
"Apa, Miii!!! minggu depan???" teriak Rinjani dan Gavin bersamaan. Keduanya sama-sama terkejut dengan keputusan Mami Carla.
"Iya, minggu depan! keputusan Mami sudah final, tidak bisa di ganggu gugat lagi."
"Ta-tapi, Mi..."
"Tidak ada tapi-tapian!" hentak Mami Carla. Pandangannya beralih menatap tajam ke arah putranya, "Gavin! kamu masih ingat mengenai kesepakatan kita, kan?" sambungnya dengan nada bicara yang sedikit rendah namun berhasil membuat putranya ketakutan.
Jelas saja nyali Gavin berubah menjadi ciut, Maminya saja sudah berani menyinggung tentang kesepakatan di antara mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, Mami Carla hanya akan menyerahkan hartanya pada saat putranya sudah berhasil membawa seorang menantu untuknya. Dan jelas saja ucapan Mami Carla barusan membuat Gavin jadi tidak memiliki daya untuk menentang keputusan Maminya.
"I-iya, Mi. Minggu depan kami akan menikah."
"Gavin!"
...****************...
"Selamat malam, Nek..." Sebuah suara berhasil menarik perhatian Nenek Marisa.
"Hendra, cucuku ... kemari Sayang, ada yang mau Nenek bicarakan sama kamu, Nak." Nenek Marisa bicara seraya menepuk sisi ranjang yang masih kosong. Disambut Hendra yang langsung mengangguk kecil sebelum berjalan mendekat ke arah neneknya.
"Bagaimana kabar Nenek hari ini? apa masih ada yang sakit lagi, Nek?" tanya Hendra begitu perhatian.
"Selama cucu Nenek yang tampan ini ada di dekat Nenek, Nenek tidak akan merasakan sakit lagi, Sayang. Karena obat dari segala penyakit Nenek itu kamu, Sayang. Cucu Nenek."
__ADS_1
"Benarkah begitu, Nek? apakah Hendra sepahit itu sampai-sampai keberadaan Hendra lebih mujarab dari obat yang selalu Nenek minum?" seloroh Hendra sengaja melayangkan candaan demi menghibur hati neneknya.
"Hu'umm, Sayang. Andai saja Ayah kamu masih hidup, Ayah kamu pasti merasa bangga memiliki seorang putra yang begitu baik seperti kamu." lirih Nenek Marisa terdengar sedikit pilu. Perasaan bersalah kembali menyergap jiwanya lantaran dirinya masih ingat betul bahwa penyebab kematian putranya (Sakha) itu terjadi atas kesalahan dirinya. Dirinya masih ingat betul bagaimana hancurnya Sakha saat ditinggal pergi oleh istrinya. Kepergian Soraya pada hari itu jelas memukul jiwanya.
Selama berbulan-bulan lamanya Sakha berusaha mencari keberadaan istrinya, namun selama itu pula usahanya tidak membuahkan hasil, Keberadaan Soraya sama sekali tidak terdeteksi. Soraya menghilang bagaikan di telan bumi, meninggalkan kesedihan mendalam pada hati Sakha hingga semakin lama kesedihannya itu membuat Sakha jadi depresi. Saking tidak kuatnya merasakan sakitnya kehilangan seorang istri yang begitu dicintainya membuatnya nekat meminum racun demi mengakhiri kesakitan jiwanya.
Tanpa terasa embun bening sudah terlihat memenuhi kelopak mata Nenek Marisa hingga dalam sekali kedipan saja, bukti penyesalan itu langsung luruh membasahi wajah tuanya.
Melihat hal itu, Hendra buru-buru menghapus air mata Nenek Marisa dengan kedua tangannya. Disekanya semua air mata yang seolah sedang berbicara betapa Nenek Marisa sangat menyesali perlakuannya di masa lalu. Nenek Marisa sama sekali tidak menduga jika sikapnya yang begitu arogan di masa lalu akan merenggut nyawa putranya sendiri. Bahkan, dirinya juga harus kembali kehilangan suaminya yang meninggal akibat terkena serangan jantung begitu melihat tubuh Sakha yang sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya.
"Nenek kenapa menangis?" tanya Hendra yang ikut sedit melihat kerapuhan wanita yang ada di depannya.
"Tidak apa, Sayang. Nenek hanya kangen sama Ayah kamu."
"Sudah Nek, jangan bersedih lagi. Ayah sudah bahagia di sana. Jangan membuat Ayah menjadi sedih karena melihat Nenek yang seperti ini. Hendra janji, setelah Nenek sehat, Hendra bakalan secepatnya bawa Mamah ke sini biar Nenek jadi ada temannya."
Duduk seorang diri pada sofa kecil yang tersedia di balkon kamarnya. Kedua matanya tertutup rapat membiarkan dinginnya hembusan angin malam menerpa tubuh lelahnya.
Pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya. Dirinya sedang berusaha sekuat tenaga menghalau kerinduannya terhadap sang kekasih. Setelah melihat kondisi neneknya yang sampai saat ini masih begitu terpukul dengan kepergian putra dan suaminya itu jelas mengingatkannya terhadap kondisi kekasihnya.
Perasaan bersalah kian menumpuk dalam hatinya lantaran sudah pergi meninggalkan Rinjani sedangkan dirinya sendiri sudah tau jika saat ini kekasihnya itu masih dalam kondisi berkabung.
Belum lagi adanya tugas baru yang harus segera diselesaikannya itu membuatnya semakin tidak memiliki waktu untuk sekedar menghubungi kekasihnya.
__ADS_1
Dirinya yang semulanya hanya berniat mencari keberadaan Ibu dari ayahnya itu, kini justru mendapat tugas baru dari neneknya. Setelah sadar setelah menjalani operasi pengangkatan tumor pada otaknya, Nenek Mari justru memberinya tugas untuk menemui Anak menantu dan cucunya yang merupakan anak dan istri dari paman Ronald, adik dari ayahnya.
"Jadi, ternyata Ayah memiliki seorang adik yang sudah meninggal." lirihnya dengan pandangan yang menerawang ke depan sana, "Tante Carla, Gavin ..."
...****************...
"Kita sudah sampai, Sayang..." ujar Mami Carla begitu mobil yang membawa tubuhnya sudah mendarat sempurna di depan sebuah gedung dengan logo Orion's Boutique yang terpampang pada dinding gedung.
Di sebelahnya sudah ada Rinjani yang masih bergeming memandang toko baju yang terlihat begitu mewah. Rinjani sama sekali tidak bisa menolak pada saat Mami Carla menjemput langsung ke rumahnya, hingga pada akhirnya dirinya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Mami Carla yang memaksanya untuk mendatangi salah satu butik yang sudah menjadi langganannya.
"Apa Rinjani harus ikut masuk ke dalam, Mi?" tanya Rinjani dengan polosnya. Disambut suara gelak tawa Mami Carla yang langsung terdengar memenuhi ruangan di dalam mobil.
"Hahaha... iya, jelas kamu ikut Mami masuk ke dalam dong, Sayang. Yang mau nyari baju buat pengantin kan kamu. Ada-ada saja deh, kamu ini..."
Rinjani hanya nyengir kuda menunjukkan deretan giginya yang sangat rapih.
"Ayo, kita turun, Sayang..." ajak Mami Carla sembari melepaskan tali seat belt yang mengunci tubuhnya. Sejurus kemudian, Mami Carla sudah berhasil keluar dari dalam mobil. Begitu pun dengan Rinjani yang terpaksa mengikuti pergerakan Mami Carla.
Keduanya mulai berjalan dengan anggunnya memasuki pintu masuk butik yang dimana sudah ada beberapa staf butik yang langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Nyonya Carla..." sapa para staf butik secara bersamaan. Sudah terbiasa berbelanja di Orion's boutique jelas membuat para staf sudah tidak asing lagi dengan wajah Mami Carla. Belum lagi kebiasaan Mami Carla yang begitu hedon saat berbelanja jelas membuatnya menjadi tamu special yang begitu ditunggu kehadirannya.
Seperti saat ini, kedatangannya sudah langsung disambut hangat oleh beberapa pelayan butik yang sigap melayani mereka.
__ADS_1
"Kalau boleh tau, Nyonya Carla sedang mencari baju yang seperti apa?" tanya staf butik.
"Tolong carikan gaun pengantin paling mahal untuk calon memantu saya!"