
Note: masih lanjutan dari momen flashback pada bab sebelumnya.
"Cepat ceraikan gadis ini jika kamu masih berharap untuk menjadi bagian dari keluarga Anderson!!!" ancam Mami Marisa sengaja membawa nama keluarga Anderson.
Mami Marisa berharap putranya itu akan merasa takut dan mau menurut untuk segera menceraikan istri desanya itu.
"Tapi kenapa, Mi? Sakha sangat mencintai Soraya, bahkan kami baru saja menikah. Mana mungkin Sakha menceraikan Soraya begitu saja, Mi." protes Sakha jelas tidak menyangka jika keputusannya untuk mengenalkan Soraya kepada keluarganya akan berakhir seperti ini. Dirinya sama sekali tidak menduga jika reaksi Maminya akan semarah ini mengetahui dirinya sudah menikahi Soraya.
Sedangkan orang yang menjadi pemicu pertengkaran sepasang ibu dan anak itu hanya bisa diam menunduk tanpa berani mengeluarkan suaranya. Soraya sadar diri jika statusnya yang hanya seorang gadis desa dengan nilai sosial yang jauh di bawah suaminya itu jelas tidak mungkin mudah untuk di terima oleh keluarga suaminya.
Dirinya bahkan sudah berulang kali menolak lamaran Sakha. Namun, kegigihan Sakha yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hatinya pada akhirnya mampu mengalahkan rasa takut yang dimilikinya.
"Hei, kamu!!! apa yang sudah kamu lakukan sampai-sampai putraku ini mau menikahimu, gadis kampung! Cara apa yang sudah kamu lakukan untuk menggoda putraku?" bentak Mami Marisa melayangkan tuduhan yang langsung melukai harga diri Soraya. Pandangannya menatap tajam ke arah Soraya, membuat Soraya semakin tidak memiliki keberanian untuk membela dirinya.
"Tolong hentikan, Mi! jangan berkata seperti itu kepada Soraya. Soraya tidak bersalah! Sakha sendiri yang menginginkan Soraya untuk menjadi istri Sakha."
"Kamu berani melawan Mami demi gadis desa seperti ini??? Hekh!"
"Sakha tidak bermaksud melawan Mami. Sakha hanya minta sama Mami agar Mami mau menerima keputusan Sakha. Soraya ini gadis yang baik, Mi. Sakha sangat yakin kalau Mami akan merasa bangga sudah memiliki menantu seperti Soraya jika Mami sudah bisa mengenali kepribadiannya, Mi. Tolong hargai keputusan Sakha..."
Setelah selesai mengatakan itu, Sakha berniat membawa istrinya masuk ke dalam kamar pribadinya sebelum terdengar suara teriakan yang langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Hei, gadis kampung! kamu pasti sudah menjual harga dirimu kepada putraku, kan??? kamu rela menyerahkan kehormatanmu setelah mengetahui jika putraku ini berasal dari keluarga yang berada, kan!!!"
"Mamii!!!" bentak Sakha tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Maminya sendiri. Sedangkan orang yang dihina hanya bisa menangis meratapi harga dirinya yang sudah diinjak-injak oleh ibu mertuanya sendiri.
"Maaf, Mas. Tapi aku harus pergi..." lirih Soraya sebelum berlari di tengah kesakitan hatinya.
"Soraya, kamu mau pergi kemana, Sayang???"
Flashback Off
...****************...
Waktu terus bergulir, hamparan langit yang semulanya begitu cerah berwarna biru, kini sudah kembali menghitam dengan kilauan sinar bintang yang sedang bergerilya dengan pesona sang purnama.
Duduk bersebelahan dengan kedua tangan yang saling menggenggam di atas meja. Sesekali Gavin menoleh ke arah Rinjani diiringi senyuman tampan yang menghiasi wajahnya. Begitu pun dengan Rinjani yang ikut tersenyum meskipun senyumnya terlihat sedikit kaku.
Keduanya terlihat begitu romantis, seolah mereka ini memanglah sepasang kekasih yang saling mencinta. Terbukti dari perlakuan Gavin yang begitu manis terhadap gadis yang ada di sampingnya. Sesekali Gavin terlihat menyuapkan makanan yang langsung disambut oleh Rinjani. Tak jarang juga satu tangannya terulur ke samping menyeka ujung mulut Rinjani yang sedikit kotor ataupun sekedar membenarkan helaian rambut Rinjani yang menimpa wajah cantiknya.
Namun siapa yang menyangka jika perlakuan manis mereka hanyalah sebuah tipu daya saja. Keduanya hanya sedang mendalami peran sesuai skenario demi bisa mengelabuhi wanita paruh baya yang sedang duduk di hadapan mereka.
Ya, Mami Carla begitu berbinar menyaksikan keromantisan putranya bersama sang kekasih. Senyum bahagia tidak berhenti menghias wajahnya yang tetap terlihat cantik di usianya yang sudah lewat dari setengah abad.
__ADS_1
"Romantis sekali..." ucapnya masih dengan senyuman bahagianya, "Jadi keingat sama masa muda Mami, deh..."
"Benarkah, Mi? apa Papi dulu juga suka melakukan hal-hal romantis sama Mami?" celetuk Gavin merasa tergugah untuk mengulik kisah masa muda orang tuanya.
"Jelas dong, Sayang. Papi kamu tuh dulunya suka banget ngasih Mami bunga. Papi kamu juga suka ngasih kejutan buat Mami." jawabnya dengan binar bahagia mengingat dirinya sangat bahagia sudah bersuamikan seorang Ronald Anderson. Pria kaya raya yang selalu merasa cukup hanya dengan satu wanita saja. Bahkan mendiang suaminya itu pantas mendapatkan medali emas lantaran selalu bisa mengratukan istrinya hingga membuat Mami Carla menjadi istri paling bahagia di dunia.
"Pasti Mami sangat bahagia, memiliki Papi Ronald yang begitu mencintai Mami." ucap Rinjani ikut bahagia melihat rona bahagia pada wajah Mami Carla.
"Benar, Sayang. Selama menikah dengan Papinya Gavin, Mami merasa begitu bahagia karena Papinya Gavin selalu tau bagaimana cara untuk membahagiakan istrinya. Bahkan selama lima belas tahun menikah dengan Papi, Papi tidak pernah membiarkan air mata menetes dari mata Mami kecuali air mata bahagia, Sayang."
"Sungguh, Mi?" seru Rinjani, "Rinjani jadi pengen punya suami penyayang seperti Papi Ronald. Semoga saja Rinjani bisa mendapatkan suami yang bisa mencintai Rinjani dengan tulus. Suami yang selalu mencintai Rinjani dalam keadaan apapun."
"Tuh, kamu dengar sendiri kan, Gavin. Calon istri kamu tuh berharap kamu bisa mencintainya seperti Papi kamu mencintai Mami. PR kamu banyak, Sayang. Kamu harus bisa menjaga dan mencintai Rinjani dengan setulus hati. Jangan sakiti hatinya karena hal itu akan menyakiti hati Mami juga. Kamu dengar, kan?"
"I-iya, Mi. Gavin dengar, kok." Gavin hanya bisa mengiyakan perkataan Maminya meskipun apa yang keluar dari mulutnya tidaklah sama dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dalam hatinya Gavin hanya menganggap ucapan Maminya sebagai angin lalu saja lantaran dirinya memang tidak berniat untuk menikahi Rinjani.
Begitu pun dengan Rinjani yang hanya bisa nyengir kuda mendengarkan semua penuturan Mami Carla. Menang dirinya sangat mengharapkan agar bersuamikan seseorang yang bisa mencintainya dengan sangat baik, tapi bukan berarti jika dirinya mengharapkan semua itu dari Gavin karena seseorang yang selalu diharapkan untuk menjadi suaminya itu hanyalah Hendra seorang. Ya, Hendra Anderson, kekasih yang saat ini sedang pergi ke sebuah tempat demi melaksanakan tugas yang sedang diembannya.
"Ngomong-ngomong soal suami, jadi kapan kalian mau fitting baju pernikahan. Kalian tau kan, keperluan untuk menikah itu ada banyak sekali. Jadi, mulai sekarang kalian sudah harus menyiapkan apa yang kalian butuhkan."
"Tidak perlu buru-buru seperti itu, Mi. Biar kami sendiri nanti yang akan mengurus semuanya. Sebetulnya kami juga belum menentukan tanggal buat menikah, Mi." sela Gavin sengaja mengulur waktu. Sebisa mungkin dirinya akan membuat alasan untuk menghindari menikah dengan Rinjani, gadis yang memang tidak memiliki ruang apapun di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ja-jadi kalian belum juga menentukan tanggal untuk menikah??? baiklah, sepertinya Mami sendiri yang harus mengambil langkah. Kalau begitu, minggu depan kalian akan menikah. Kalian tidak perlu khawatir, biar Mami yang urus semuanya sendiri. Bagaimana, sih? punya anak satu saja tidak bisa ngurus urusannya sendiri!"
"Apa, Miii!!! minggu depan???"