Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
45. Bersedia hidup susah denganku?


__ADS_3

"Apa seperti itu caramu bersikap kepada Oma-mu sendiri, Gavin?" sentak Oma Marisa.


Oma Marisa tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan sambutan seperti ini dari cucunya sendiri. Semuanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam pikirannya, dimana Oma Marisa sempat berfikir jika dirinya akan mendapatkan sambutan hangat dari cucu yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Katakan saja Oma, ada hal penting apa sampai Oma meminta ku untuk bertemu?"


"Oma tidak menyangka Gavin, hanya dua tahun saja tidak bertemu denganmu sudah membuat Oma harus berpikir ulang apakah pria yang saat ini tengah menatap nyalang ke arah Oma adalah cucu Oma sendiri," ungkap Oma sedikit tercekat.


"Dimana Gavin yang dulu? katakan! Dimana cucu Oma yang selalu berlari memeluk Oma setiap kali Oma datang. Dimana cucu Oma yang selalu tersenyum hormat kepada Oma?" cecar Oma di tengah kesakitan hatinya.


Pandangannya masih nanar menatap Gavin yang tetap tidak bergeming. Mata tuanya sampai berkaca-kaca mendapati perubahan sikap cucunya.


"Kemana perginya Gavin yang selalu bersikap baik kepada wanita tua ini ..." ucapnya lirih bersamaan dengan setets tanda kesedihan yang membasahi wajah tuanya.


Sedangkan orang yang sudah membuatnya bersedih hanya diam di tempatnya tanpa berniat menopang tubuh ringkih yang sebenarnya sedang mengharapkan pelukan darinya.


"Sudah cukup, Oma. Jangan bersikap seolah-olah aku ini cucu yang jahat. Bukankah Oma sendiri yang sudah membuang cucu Oma? Jadi, jangan tanyakan lagi kemana perginya cucu Oma yang Oma sendirilah yang sudah tega membuangnya!" ucap Gavin begitu dingin.


Seketika ruangan luas itu terasa begitu mencekam. Hawa dingin langsung menyeruak, menerpa kedua raga yang tengah berperang dengan isi kepalanya sendiri.


"Seharusnya aku yang bertanya, Oma? Mengapa Oma tega hanya memberiku 25 persen saham perusahan saja Oma. Kenapa sisanya justru Oma berikan untuk cucu Oma yang bahkan belum berkontribusi apapun untuk perusahaan ini, Oma?"


"Jadi ini semua karena hal itu, Nak? Apa kamu keberatan dengan keputusan Om--"


"Ya. Gavin memang keberatan, Oma. Gavin sangat keberatan karena Oma sudah berlaku tidak adil terhadap Gavin, Oma!" potong Gavin cepat.


Nafasnya memburu. Sepertinya emosi sudah mulai menguasai hati Gavin.


"Oma tahu, bukan? Selama ini Gavinlah yang sudah bersusah payah mempertahankan perusahaan agar tetap berdiri kokoh sepeninggal Papi dan Om Sakha! Lalu, apa seperti inikah cara Oma menghargai kerja keras Gavin selama ini!" sarkas Gavin dengan wajah yang sudah merah padam.


Sedangkan wanita tua yang menjadikan ujung meja sebagai penahan tubuhnya itu hanya diam menyaksikan segala luapan emosi yang berasal dari hati cucunya. Setidaknya Oma Marisa sudah tahu apa yang sudah menyebabkan Gavin bersikap dingin kepadanya.

__ADS_1


Semuanya didengarkan Oma Marisa tanpa berniat menyela segala penuturan cucu yang berpuluh-pulun tahun yang lalu juga sering melakukan hal semacam ini setiap kali tidak diperbolehkan untuk membeli mainan.


"Bukan Gavin yang jahat, Oma. Oma lah yang sudah tega membuang Gavin hanya karena Oma sudah berhasil menemukan cucu yang lainnya." sambung Gavin sebelum berbalik badan.


"Tunggu sebentar, Gavin. O-oma mau bicara, Gavin!" pinta Oma yang hanya seperti angin lalu saja karena pintu ruangannya sudah kembali tertutup dengan tubuh Gavin yang sudah menghilang entah kemana.


...*****************...


J'glekkk!


"Oh, kamu sudah kembali, Gavin?"


Rinjani yang semulanya sedang menyantap sarapan paginya itu langsung menghentikan aktifitasnya setelah mendapati tubuh suaminya yang saat ini tengah menatapnya.


Berdiri di depan pintu, tidak ada tanda-tanda keramahan pada wajah Gavin. Setidaknya, hal itulah yang sedang dirasakan oleh Rinjani.


"Ada apa, Gavin? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu. Apa ada masalah?" tanya Rinjani perhatian.


"Tidak ada, Jani," jawab Gavin singkat sembari mendekati istrinya.


Sontak saja ucapan Rinjani berhasil menarik perhatian Gavin. Wajah yang sebelumnya terlihat begitu datar, kini mulai bersemangat kembali.


Gavin tidak tahu apa yang terjadi terhadap dirinya. Yang Gavin tahu, ada sesuatu yang seolah sudah berhasil membuat bunga-bunga di hatinya menjadi bermekaran seperti di musim semi.


Ada perasaan bahagia yang menyergap jiwanya begitu mendengar penuturan Rinjani yang terasa menyejukkan bagaikan oase di gurun pasir.


Meskipun Gavin sendiri pun tidak tahu apa sebenarnya maksud dari ucapan istrinya. Apakah hal itu hanya asal diucapkannya saja atau memang karena Rinjani sudah bisa menerima perasaannya.


"Apa itu?" celetuk Gavin yang mendadak dibuat salah fokus dengan apa yang sedang dimakan istrinya.


"Oh, ini. Ini bubur ayam. Apa kamu mau mencobanya, Gavin?" tanya Rinjani sembari mengangkat mangkuknya.

__ADS_1


"B-bubur ayam? Aku baru tahu kalau perusahaan ini menyediakan bubur ayam juga."


"Bukan, Gavin. Tadi aku meminta OB untuk membelikan bubur ini di tukang bubur depan gedung,"


"Apaa? D-depan gedung katamu?" tanya Gavin dengan bola mata yang membulat sempurna.


"Iya."


"Ya ampun! Cepat singkirkan sarang bakteri ini dari tangan kamu, Jani."


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Gavin langsung menyahut mangkuk kaca yang langsung dibuangnya ke dalam tempat sampah.


Pandangannya langsung tertuju ke arah laci yang berada tidak jauh darinya. Gavin seperti orang kesurupan mengeluarkan semua barang-barang dari dalam laci.


Sedangkan Rinjani sendiri hanya bisa menatap heran dengan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Rinjani jelas dibuat bingung dengan kelakuan Gavin yang asal membuang makanannya ke dalam tempat sampah. Dan sekarang, suaminya itu terlihat seperti orang gila yang sedang mengacak-acak meja kerjanya sendiri.


"Akhirnya ketemu juga." seru Gavin setelah berhasil menemukan apa yang dicarinya.


"Berikan tanganmu!'' perintahnya kepada Rinjani.


"Tapi untuk apa, Gavin?"


"Hah, kelamaan!" protes Gavin sebelum menarik paksa tangan istrinya.


Dengan pergerakan super cepat, Gavin sudah berhasil menyemprotkan cairan antiseptik ke seluruh permukaan tangan istrinya.


"Apa yang kamu lakukan, Gavin?" selidik Rinjani.


"Ck! apa masih perlu bertanya, Jani. Sudah lihat sendiri aku sedang membunuh semua kuman yang menempel di tanganmu, masih juga bertanya!" ketus Gavin.


Sontak saja ucapannya itu berhasil menarik gelak tawa Rinjani.

__ADS_1


"Hahaha ... tidak perlu berlebihan seperti ini, Gavin. Kamu ingat, kan? aku ini sudah terbiasa hidup susah. Tentu saja hal seperti ini sudah sering aku lakukan, Gavin. Dan bisa kamu lihat sendiri, kan? aku masih tetap hidup meskipun sering makan makanan seperti itu. Hahaha ..."


"H-hidup susah?" racau Gavin, "Apa kamu bersedia jika harus hidup susah denganku, Jani?"


__ADS_2