Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Pergi ke rumah calon ibu mertua


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Permisi..."


"Iya, sebentar!!" teriak Rinjani begitu mendengar suara ketukan pintu.


J'glek!


"Cari siapa, Mas?"


"Apa benar ini rumah Nona Rinjani?"


"Saya Rinjani. Ada perlu apa ya, Mas?" tanya Rinjani sedikit heran, pasalnya dirinya sama sekali tidak mengenal pria yang berdiri di hadapannya.


"Perkenalkan, Nona. Saya Ferdi, asisten pribadi Tuan Gavin." jawab pria tersebut dengan senyum ramahnya.


"Ohh, jadi Mas nya ini asisten pribadinya Mas Gavin." Rinjani mengangguk kecil mengetahui pria yang ada dihadapannya itu merupakan orang suruhan Gavin.


"Benar, Nona. Saya datang ke sini untuk menjem--"


"Iya Mas, saya sudah tau. Tunggu sebentar, ya. Saya ambil tas dulu." potong Rinjani cepat tanpa membiarkan Ferdi menyelesaikan kalimatnya lebih dulu.


Setelahnya, Rinjani langsung berlari kecil menuju ke kamar pribadinya. Diambilnya tas kecil miliknya yang tergeletak di atas ranjang sebelum kembali berjalan ke arah meja riasnya. Setelah memastikan penampilannya sudah oke, Rinjani kembali menemui Ferdi di depan rumah.


"Ayo, Mas..." ajak Rinjani dengan perasaan senang. Setidaknya dirinya harus bersikap baik kepada orang yang juga berbuat baik terhadapnya.


"Mari, Nona..."


"Tolong panggil saja Rinjani." ucap Rinjani yang merasa aneh sendiri mendengar panggilan Ferdi. Dirinya jelas tidak terbiasa dengan panggilan Nona yang biasanya hanya digunakan oleh orang-orang kelas atas saja.


"Tidak bisa, Nona. Saya takut Tuan Gavin akan marah." tolak Ferdi.


"Tapi saya merasa tidak nyaman dengan panggilan itu, Mas. Dan satu lagi, kalau bisa jangan bicara formal begitu, Mas. Bicara saja dengan bahasa yang santai, saya rasa kita hampir seumuran bukan?"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


Sekian waktu saling mengobrol selama di perjalanan, kini keduanya sudah tiba di depan sebuah rumah megah bergaya eropa dengan empat pilar besar yang berdiri kokoh di bagian depannya.


Rinjani tidak berhenti memandang takjub bangunan yang jika dilihat lebih teliti justru lebih cocok disebut istana.


"Ya Tuhaann, bagus banget rumahnya..." cicit Rinjani dengan wajah yang berbinar. Pandangannya belum terlepas dari bangunan putih yang ada di depannya.


"Silahkan masuk, Nona." ajak Ferdi mendapat lirikan tajam Rinjani.


"Kan udah dibilangin, Mas. Jangan ngomong formal begitu lagi. Geli dengernya tau..." protes Rinjani dengan bibir manyun ke depan. Padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk berbicara layaknya seorang teman.


"Aku takut kalau bos sampai denger obrolan kita, Rin. Bos pasti marah karena menganggapku tidak bisa profesional dalam bekerja." bisik Ferdi tepat di samping telinga Rinjani.


Sedangkan Rinjani hanya bisa manggut-manggut memahami apa yang dimaksud oleh teman barunya itu.


"Jadi kita nggak boleh ngobrol, Mas."


"Bukannya nggak boleh ngobrol, Rin. Tapi kalau di depan Tuan Gavin kita harus bicara yang formal. Sudah, ayo masuk! jangan sampai Tuan Gavin marah karena kelamaan nunggu."


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Tuan..." seru Ferdi sengaja mengetuk pintu meskipun kondisi pintu ruangan bosnya dalam keadaan terbuka.


"Masuk!" titah Gavin dengan suara dinginnya. Sejenak Gavin melirik ke arah pintu sebelum kembali menatap layar komputernya.


"Saya sudah berhasil membawa Nona Rinjani, Tuan."


"Bagus. Kerja yang bagus!" puji Gavin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar lebar yang terlihat menyala memperlihatkan sebuah grafik angka, "Sekarang kamu boleh pergi, Fer!" lanjutnya yang langsung mendapat anggukan kepala Ferdi.


Sebelum pergi meninggalkan ruang kerja bosnya, Ferdi lebih dulu melirik ke arah Rinjani sebelum dirinya seperti memberikan kode agar Rinjani tidak perlu merasa takut.


Kini, di dalam ruangan luas dengan nuansa manly itu hanya tersisa Rinjani dan Gavin saja. Menyadari hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu membuat Rinjani dihinggapi perasaan takut. Rinjani masih mematung di tempatnya berdiri, dirinya sama sekali tidak tau harus bersikap seperti apa.

__ADS_1


Saat sedang asik dengan isi kepalanya, tiba-tiba saja Rinjani dibuat kaget melihat pergerakan Gavin yang mulai berjalan ke arahnya. Pandangan mereka saling bertemu sebelum Rinjani dengan cepat membuang wajahnya ke arah lain.


Dirinya jelas takut melihat tatapan Gavin yang terlihat begitu mengintimidasi. Aura dingin sangat mendominasi pada setiap pergerakannya. Jantung Rinjani mendadak bekerja dengan tidak normal menyadari pria yang sedang menatap ke arahnya itu sudah berhasil memangkas jarak di antara mereka.


"Ka-kamu mau apa???" tanya Rinjani di tengan ketakutannya. Kepalanya langsung penuh dengan pikiran pikiran buruk yang seenaknya berdatangan. Memacu debaran jantungnya yang rasanya sudah melebihi batas kecepatan maksimum.


Sedangkan orang yang ditanya hanya bisa tersenyum miring menatap gadis yang sedang menatapnya dengan wajah penuh curiga.


"Ganti bajumu! Jangan lupa, pindahkan semua barang milikmu ke dalam tas itu!" perintah Gavin menyodorkan sebuah paper bag sebelum satu tangannya menunjuk ke arah meja dimana ada sebuah tas kecil di atasnya.


"Ta-tapi--"


"Tidak ada tapi-tapian. Cepat lakukan perintahku! atau kamu mau aku yang memakaikannya untukmu?"


"Ja-Jangan! aku bisa sendiri, terima kasih!" tolak Rinjani dengan wajah paniknya.


Tidak ingin mendapat perlakuan tak senonoh dari pria yang ada di hadapannya, Rinjani langsung mengedarkan pandangannya mencoba mencari tempat yang aman untuknya berganti baju. Pandangannya langsung tertuju ke sebuah pintu ruangan yang masih berada di dalam ruang kerja Gavin. Rinjani langsung berlari kecil memasuki ruangan itu meninggalkan Gavin yang langsung meledakkan tawanya.


"Hahaha... lucu sekali gadis ituuu!" ucapnya di sela suara gelak tawanya. Rasanya Gavin sangat puas sekali berhasil membuat Rinjani ketakutan seperti itu. Rasanya dirinya begitu menikmati wajah tegang Rinjani yang nyatanya justru terlihat sangat lucu di matanya.


Gavin langsung mengubah ekspresinya ke mode cool begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Tak jauh darinya, Rinjani sudah terlihat keluar dengan balutan dress berwarna hitam yang nyatanya begitu pas dengan bentuk ukuran tubuhnya.


Rinjani terlihat begitu memukau dengan balutan dress off shoulder buatan designer ternama dunia. Auranya terpancar begitu mempesona layaknya seorang istri CEO dalam cerita novel yang sering dibacanya.


Sedangkan Gavin sendiri masih terlihat diam mematung di tempatnya. Dirinya seolah terhipnotis melihat penampilan Rinjani yang benar-benar paripurna. Mulutnya terbuka, pandangan tidak berhenti menatap Rinjani yang jelas merasa malu ditatap sepeti itu.


"Cantik..." ucap Gavin tanpa sadar sudah mengakui kecantikan Rinjani. Membuat Rinjani tersipu malu hingga tidak berani menatap wajah Gavin. Kedua pipinya terasa sedikit menghangat mendengar pujian Gavin yang seperti menerbangkan ribuan kupu-kupu dalam hatinya.


"E'kheemmm!" Gavin berdehem kecil demi menormalkan kembali pikirannya. Satu tangannya bergerak membenarkan kerah kemejanya yang sebenarnya tidak terlihat berantakan sama sekali, "Ayo ikut aku!" perintahnya sebelum berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.


Mendengar hal itu, Rinjani langsung menurut dengan berjalan mengekor di belakang tubuh tegap Gavin.


"Kalau boleh tau, kita mau pergi kemana?"

__ADS_1


"Ke rumah calon ibu mertua kamu..."


Deghhh!


__ADS_2