil Lily ya? Kamu yang nyetir"


"Iya ayang"


"Nayl... Aku takut"


Aku mendekap erat tubuh Vajria dan membisikkan kata-kata untuk menguatkannya. "Kamu tenang ya, Ra! Papa insya Allah gak apa-apa. Kita kesana sekarang"


"Aku selama ini gak dekat sama Papa. Aku baru merasakan bagaimana kasih sayang seorang Papa saat kita makan malam waktu itu... Aku gak mau kehilangan Papa"


Aku bersama Vajria pun berangkat ke Jakarta dengan meminjam mobil Lily. Sepanjang jalan Vajria tampak murung dan beberapa kali meneteskan air mata.


Begitu sampai di rumah sakit dimana Papanya dirawat ternyata Kak Arga dan Kak Fathya sudah berada didepan ruang ICU. Kak Fathya segera memeluk erat Vajria dan mereka kembali bertangisan. Aku dan Kak Arga hanya bisa mencoba menguatkan hati kakak beradik itu.


Sekitar dua puluh menit kemudian keluar seorang dokter dari dalam ruang ICU. Wajahnya menunjukkan guratan kesedihan dan aku seketika merasa khawatir dengan kondisi Papa Vajria.


Kak Fathya segera menghampiri dokter itu dan bertanya tentang keadaan Papanya.


"Dokter, bagaimana dengan keadaan Papa saya?" tanyanya.


"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa Papa anda. Tapi takdir menyatakan lain. Papa anda tidak bisa diselamatkan karena luka parah di bagian kepala" kata dokter itu dan seketika kak Fathya dan Vajria menjerit histeris lalu kembali pingsan.


"Inalilahi wainalilahi roziun" ucapku sedih sambil memeluk tubuh Vajria yang sudah tidak sadarkan diri.


Kak Arga juga segera memeluk tubuh Kak Fathya yang ambruk pingsan. Saat ini keadaan Fathya dan Vajria tidak memungkinkan untuk mengambil keputusan tentang kepergian Papa mereka. Maka aku dan Kak Arga yang terpaksa harus mengurus semua keperluan untuk kepulangan jenazah Papa ke Bandung.


Dari awal kepulangan jenazah Papa ke Bandung hingga ke pemakaman, Vajria dan Kak Fathya tidak hentinya menangis dan berkali-kali pingsan.


Aku sendiri ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi aku harus tetap kuat untuk menguatkan Vajria-ku! Kalau aku ikut rapuh, bagaimana aku bisa menopang Vajria? Makanya aku bertahan untuk tidak kehilangan kesadaran walaupun sedih yang kurasakan seolah menghancurkan diriku sendiri!

__ADS_1


Seusai pemakaman Papa, aku pun bertahan di rumah Vajria bersama Kak Arga selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut untuk membantu Vajria dan Kak Fathya menggelar pengajian untuk almarhum Papa.


Hingga akhirnya selesai tujuh hari meninggalnya Papa dan aku memohon izin pulang ke kos-an karena aku sudah terlalu lama tidak pergi ke kampus dan pekerjaanku sebagai pengisi acara di cafe pun terlantar.


Maka pada pagi hari itu aku pamit pulang kepada Vajria yang masih terlihat sedih dan berduka.


"Ayang, aku pulang hari ini ya?" kataku.


"Iya boleh" kata Vajria pelan dengan tatapan mata kosong.


"Aku udah terlalu lama gak ke kampus dan kerjaan aku gak kepegang juga. Tapi aku janji akan segera kesini kalau aku senggang"


"Iya. Aku gak mau kamu kena skors dosen karena gak ada terus di kampus. Kalau aku sih udah izin karena Papa meninggal. Tapi aku juga akan segera kembali ke kampus. mungkin Senin ini aku kembali kuliah"


Aku mencium pipinya kiri kanan. "Ayang gak apa-apa kan aku tinggal?" tanyaku.


"Gak apa-apa. Ada Kak Fathya juga kan"


"Kalau ada apa-apa, ayang segera telepon aku ya!"


"Nayl sayang ayang Vajria!" aku mencium keningnya.


"Aku juga sayang kamu, cantik"


Vajria pun mengantarkan aku menemui Kak Arga dan Kak Fathya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Kak, Nayl mau pamit pulang" kata Vajria.


"Aku juga pulang dulu hari ini" kata Kak Arga yang juga kelihatan sudah rapi pagi itu.


"Kamu bisa duduk dulu sebentar, Nayl?" tanya Kak Fathya pada Nayl.


"Bisa, Kak" Nayl duduk di atas sofa ditemani aku di sebelahnya.

__ADS_1


"Nayl, Ra. Aku dan Arga memutuskan untuk segera menikah bulan depan" kata Kak Fathya.


"Alhamdulillah" kataku sambil mengusap wajah.


"Aku merasa tidak bisa menjalani hari-hariku tanpa adanya Arga disisi aku. Aku down berat! Aku merasa tidak ada pijakan lagi..." kata Kak Fathya lagi.


"Iya Nayl, makanya aku akan melamar Fathya secepatnya. Mungkin akhir pekan ini. Aku tidak tega membiarkan dia sendiri disini tapi aku juga kan gak mungkin terus tinggal disini kalau belum ada ikatan resmi diantara kami berdua" kata Kak Arga.


"Alhamdulillah kalau begitu, kalian berdua akan segera menikah dan menjadi keluarga yang bahagia" kata Vajria.


Aku seketika baper... Ingin nikah juga...


"Papa juga kan sempat bilang pada kita untuk menjaga Fathya dan Vajria pada malam kita makan bersama waktu itu" kata Kak Arga.


"Iya, aku juga ingat pesan Papa itu. Sayang sekali aku gak bisa ketemu Papa lagi padahal kami baru pertama kali bertemu" kataku.


"Tapi Papa tetap bisa melihat kita dari atas sana untuk menjalankan pesan terakhirnya, Nayl" kata Kak Arga.


"Iya Kak. Aku akan jagain Vajria seperti pesan Papa"


"Kamu bisa pegang kata-kata kamu itu, Nayl?! Kamu akan jaga adik saya selamanya hingga nanti kalian menikah?!" tanya Kak Fathya serius dan menatap mataku dalam-dalam.


Aku mengangguk pasti! "Aku janji sama Kak Fathya dan Kak Arga untuk selalu jagain Vajria selamanya sesuai pesan Papa"


"Kalau begitu aku titip Vajria sama kamu ya? Sekarang dia milik kamu. Kalau bisa kalian segera bertunangan setelah kamu wisuda nanti"


Aku terperangah. "Kak Fathya mengizinkan aku untuk memiliki Vajria?"


Kak Fathya mengangguk. "Iya, Nayl. Sepertinya Vajria cuma bisa bahagia sama kamu. Lagipula Papa juga sudah menitipkan Vajria sama kamu. Aku bahkan belum pernah melihat Papa bahagia seperti saat dia melihat kamu menyanyikan lagu untuknya"


"Makasih, Kak! Alhamdulillah...!" aku merasa sangat bahagia dan langsung memeluk Vajria erat-erat. "Ayang, kita udah dapet restu sekarang!" bisikku di telinganya.


"Iya Nayl..." Vajria hanya bisa menjawab pelan dan tatapan mata masih kosong seolah dia sudah tidak berjiwa lagi. Begitu dalam Vajria tenggelam dalam luka hatinya yang tidak berkesudahan.

__ADS_1


"Kamu harus percaya kalau aku pasti bisa membuat senyummu kembali merekah, Ra! Aku akan menjadi sandaran dan tambatan untuk kamu! Karena aku akan kuat untuk menguatkan kamu!" kataku lalu mengecup keningnya.


Vajria kini menatap wajahku dan tersenyum tipis. "Aku percaya kamu, Nayl..." katanya.


__ADS_2