Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Sebuah berita


__ADS_3

"A-apa!! menikah!!!" teriak Rinjani yang terkejut mendengar pertanyaan ibu Gavin.


"Iya Sayang, menikah. Kalian berniat mau mengesahkan hubungan kalian, kan? Jadi kapan kalian mau menikah, biar Mami siapkan pesta yang super mewah untuk kalian berdua."


Mendengar hal itu, Rinjani langsung membelalakkan kedua matanya dengan mulut yang menganga sempurna. Bagaimana ini? bukankah untuk menikah dengan Gavin sama sekali tidak ada di dalam skenario. Lalu apa ini? kenapa Ibu Gavin sampai menodongnya seperti ini.


Rinjani menoleh ke arah Gavin, kedua alisnya saling bergerak cepat meminta jawaban kepada pria yang ternyata sama kagetnya dengan dirinya.


"Ta-tapi Mami, kita berdua memang tidak ada rencana untuk menik--"


"Secepatnya, Mamiii! kita akan menikah secepatnya." sela Gavin cepat memotong kalimat gadis yang berubah menatap tajam ke arahnya.


Rinjani sengaja menggoyangkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya keberatan dengan semua ini. Dirinya hanya dipaksa untuk berpura-pura menjadi kekasih dari Gavin, bukan dipaksa untuk menikah seperti ini. Namun sayang, Ibu Gavin sudah terlanjur bergembira mendengar berita bohong putranya.


"Baiklah, Sayang. Kalian atur saja tanggal pernikahan kalian. Biar Mami yang atur semua keperluan pesta." Ibu Gavin berkata dengan penuh semangat. Dirinya menjadi orang yang paling antusias dengan rencana pernikahan keduanya.


Sedangkan sepasang kekasih palsu yang digadang-gadang akan menyegerakan pernikahan itu hanya diam mematung di tempatnya. Keduanya sama-sama tidak bisa berkutik di depan wanita paruh baya yang terlihat begitu bahagia, terlihat dari wajahnya yang penuh akan rona bahagia.


"Tuan, bagaimana ini? saya tidak mau menikah dengan Tuan Gavin. Saya sudah punya kekasih, Tuan." bisik Rinjani dengan suara yang sengaja dikecilkan. Sedangkan orang yang ditanya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda dirinya juga tidak tau harus berbuat apa.


"Jangan begitu, Tuan. Saya tidak mau masuk ke dalam masalah Tuan. Sebaiknya kita akui saja kalau di antara kita ini tidak ada hubungan apapun, Tuan." lanjutnya masih dengan suara super kecilnya.


"Sudahlah, kamu tenang saja. Biar saya yang akan mencari cara agar kita tidak perlu sampai menikah." Tidak ingin semakin terjebak dalam masalah, Gavin memilih mengajak pergi Rinjani yang memang sudah menantikan hal itu sedari tadi.


"Gavin pulang dulu, Mi. Masih ada banyak pekerjaan yang harus Gavin selesaikan hari ini juga, Mi." pamitnya sebelum memberikan ciuman sayang ke dahi sang ibu.


"Tunggu sebentar, Gavin. Ada sesuatu yang mau Mami bicarakan sama kamu." ucap Ibu Gavin dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Soal apa, Mi?"


"Soal Oma, Sayang. Tapi tidak di sini," Ibu Gavin sengaja menjeda kalimatnya. Pandangannya beralih menatap Rinjani, "Sayang, Mami pinjam Gavin sebentar, ya..." ucapnya dengan penuh kelembutan.


"Silahkan saja, Mi."


Sedetik kemudian, Gavin dan ibunya sudah beranjak pergi meninggalkan Rinjani yang memilih duduk kembali. Rinjani menghembuskan nafas beratnya demi menghalau ketakutannya.


Sedangkan di kamar sendiri, Gavin sedang duduk pada sofa single yang menghadap langsung ke arah ibunya. Sebenarnya, Gavin cukup penasaran dengan apa yang akan dibicarakan ibunya.


Entahlah, tapi Gavin merasa jika ibunya itu ingin membahas sesuatu yang sangat penting. Hal itu terlihat dari raut wajah ibunya yang terlihat sangat serius.


"Kamu tau, Gavin? Mami baru saja mendapat kabar dari Om Alex mengenai keadaan Oma." jelas ibu Gavin menceritakan kabar yang baru saja didapatnya dari pengacara keluarganya.


Mendengar hal itu, wajah Gavin tiba-tiba saja terlihat sedikit tegang. "Kabar apa, Mi? apa ada kabar baik mengenai Oma?"


"Oma sudah berhasil sembuh dari sakitnya..."


"Sayangnya ada masalah baru lagi, Sayang..." lirih Ibu Gavin yang mendadak berubah muram. Sontak, perubahan raut wajahnya itu berhasil mengundang perhatian Gavin yang merasa heran melihat perubahan sikap ibunya.


"Masalah baru? masalah apa lagi, Mi?" tanyanya tidak mengerti dengan maksud ucapan ibunya. Bukankan berita mengenai kesembuhan Oma-nya merupakan hal baik untuk mereka. Lantas, apa yang membuat ibunya terlihat muram seperti itu.


"Oma sudah mengetahui tentang kejadian 24 tahun yang yang lalu." jelas ibu Gavin menceritakan apa yang menjadi keresahan hatinya.


"Ta-tapi bagaimana bisa, Mi? bukankah tidak ada orang yang mengetahui soal kejadian itu selain Mami dan mendiang Papi? semua barang bukti juga sudah dihilangkan, Mi. Lalu, bagaimana bisa Oma bisa tau tentang hal itu?" selidik Gavin jelas tidak menyangka jika rahasia besar yang selama ini mereka tutupi bisa diketahui oleh Oma-nya.


"Mami sendiri juga belum mengerti, kenapa Oma sampai mengetahui hal itu. Tapi kamu tenang saja, Sayang. Om Alex sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tau soal hal itu."

__ADS_1


...****************...


Hari sudah berganti malam saat Rinjani tiba di rumahnya. Sejenak, Rinjani kembali merasakan kekosongan pada jiwanya begitu memasuki rumahnya yang terasa begitu sepi.


Bagaimana tidak sepi, orang yang biasa menghuni rumahnya saja sudah berpindah ke alam lain. Alam yang tidak memiliki pintu masuk untuknya menemui mereka.


Di dalam situasi yang seperti ini, pikiran Rinjani langsung tertuju kepada sang kekasih yang sampai hari ini belum juga memberinya kabar.


"Sebenarnya, kamu itu sedang ada di mana, Ndra? tidak biasanya kamu pergi tanpa kabar seperti ini."


Mengetahui dirinya masih belum bisa menghubungi nomor sang kekasih, Rinjani memilih membuka galeri foto yang ada di ponselnya. Perlahan, satu jarinya terlihat menggulir layar ponselnya dimana sudah ada banyak gambar dirinya bersama sang kekasih.


Jujur saja, Rinjani sudah mulai rindu akan kehadiran sang kekasih yang dalam beberapa bulan terakhir ini selalu ada di dekatnya. Kini, tidak hanya jiwanya saja yang hampa, hatinya juga ikut merasakan kekosongan akibat kepergian Hendra yang entah menghilang kemana.


Setelah puas menatap foto sang kekasih, Rinjani buru-buru meletakkan ponselnya di atas ranjang. Sebaiknya, besok dirinya akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Tante Soraya, pikirnya dalam hati.


Sedangkan orang yang sedang memenuhi pikiran Rinjani, ternyata sedang berada di ruangan dokter spesialis bedah otak.


Di hadapannya ada dokter Albert yang sedang menjelaskan mengenai serangkaian perawatan yang harus dilakukan demi mempercepat proses penyembuhan nenek Hendra.


Hendra terlihat sangat serius mendengarkan segala penuturan dokter Albert. Kepalanya berulang kali mengangguk kecil sebagai jawaban jika dirinya bisa menangkap segala informasi yang sedang dijelaskan.


"Setelah melakukan semua prosedur yang ada, apa saya sudah bisa membawa pulang nenek saya ke rumah, Dok?" tanyanya dengan bahasa inggris yang fasih. Hendra sangat berharap jika dirinya bisa segera membawa pulang neneknya ke rumah. Dengan begitu, tentunya dia bisa segera menyelesaikan tugas yang sedang diembannya.


"Jika keadaannya memang memungkinkan untuk hal itu, tentunya kalian bisa segera membawa pasien pulang. Tapi, hal itu mungkin sangat beresiko karena pasien masih membutuhkan beberapa alat medis yang tentunya hanya ada di rumah sakit."


"Jika dokter mengizinkan, saya akan menyiapkan semuanya, Dok. Saya akan meminta rumah sakit ini untuk menyediakan semua alat yang diperlukan ke rumah nenek, Dok. Saya berani membayar mahal, asalkan nenek saya bisa segera pulang."

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Hendra sudah terlihat meninggalkan ruangan dokter Albert. Wajahnya terlihat begitu bahagia setelah berhasil membujuk dokter Albert agar mengizinkannya membawa pulang neneknya.


"Syukurlah, semoga nenek bisa segera sembuh. Setelah itu, aku akan membawa Mamah bertemu dengannya. Mamah pasti senang, harapannya akan segera terwujud."


__ADS_2