
Vajria POV
Aku tidak menyangka kalau Nayl akan membuat satu pengakuan mengejutkan malam ini. Nayl bilang belum pernah melakukan hal itu padaku? Dia hanya ingin agar aku merasa kalau aku sudah menjadi miliknya seutuhnya!
Jadi aku masih seorang gadis perawan yang masih suci? Ya Tuhan... Ini benar-benar membuat aku terguncang... Apa yang saat ini aku rasakan? Bahagia atau malah sebaliknya?
Gilanya aku tadi hampir memaksakan diri untuk memasukkannya lebih dalam lagi! Pantas saja terasa sangat menyakitkan! Keterlaluan kamu, cantik! Tanpa kamu membuat cerita tentang diriku yang sudah kamu renggutpun, aku pasti akan kembali padamu dan akan selalu menjadi milikmu...
Lalu kemana sekarang si cantik Nayl? Sepertinya aku harus segera keluar dari kamar dan mencarinya. Aku akan memeluknya karena dia sudah menjaga dan mempertahankan diriku dengan sebaik-baiknya. Aku bangga bahwa ternyata aku masih memiliki sesuatu yang berharga dalam diriku karena seorang kekasih yang baik tidak akan merenggut sebelum waktunya.
Aku harus segera mencari Nayl dan menguatkan hatinya. Aku tahu pasti dia saat ini sedang terguncang karena aku tadi sempat mengatakan kepadanya bahwa dia tidak jantan. Aku tahu itu pasti melukai harga dirinya sebagai seorang cowok.
Aku turun dari atas tempat tidurku dan memunguti pakaianku yang berceceran. Ku pakai segera pakaian itu dan bergegas keluar dari kamar. Aku melihat Nayl sedang berada di dapur. Duduk di depan meja makan minimalis dengan secangkir kopi hitam dan sebatang rokok ditangannya.
Aku menghampiri Nayl yang saat itu sedang duduk melamun sendiri. Matanya tampak kosong dan menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Cantik" aku memanggilnya dengan panggilan kesayangan itu.
Nayl menoleh dan tersenyum gugup.
"Ayang" sapanya.
Aku tidak dapat menahan perasaanku dan segera memeluknya erat-erat. Ku dekap kepalanya ke dadaku dan ku ciumi rambutnya.
"Maafkan aku, cantik..." bisikku.
Nayl melepaskan dirinya dari dekapanku dan menatap wajahku dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayang gak marah?"
"Aku tidak bisa marah sama cantiknya aku!" aku mengusap kedua belah pipinya.
Air mata Nayl menetes. "Aku gak bisa menjadi seperti yang ayang mau, aku tidak jantan..."
"Hus!" aku lintangkan jari telunjukku di bibirnya. "Kamu gak boleh bilang seperti itu. Aku tahu maksud kamu, kamu gak mau melakukan itu karena kamu mau menjaga aku"
"Iya, ayang... Aku mau jaga kamu sampai aku halalin"
"Makasih ya, Nayl... Aku selalu menggoda kamu untuk melakukan dosa. Tapi aku juga gak tahu kalau aku sebenarnya masih belum kamu apa-apain"
"Enggak, Ra... Kamu masih utuh..."
"Kamu baik banget, cantik!" aku mencium bibirnya yang merah dan mengacak rambutnya.
Air mata Nayl menetes...
"Eh, kok nangis?! Gak boleh! Cowok gak boleh nangis!" kataku lalu menyeka air matanya.
"Cowok juga kan manusia" Nayl cemberut.
__ADS_1
Aku memeluk Nayl lagi dan membelai-belai rambutnya yang indah. "Sekali lagi makasih ya, cantik! Kamu baik, kamu cantik, kamu segalanya buat aku!"
"Aku kira kamu akan kembali marah dan ninggalin aku kaya dulu..." kata Nayl.
"Setelah apa yang sudah kita lalui selama hampir satu tahun lamanya, aku tidak punya alasan sedikitpun untuk meninggalkan kamu!"
"Makasih, ayang Vajria... Nayl sayang kamu banget"
"Sayang banget juga!"
Kami saling bertatapan dan kemudian berciuman dengan mesra.
"Berarti kita gak boleh gituan lagi ya?!" tanya Nayl.
"Lho kenapa?! Kan enak?!" jawabku iseng.
Aku senang sekali menggodanya dengan kata-kata nakal seperti ini sehingga membuat dia jengah dengan pipi memerah jambu.
"Kan sekarang kamu udah tahu kalau kamu masih gadis"
"Kan bisa dicoba kepalanya aja!"
"Ah... Kamu mah nakal! Suka minta lebih dalam, lebih kenceng, lebih cepet! Kalau kelepasan gimana? Tadi juga hampir..."
"Hampir apa?"
"Hampir sobek!"
"Pasti sakit, Ra. Aku juga ngilu... Susah banget masukinnya"
"Kamunya setengah hati! Kalau udah yakin pasti kamu bisa!" aku mencubit pipinya.
*******
Hubungan kami pun menjadi kian dekat. Kami saling mencintai, melindungi dan mengisi. Walaupun kadang aku yang merasa dominan, tapi ada saatnya aku juga membutuhkan Nayl sebagai sandaranku.
Dan akhirnya tiba saat Nayl menjalani wisuda. Aku datang pagi-pagi ke kos-annya untuk menjemput dan mengantarkan Nayl ke gedung tempat dimana akan di laksanakannya acara wisuda tersebut.
Nayl tampak cantik sekali dengan rambut panjangnya yang di gerai dan baju toganya. Aku sendiri tampil macho dengan rambut yang sudah dipotong pendek sore kemarin sepulang dari rumahku.
Nayl tersenyum lebar ketika melihat kedatanganku. "Ayang aku ganteng banget!" katanya.
"Pacar aku juga cantik!" kataku.
"Kapan ayang potong rambut? Kok gak minta izin sama aku?"
__ADS_1
"Kemarin sore pas pulang dari rumah. Kenapa aku minta izin? Kan ini rambut aku!"
"Masih pendek sudah di potong. Aku juga yang panjang sayang mau di potong"
"Gak enak! Gerah dan udah nyolokin mata! Kamu gak suka ya?!"
"Gak apa-apa, kok! Aku lebih suka kamu yang seperti ini"
"Aku juga lebih suka kamu yang cantik!"
Aku merapikan rambut Nayl lalu membantu memasangkan topi wisudanya. "Selamat ya, cantik! Kamu sudah jadi sarjana!"
"Makasih, ayang" Nayl mencium pipiku kiri kanan.
"Keluarga kamu udah sampai dimana?"
"Udah di gedung"
"Kak Fathya sama Kak Arga gak bisa hadir karena ada metting penting sama WO buat acara nikahannya yang tinggal dua minggu lagi. Tapi dia udah titip salam buat kamu"
"Iya gak apa-apa, yang penting adiknya ada!"
"Pasti ada dong!"
Kami pun tertawa bersama dan Nayl merangkul leherku sambil mendekatkan wajahnya. "Cium dulu, Ra. Kamu yang ganteng seperti ini kok bikin aku nafsu"
"Hahahaha, kalau bukan mau wisuda kita boboan ya?" aku mencium Nayl dan ciuman kami tidak bisa berhenti sampai disini sebelum akhirnya seorang sahabat Nayl menelepon karena acara wisuda akan segera dimulai sementara Nayl belum muncul di lokasi.
"Ya udah kita berangkat sekarang yuk?" kataku lalu menggandeng Nayl keluar dari dalam kos-an untuk segera pergi dengan mengendarai mobil almarhum Papa yang di berikan oleh Kak Fathya kepadaku.
Saat itulah tiba-tiba Rini datang menghampiri dan memeluk tubuhku. "Vajra! Ih gantengnya!" pekiknya centil! "Sulit aku percaya kalau kamu sebenarnya adalah seorang cewek!"
"Hai, Rin" kataku sambil mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Risih.
"Mau kemana?" tanya Rini sambil mencubit pipiku.
"Mau temenin Nayl acara wisuda" jawabku.
"Kali-kali temenin aku ya?"
Dan aku lihat wajah cantik Nayl merenggut yang artinya dia tidak suka. Aku pun segera membukakan pintu untuk Nayl dan menarik lengannya. "Silahkan masuk, cantiknya aku"
"Makasih, ayang" dan seketika itu juga wajah Nayl langsung sumringah.
Aku mencium pipinya terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menutup pintu mobilku untuknya.
"Ih so sweet...! Aku kok kaya melihat kamu memang seperti seorang cowok tulen yang manjain ceweknya banget ya?!" kata Rini.
__ADS_1
Aku mengerling, "Iya, Rin! Aku tuh sebenernya cowok! Aku cuma terjebak didalam raga yang salah!"
Rini tampak bengong mendengar kata-kataku itu.