Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Pangeran tanpa kuda


__ADS_3

Semua orang sangat terkejut dengan kedatangan seseorang yang berhasil membuat mereka mematung di tempatnya masing-masing.


Semuanya dibuat penasaran siapa gerangan seseorang yang berani membayar dengan harga yang lebih mahal.


Begitu pun dengan Rinjani yang jelas tidak menyangka akan kedatangan seseorang yang datang bak pangeran berkuda putih seperti cerita dongeng yang pernah dibacanya.


Sedangkan di tempatnya, Tuan Haris tidak berhenti mengumpat dalam hatinya jika akan dipermalukan seperti ini di depan para karyawan yang di matanya hanyalah remahan rengginang yang tidak ada artinya sama sekali.


'Sial*n! Apa katanya! satu milyar untuk jam tangan dan lima ratus juta untuk perut buncitku! kurang ajar!' umpatnya yang sebenarnya sudah gatal ingin mengeluarkan sumpah serapah dan semua nama penghuni kebun binatang. Namun, keberanian pria yang berani membayar sejumlah satu setengah milyar jelas patut untuk diwaspadai. Dirinya jelas sadar uang sebanyak itu bukanlah jumlah yang sedikit dan pastinya hanya orang-orang tertentu saja yang mau dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu.


Semua orang jelas akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang 1,5 milyar tapi tidak dengan pemuda yang ada di hadapannya, dia dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu seperti membeli gorengan di depan gang komplek saja.


"Kenapa Anda bengong begitu, Tuan? apa itu semua belum cukup untuk membeli harga dirimu?" tanya pemuda tampan yang terlihat begitu berdamage dengan balutan jas single breasted warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sedangkan yang ditanya sudah tidak memiliki wajah lagi untuk sekedar menjawab.


"Kalau boleh tau, anda ini siapa, Tuan?" tanya bos Rocky yang ikut penasaran dengan sosok pahlawan kemalaman ini.


Mendengar hal itu, pria misterius itu tersenyum miring sebelum kembali memberikan kejutan yang meledak keras bagaikan bom nuklir.


"Perkenalkan. Saya Gavin, calon suami Rinjani."


Deghhh!!!


Siapa yang tidak terkejut mendengar ucapan pria yang memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Rinjani.


Rasanya, presiden Erdog*n juga tidak akan percaya jika seorang gadis yang hanya bekerja sebagai cleaning service memiliki calon suami seorang milyarder. Sungguh sangat di luar nurul, tidak masuk akmal, sangat menghermankan dan membuat siapa saja yang ada tidak habis fikri dengan ucapannya yang rasanya sulit untuk dipercaya.


"Itu semua bener, Rin?" bisik Roni sembari menyikut lengan Rinjani.


"Kok, kamu nggak pernah cerita kalau kamu udah punya calon suami, Rin. Mana orangnya ganteng bangettt." celetuk Ruri tanpa peduli suaranya akan terdengar oleh semua orang. Jiwa kegadisannya jelas meronta-ronta mengetahui gadis biasa seperti Rinjani bisa mendapatkan seseorang yang di pikirannya saja sudah pasti sulit untuk diraih.


Sedangkan orang yang ditanya hanya diam saja, Rinjani jelas tidak tau harus menjawab apa. Satu sisi dirinya tidak mungkin berkata yang sebenarnya terjadi lantaran pengakuannya akan membuat siapa saja tau kalau pria yang ada di hadapan mereka sedang berbohong. Namun, di sisi lain dirinya juga tidak punya keberanian untuk membenarkan ucapan pria yang sedang menatap ke arahnya.


Mengetahui kegelisahan yang sedang dirasakan Rinjani, Gavin bergegas mengeluarkan cek kosong dari dalam sakunya. Satu tangannya tidak ketinggalan mengambil bolpoin pada saku kemejanya sebelum menuliskan sejumlah uang sesuai dengan nominal yang sudah disebutkan.

__ADS_1


"Terima ini!" ucapnya sembari menyodorkan lembaran cek yang tertulis angka satu dengan sembilan telur puyuh yang berbaris rapih di belakangnya. Pandangannya kemudian beralih ke arah Rinjani, "Ayo Sayang, kita pulang sekarang." ucapnya penuh kelembutan sebelum meraih tangan Rinjani yang otomatis mengikut kemana saja dirinya di bawa.


"Tunggu sebentar..." ucapnya menghentikan langkah Gavin.


"Ada apa, Sayang?" tanya Gavin berlaga seolah calon suami sungguhan.


"Ituuu!" jawab Rinjani sembari menunjuk ke arah meja dimana tas miliknya masih tergeletak di atas sana.


"Tunggu di sini saja, Sayang. Biar aku saja yang mengambil barang-barang milikmu." tukas Gavin sebelum melakukan seperti apa yang baru saja diucapkannya. Dengan gagahnya Gavin berjalan melewati banyak orang yang hanya bisa melongo melihat kejadian yang tejadi di depan mata kepala mereka.


Gavin dengan hati-hati memasukkan semua barang milik Rinjani ke dalam tas berwarna coklat. Setelah memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal, Gavin segera mendekati Rinjani kembali yang terlihat sedang melepaskan kain appron yang sedang dipakainya. Setelahnya, Rinjani langsung memberikan appron miliknya kepada Ruri yang bergegas menerimanya.


"Sampai jumpa semua. Makasih banyak untuk seharian ini. Makasih karena kalian udah baik sama aku..." ucapnya sebelum memeluk teman-temannya secara bergantian.


"Kamu nggak lanjut kerja di sini lagi, Rin?" tanya Roni mewakili semua teman-temannya.


"Maaf guys, kayaknya aku emang nggak cocok kalau kerja di tempat yang nggak bisa bikin aku merasa nyaman." tutur Rinjani sesuai dengan apa yang terlintas di dalam hatinya. Sontak keputusannya itu membuat teman-temannya merasa sedih. Ya meskipun mereka baru saling mengenal namun rupanya mereka sudah saling cocok satu sama lain.


"Ayo Sayang, kita pulang sekarang. Nggak baik lama-lama di tempat seperti ini!" ucap Gavin sengaja menyindir dua pria tua yang sama-sama tidak tahu malu.


...****************...


"Nih, tas kamu!" ucap Gavin sembari melemparkan tas kecil yang sejak tadi dibawanya. Ditepuknya kedua telapak tangannya seolah sedang mengusir kuman yang didapatnya setelah menyentuh tas milik Rinjani.


Rinjani sendiri mulanya sedikit kaget melihat perubahan sikap Gavin yang sangat berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Pandangannya menatap sengit ke arah Gavin yang kembali menyemprotkan cairan antiseptic ke seluruh tangannya.


"Haish! sombong amat jadi orang!" cibir Rinjani dengan suara pelannya. Namun siapa yang menyangka jika suaranya yang sudah disetel sekecil mungkin ternyata masih bisa terdengar oleh Gavin.


"Saya denger! sudah dibantuin bukannya bilang makasih malah ngatain saya sombong! Dasar gadis nggak tau diri!" cemooh Gavin merasa gadis yang sudah ditolongnya itu tidak memiliki sopan santun sama sekali.


"Hih, tadi lembutnya minta ampun, sekarang galaknya udah kaya ibu tiri." celoteh Rinjani, namun kali ini dirinya sengaja mengeraskan suaranya.


Mendengar hal itu Gavin jadi bertambah kesal, bahkan rasanya seperti ada asap tak kasat mata yang mengepul dari lubang telinganya. Sepertinya dirinya sudah salah menolong orang. Dirinya sudah rela kehilangan uang sebanyak 1,5 milyar, namun tidak ada ucapan terima kasih ataupun apresiasi dari gadis yang sudah ditolongnya.

__ADS_1


"Kamu ingat nggak sih, saya sudah rela keluar duit 1,5 milyar buat nolongin kamu! kamu tau kan, uang sebanyak itu nggak cuma sedikit. Bilang terima kasih kek, apa gimana gitu!" tukas Gavin sudah mulai kehilangan kesabaran.


Menyadari ucapan Gavin memang benar adanya, Rinjani jadi merasa bersalah sendiri lantaran sudah bersikap kurang baik terhadap Gavin. Bahkan alih-alih mengucapkan terima kasih seperti yang dibilang Gavin, dirinya justru berulang kali mencibir orang yang sudah berbesar hati mau menolongnya.


Sebenarnya memang sudah dari tadi Rinjani berniat mengucapkan rasa terima kasihnya lantaran sudah diselamatkan dari ancaman Tuan Haris, namun niatnya itu menjadi urung begitu melihat kelakuan Gavin yang dirasanya cukup berlebihan. 'Siapa suruh sok-soan jijik sama tas aku!' pikirnya dalam hati.


"Iya deh, iyaaa. Terima kasih banyak karena kamu sudah mau nolongin aku. Makasih banyak karena berkat kebaikan hati kamu, aku jadi terbebas dari ancaman Tuan Haris." ucapnya terdengar begitu tulus dari dalam hatinya.


"Iya, tapi nggak ada yang gratis!" balas Gavin yang berhasil membuat Rinjani otomatis menoleh ke arahnya.


"Ng-nggak gratis gimana? ja-jadi aku disuruh buat ganti uang yang tadi?" beo Rinjani dengan perasaan yang tidak tenang.


"Iya." jawab Gavin cepat membuat kepala Rinjani serasa mau pecah.


"Se-semuanya?" tanya Rinjani berusaha agar tetap sadar meskipun rasanya dirinya ingin pingsan saja.


"Kamu tenang saja! saya nggak minta kamu buat bayar pakai uang." sontak ucapan Gavin kembali mengejutkan Rinjani.


"Nggak perlu pakai uang. Terus, aku harus bayar pakai apa?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Rinjani, Gavin justru terlihat mengambil ponsel mahalnya dari dalam saku celana. Sedetik kemudian, Gavin menyodorkan ponsel miliknya ke arah Rinjani yang semakin bingung dengan sikap Gavin.


"Tulis nomor hp kamu! Jangan lupa, sekalian tulis alamat rumah kamu."


"Ta-tapi untuk apaaa?"


"Sudah tulis saja seperti permintaanku."


Sebenarnya Rinjani sedikit ragu untuk menuliskan informasi pribadinya kepada seseorang yang baru dikenalnya. Namun mengingat Gavin sudah sangat berjasa untuknya, Rinjani seperti tidak punya alasan apapun untuk menolak permintaan Gavin. Perlahan Rinjani mulai menuliskan nomor ponselnya beserta alamat dimana dirinya tinggal. Setelah memastikan semuanya sudah tertulis dengan benar, Rinjani langsung mengembalikan ponsel Gavin.


Senyum Gavin mengembang saat membaca kedua informasi yang memang diinginkannya. Setelahnya Gavin kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


"Sudah larut malam, pulanglah! besok pagi saya kasih tau dengan cara apa kamu harus mengganti uang yang tadi. Satu lagi, jam tujuh pagi akan ada mobil yang menjemput kamu. maka dari itu, bersiaplah!"

__ADS_1


__ADS_2