
Aku membawa Nayl memasuki ruang makan keluarga yang cukup besar dan megah. Berbagai hidangan lezat sudah tersedia diatas meja makan (Dan tentunya sudah aman dari jagung). Papa, Kak Fathya dan Kak Arga juga sudah duduk di kursi makan yang sudah disediakan.
Aku menggandeng tangan Nayl yang terasa dingin untuk menghampiri Papa yang langsung berdiri dengan senyum ramah dan mata memperhatikan sosok Nayl lekat-lekat.
"Pah, kenalin ini Nayl. Teman dekat aku" aku memperkenalkan Nayl pada Papa.
"Selamat malam, Om" sapa Nayl seraya mencium tangan Papaku.
"Selamat malam, Nayl. Terima kasih sudah datang"
"Saya yang harusnya mengucapkan terima kasih karena Om sudah mengundang saya kesini"
"Om hanya ingin melihat seperti apa teman dekat Vajria"
Selanjutnya Nayl mengulurkan tangannya pada Kak Fathya dan Kak Arga. "Selamat malam, Kak" sapa Nayl.
"Selamat malam, Nayl. Silahkan duduk" kata Kak Arga ramah sebaliknya Kak Fathya tetap diam dengan wajah dingin.
Kami pun makan malam bersama dengan di selingi dengan obrolan ringan. Papa banyak bertanya kepada Nayl tentang kuliah dan pekerjaannya, sementara Kak Arga dan aku menyimak dengan baik. Hanya Kak Fathya yang cemberut seolah acara makan malam ini membosankan untuknya.
Hingga akhirnya obrolan mereka sampai pada musik rock, Papa terkesima saat menanyakan lagu apa yang biasa Nayl bawakan saat manggung di cafe-cafe.
"Kamu suka bawain lagu Nirvana?! Wah luar biasa! Lagu-lagunya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi!" kata Papa kagum.
"Lumayan susah lagunya, Om. Trus she's gone nya Stellheart" kata Nayl.
"Stellheart juga?! Luar biasa!"
"Nayl bahkan membawakan lagu itu sambil duduk, Pah" tambahku yang baru tahu ternyata Papa suka juga dengan musik rock.
"Kamu mau bawakan lagu she's gone untuk saya?" tanya papa tiba-tiba.
Nayl jadi bengong. "Kapan Om?"
"Sekarang! Kita ke ruang kerja saya!"
Aku dan Nayl saling bertatapan. Sementara Kak Arga dan Kak Fathya juga saling melirik.
"Ayo, Nayl!" kata Papa seraya merangkul bahu si cantik hingga Nayl memandang padaku dengan satu senyuman kemenangan.
__ADS_1
Papa melangkah lebih dulu dengan merangkul bahu Nayl dan kemudian berpaling pada Kak Arga saat hampir keluar dari ruang makan. "Arga, kamu mau ikut bermusik dengan Om?" tanya Papa.
Kak Arga tampak grogi. "Anu Om, saya gak tahu Nirvana ataupun Stellheart" jawabnya malu-malu.
"Dengerin dulu aja, Kak Arga! Nanti juga tahu!" kataku.
"Iya ya" kata Kak Arga lalu melangkah mengikuti Papa dan Nayl yang sudah menuju tangga ke lantai dua dimana terdapat ruang kerja Papa.
Aku melirik Kak Fathya, "Ayo kita ikut ke atas, Kak! Kita lihat bagaimana Nirvana menyatukan mereka!"
Kak Fathya tersenyum sinis, "Hebat juga cowok kamu yang estetik itu! Dia berhasil memenangkan hati Papa, bahkan pada pertemuan pertama! Luar biasa!"
"Ya, Kak. Nayl memang cantik, gahar, dan luar biasa!"
"Ya sudah! Sana naik duluan! Aku mau bikin kopi dulu buat Arga!"
"Sekalian buat Nayl, Kak! Nayl suka minum kopi hitam sebelum ferfom!"
"Enak aja! Bikinin sendiri!" Kak Fathya melotot.
"Ya udah, sekarang aku yang bikin kopi buat Nayl, Arga dan Papa juga!"
"Sejak memiliki Nayl yang cantik!"
"Hm... Kamu juga sudah agak cantik ya sekarang? Mulai terlihat ceweknya! Luar biasa efek seorang Nayl itu!"
Aku mengedipkan sebelah mataku. "Kak Fathya tetap wanita yang tercantik!"
Kak Fathya tersenyum sedikit. Hm... Mulai jinak juga dia!"
Aku membuat tiga gelas kopi hitam panas dan kemudian membawanya ke lantai atas dimana saat itu Papa sedang duduk bersama Kak Arga memperhatikan Nayl yang sedang menyetel gitar listrik milik Papa yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah di mainkan. Aku sendiri hampir lupa kalau di ruang kerja Papa ada gitar. Sementara Kak Fathya tidak ada disana.
Nayl selesai menyetel gitar Papa dan tersenyum manis. "Mau lagu apa,Om?" tanyanya.
"Stellheart dulu, Nayl! She's gone!" jawab Papa semangat.
"Lagunya berat" kata Nayl sambil nyengir dan menatapku, "Ayang, aku mau minum dulu"
__ADS_1
"Ini aku udah buatin" aku menyodorkan secangkir kopi hitam yang langsung diminum oleh Nayl sebelum dia ferfom didepan Papa dan Kak Arga.
Suara mahal Nayl pun akhirnya terdengar memecahkan suasana ruang kerja Papa yang biasanya sunyi dan hening. Suara rendah dan tingginya mengalun merdu dan membuat aku merinding. Nayl dan suaranya memang cantik, gahar, dan luar biasa!
Papa dan Kak Arga juga tampak terbengong-bengong melihat bagaimana ferfom Nayl saat itu. Papa bahkan sampai bertepuk tangan ketika Nayl selesai menyanyikan lagu legendaris itu.
"Hebat sekali, Nayl! Its amazing!" seru Papa.
"Masih harus banyak latihan, latihan, dan latihan Om" kata Nayl.
"Smells like teen spirit, Nayl! Bawakan lagu itu sekarang!" kata Papa kini meminta lagu milik Nirvana.
"Boleh, Om" Nayl menyanyikan lagu legendaris Nirvana itu dengan aransemen lebih lembut dan indah. Bukan main suara si cantik ini! Lagu yang dibawakannya selalu jadi miliknya sendiri!
Kak Arga pun bertepuk tangan saat mendengar lagu yang satu ini! "Nah, kalau yang ini aku tahu, Ra! Ini familiar! Sering dengar!" kata Kak Arga padaku dengan nada suara kagum tingkat tinggi!
"Iya, Kak Arga. Siapa sih yang gak tahu lagu ini! Lagu ini adalah lagu favorit yang selalu Nayl bawain kalau ferfom!" kataku.
"Kok bisa dibikin jadi indah seperti ini ya?"
"Bisa aja, Kak! Si cantik gitu lho!"
"Iya, Ra! Cowok kamu itu cantik sekali!"
"Awas jangan naksir calon ipar sendiri!" aku melotot!
"Hahahaha!" Kak Arga malah tertawa terbahak-bahak.
"Kak Arga mau request lagu juga?" tanya Nayl kali ini pada Kak Arga.
"Enggak, Nayl. Aku sukanya lagu-lagu Dewa 19" jawab Kak Arga.
"Dewa 19 juga bisa Kak" kata Nayl dan mulai memetik gitarnya untuk memainkan lagu Dewa 19 - Aku milikmu.
Kak Arga jadi ikut terbengong-bengong mendengar Nayl membawakan lagu itu. "Luar biasa! Kok bisa beda sekali ya?! Jadi lebih energik!" serunya.
Satu jam sudah Papa dan Kak Arga menonton ferfom Nayl yang luar biasa hingga akhirnya Papa meminta Nayl untuk berhenti karena khawatir si cantik kelelahan. Saat itu Kak Fathya juga sudah bergabung dengan kami.
"Nayl, Om senang sekali bisa mengenal dan mendengar suara kamu malam ini. Om sudah lama sekali tidak merasa bahagia seperti ini. Berkumpul bersama anak-anak perempuan Om yang tersayang" kata Papa.
__ADS_1
"Om harap kamu bisa menjaga Vajria dengan sepenuh hati seperti juga yang Om pinta pada Arga. Tolong kalian sayangi dan jaga anak-anak Om untuk selamanya. Om titip Fathya dan Vajria pada kalian"