
"Bolehkah aku yang melepaskan pakaianmu?" tanya Gavin dengan polosnya.
"Hakh? Me-melepaskan pakaianku?" cicit Rinjani sedikit terbata. Rinjani yang sedang menuangkan minyak aromaterapi ke dalam bathub itu menjadi tersipu mendengar pertanyaan Gavin. Terlihat dari wajahnya yang seketika memerah dengan senyuman yang berusaha ditahannya.
Rinjani membuang wajahnya ke arah samping. Entah mengapa Rinjani menjadi salah tingkah sendiri ditanyai seperti itu oleh suaminya.
"Iya, Jani. Kita akan mandi bersama bukan, kalau begitu biarkan aku saja yang melepaskan pakaianmu," ucap Gavin entah sekedar menggoda Rinjani saja atau memang karena dirinya menginginkan hal itu.
Berbeda dengan wajah Gavin yang terlihat berseri, Rinjani justru terlihat gelagapan seolah tidak nyaman dengan permintaan Gavin. Refleks kedua tangan Rinjani bergerak cepat menutupi bagian dadanya sendiri bersamaan dengan kakinya yang melangkah mundur menjauhi Gavin.
"Ti-tidak perlu, Gavin. A-aku sudah mandi, kamu mandi sendiri saja." jawab Rinjani cepat sebelum berbalik badan meninggalkan Gavin yang tak bisa menahan semburan tawanya.
"Hahaha ... lucu sekali gadis itu. Ternyata cukup menyenangkan menggoda istri sendiri. Hahaha..." selorohnya sambil menahan suara tawanya agar tidak terdengar ke luar kamar mandi.
Rupanya Gavin memang sengaja menggoda istrinya. Gavin ingin tahu bagaimana reaksi Rinjani saat digoda seperti itu. Dan ternyata hal itu sangat menyenangkan untuknya, reaksi Rinjani yang sedang salah tingkah terlihat sangat menggemaskan. Dan tentunya hal sesederhana itu sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia.
"Oh, istriku yang menggemaskan," selorohnya sebelum dibuat tertegun oleh perkataannya sendiri.
"Istri ...? Akh, benar. Sekarang aku sudah memiliki seorang istri. Istri yang sangat cantik," ungkapnya dengan perasaan yang berbunga.
"Baiklah, sekarang saatnya membersihkan diri seperti permintaan istriku, hahaha..."
__ADS_1
*****
Pagi harinya, Gavin yang semalam mendapatkan treatment istimewa dari Rinjani itu bisa tertidur dengan sangat nyenyak.
Khasiat dari minuman herbal yang diberikan Rinjani kepadanya, juga efek berendam air hangat sebelum tidur benar-benar membuatnya merasa nyaman. Dan hal itu masih sangat terasa saat Gavin terbangun dari tidurnya.
"Euuugh, nyaman sekali," lenguh nya sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
Menyadari jika dirinya tidak hanya sendiri, Gavin langsung menolehkan kepalanya ke samping dimana ada satu gadis yang masih meringkuk di dalam selimut yang sama dengan selimut yang sedang dipakainya.
"Masih tidur rupanya. Tumben sekali, biasanya setiap aku bangun pagi, Jani sudah menghilang dari kamar ini," lirihnya sembari mengubah posisi tidurnya hingga menghadap langsung ke arah istrinya.
Ditatapnya dalam-dalam wajah anggun yang saat ini masih terlelap di alam mimpinya. Ditelitinya semua bagian wajah polos itu. Mulai dari kedua mata yang tertutup rapat, hidung yang terlihat mancung, bibir merah serta kedua pipi yang terlihat menggemaskan. Semuanya itu sama sekali tidak luput dari sapuan matanya.
Sebelumnya Gavin tidak pernah berfikir jika pemandangan pagi seperti ini akan terasa menyenangkan. Hanya melihat gadis yang kita cintai tertidur nyaman seperti ini saja rupanya sudah membuatnya kembali bersemangat untuk memulai harinya.
"Selamat pagi istriku," ucapnya lirih lantaran takut mengganggu tidur istrinya.
Tangannya bergerak pelan mengelus surai panjang istrinya. Pandangannya tidak berhenti menyapu setiap inci wajah istrinya. Semua disisirnya mulai dari bagian paling atas sebelum pandangannya berhenti tepat di bibir istrinya.
Ah, Sial! ada apa dengan tubuhnya. Kenapa tubuhnya mendadak bereaksi seperti ini hanya karena melihat bibir istrinya yang terlihat menggoda.
__ADS_1
Perlahan-lahan Gavin bisa merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sana. Bahkan Gavin sampai berulang kali menelan ludahnya. Ada sebuah dorongan dari dalam jiwanya yang seolah memintanya untuk menyentuh dan menikmati segumpal daging yang terlihat begitu ranum di matanya.
"****! kenapa celana ku jadi sesak seperti ini!" rutuknya merutuki dirinya sendiri.
"Bibir ini ... kenapa terlihat sangat seksi. Bolehkah aku menciumnya," ungkapnya dengan memainkan jari jempolnya menyentuh sesuatu yang membuat jakunnya tidak berhenti naik turun.
Wajahnya sudah terlihat memerah. Sungguh Gavin sedang mencoba menahan sesuatu yang sedang berontak di dalam jiwanya.
Semakin lama menatap wajah istrinya membuat Gavin semakin merasakan gelenyar aneh yang semakin lama semakin membuatnya hanyut dalam nafsu birahi.
Berulang kali Gavin menggelengkan kepalanya demi mengusir bayangan kenikmatan yang mulai memenuhi pikirannya. Rasanya Gavin sudah tidak tahan lagi untuk menciumi bibir merah yang seolah memanggil-manggilnya untuk disentuh.
"Ck! tenangkan dirimu, Gavin. Bagaimana kalau Jani sampai tau, hakh? Jani pasti akan sangat marah saat tau diam-diam kamu menciumnya." ucapnya mencoba untuk tetap sadar. Namun sayang, ada sisi lain dari dalam jiwanya yang kembali menghapus kesadarannya.
"Ck, dasar bodoh! untuk apa kamu takut, Gavin. Bukankan dia istrimu? tentu saja kamu berhak melakukan apapun pada tubuh istri kamu bukan."
Dan entah setan apa yang sudah berani merasuki Gavin hingga membuat Gavin nekat untuk mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya.
"Hah, bodoh amat dengan reaksi Jani!"
"Ka-kamu mau apa Gavin?"
__ADS_1
"Ja-Jani..."