
"Ya Tuhan ... benarkah gadis ini menantu kesayangan Mami?" seru Mami Carla begitu antusias setibanya di meja makan, "Cantik sekali, Sayang..."
Senyuman teduh khas seorang ibu tidak berhenti memenuhi wajah anggunnya. Ditatapnya wajah menantu satu-satunya itu dengan tatapan yang penuh cinta. Betapa kecantikan yang dimiliki menantunya itu selalu membuatnya terpukau seperti ini.
"Ck! Apa semalam Mami habis mimpi buruk. Atau ... mungkin saja kepala Mami habis kepentok tembok sampai tidak bisa mengenali menantu Mami sendiri, Mi?" celetuk Gavin.
Sontak saja ucapan Gavin itu mengundang tatapan tajam Mami Carla.
"Dasar ini anak! tentu bukan salah Mami kan kalau kecantikan istri kamu itu sampai membius Mami seperti ini, Gavin?" seloroh Mami Carla tidak terima dengan hinaan putranya sendiri.
"Memang bukan salah Mami. Semua orang pun tau kalau istriku ini sangat cantik. Tapi tidak perlu juga menatap istriku sampai segitunya, Mi."
"Ya Tuhan ... lihatlah, Sayang. Bukankah ini terdengar sangat lucu, Sayang? bagaimana bisa, suami mu yang payah ini merasa cemburu terhadap Maminya sendiri. Hahaha ...." Mami Carla tidak bisa menahan suara tawanya. Mami Carla benar-benar tidak menyangka jika putranya itu terlalu posesif terhadap istrinya.
"Tidak ada yang lucu, Mi. Berhentilah menertawai ku seperti itu."
"Hahaha ... kau lihat itu, Sayang. Hahaha..." ucap Mami Carla kepada menantunya.
Sedangkan orang yang sedang diperbincangkan hanya tersenyum kecil menyaksikan sepasang ibu dan anak yang saling beradu mulut.
Rinjani tidak mau memperkeruh keadaan dengan memilih diam tanpa berniat memihak kepada siapapun.
Meskipun dalam hatinya, Rinjani sempat terbuai mendengar penuturan Gavin yang secara tidak langsung sedang memuji dirinya cantik di depan orang lain.
Sebenarnya, jika diingat-ingat ini bukanlah pertama kalinya Gavin memuji dirinya. Sebelumnya juga suaminya itu sudah beberapa kali memuji kecantikannya di depan Mami Carla. Hanya saja, kali ini seperti ada yang berbeda. Entah mengapa Rinjani merasa jika pujian yang dilayangkan Gavin memang berasal dari hatinya. Bukan hanya kalimat palsu yang dulu sering dilakukannya dengan tujuan untuk meyakinkan hati Maminya.
__ADS_1
"Kamu tidak ikut sarapan, Sayang?" tanya Mami Carla yang baru menyadari jika piring menantunya itu masih terlihat kosong.
"Jani belum lapar, Mi. Nanti biar Jani sarapan di kantor saja," jawab Jani seadanya.
"Kenapa melihatku seperti itu, Mi. Aku tidak bisa memaksa istriku untuk sarapan, bukan? Biarkan saja Jani makan sesuai keinginannya. Apapun yang membuatnya merasa nyaman, aku tidak akan melarangnya." ketus Gavin saat menyadari tatapan tajam Maminya yang dilayangkan ke arahnya.
Gavin jelas pahan apa maksud dari tatapan membunuh yang dilakukan Maminya. Hanya dengan melihat sorot mata Maminya saja, Gavin sudah bisa membaca keberatan Maminya yang sengaja membiarkan istrinya melewatkan sarapan paginya.
"Lagi pula putramu ini bukan seorang pengangguran yang tidak mampu membelikan istriku makan, Mi. Jadi, biarkan saja Jani bebas melakukan apa yang membuatnya nyaman." ungkapnya yang terdengar begitu serius.
"Jadi yang perlu Mami lakukan hanyalah cukup percaya saja sama Gavin. Putramu ini tidak mungkin membiarkan istrinya menderita. Bukankah Mami sendiri yang selalu memintaku untuk selalu meratukan wanita yang sudah aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku?"
"Baiklah Gavin, Mami percaya sama kamu. Pesan Mami hanya satu, selalu lindungi istrimu dengan baik dan jangan pernah melepaskannya apapun yang terjadi."
...****************...
"Baiklah, Gavin." jawab Rinjani singkat. Pandangannya langsung tertuju ke seseorang yang cukup lama tidak ditemuinya.
"Jangan menatapnya seperti itu, Sayang. Aku tak suka." celetuk Gavin sedikit kesal.
Rasanya Gavin tidak rela menyaksikan sendiri istrinya yang sedang menatap pria lain. Tatapan tajamnya pun langsung mengarah ke arah pria yang sudah membuatnya merasakan sensasi panas di hatinya.
"Pastikan istriku yang cantik ini tiba di ruangan ku dengan selamat, Ferdi. Dan ingat! segeralah menemui ku setelah mengantarkan istriku!" titahnya dengan sengaja memberikan sedikit penekanan pada kata 'istriku'
Sejujurnya Gavin tidak rela membiarkan istrinya berduaan dengan pria lain. Sekalipun itu adalah Ferdi, asisten pribadi yang sudah sangat dipercayainya. Hanya saja, mengingat jika dirinya harus segera menemui seseorang, membuat Gavin harus sedikit membesarkan hatinya dan terpaksa membiarkan istrinya bersama Ferdi.
__ADS_1
"Sepertinya anda lupa, Tuan. Wanita yang anda panggil istri ini merupakan adik perempuanku, Tuan." balas Ferdi sengaja menggoda Tuannya. Bahkan Ferdi sengaja memeluk Rinjani dengan satu tangannya.
Sontak saja perbuatannya itu berhasil membangunkan singa yang sedang tertidur lelap. Sedangkan orang yang sudah berani mengusik sang pimpinan perusahaan itu bergegas menarik tangan adik angkatnya memasuki lift yang terbuka. Tentunya semua itu dilakukan Ferdi dengan perasaan puas karena sudah berhasil menggoda bosnya.
"Sialan! Tunggu saja, Ferdi. Lihat saja nanti, aku pasti akan membunuh mu!" teriak Gavin dengan amarah yang menggebu.
Sejenak Gavin tidak bisa mengontrol percikan cemburu yang kini sedang menguasai hatinya. Akan tetapi, menyadari ada begitu banyak pasang mata yang mungkin saja sedang menyaksikan dirinya, Gavin terpaksa harus menjaga sikapnya agar tetap terlihat tenang dan berwibawa di hadapan para karyawan perusahaan.
"Tenanglah, Gavin. Jangan sampai harga dirimu terjatuh di depan bawahan mu sendiri!" ucapnya pada diri sendiri.
Setelah mengatakan hal itu, Gavin bergegas melihat ke arah jam tangan hitam yang mengukung pergelangan tangannya.
"Sial! jadi terlambat, kan." rutuknya mengetahui dirinya sudah terlambat menemui seseorang.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Gavin langsung membawa langkahnya cepat menaiki lift yang berbeda. Satu jarinya dengan cepat menekan tombol yang bertuliskan angka 5.
Ting!
Sesampainya di lantai yang menjadi tujuannya, Gavin kembali melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di sebuah pintu ruangan yang langsung dibukanya tanpa mengetuknya lebih dulu.
j'glekkk!
"Ada apa memanggilku ke sini, Nyonya?" tanya Gavin terdengar begitu dingin.
"Nyonya?" ulang seseorang yang tidak menyangka dengan panggilan Gavin kepadanya.
__ADS_1
"Katakan saja apa yang ingin anda bicarakan dan biarkan saya kembali ke ruangan saya, Nyonya Marisa Anderson."