Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Mulai menerima


__ADS_3

Hari demi hari berjalan dengan begitu cepat. Akhir-akhir ini Rinjani selalu mengikuti kemana pun suaminya itu pergi. Mulai dari Gavin yang menjalankan tugasnya sebagai pemegang kursi terpenting di perusahaan keluarga Anderson, ataupun sekedar ikut menemani suaminya melakukan pertemuan penting dengan para klien.


Tentu saja semua itu dilakukannya atas perintah dari ibu mertuanya yang tidak mungkin untuk ditolaknya. Mami Carla benar-benar memposisikan dirinya sebagai wanita nomor satu di kerajaan Anderson's Group yang saat ini berada di bawah kekuasaan suaminya.


Begitu pun dengan pagi ini, Rinjani sudah berdandan begitu anggun dengan balutan baju semi formalnya. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh Rinjani sebelum menyandang gelar sebagai istri pewaris tunggal pengusaha kaya raya.


Rinjani sendiri sedikit merasa aneh sebenarnya mematut bayangan dirinya yang terpampang begitu nyata di dalam cermin besar yang ada di hadapannya. Dirinya yang sudah terbiasa memakai dress sebatas lutut, kini terlihat cukup berbeda dengan kemeja crop top berwana putih yang di padukan dengan celana kulot dan blazer berwarna abu-abu muda.



Sedangkan Gavin sendiri sudah terlihat begitu gagah dengan balutan jas kerjanya. Dimana beberapa kancing kemejanya sengaja tidak dikancing, membuat dada bidangnya sedikit menyembul keluar. Membuat penampilannya tetap terlihat cool dengan setelan jas miliknya.


__ADS_1


"Apa kamu sudah siap, Jani?" tanya Gavin.


"Apa aku terlihat cukup aneh memakai pakaian iniii?" tanya balik Rinjani tanpa berniat menjawab pertanyaan suaminya.


Sejenak Gavin mulai menyisir penampilan istrinya. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki istrinya tidaklah luput dari pandangannya. Sangat disadari Gavin jika dirinya memang cukup terpukau dengan penampilan baru istrinya. Alih-alih terlihat aneh dengan penampilannya, kecantikan Rinjani justru terlihat berkali-kali lipat dari biasanya. Setidaknya seperti itulah kesan yang ada di dalam pandangan Gavin.


"Kenapa bertanya seperti itu, Jani??? lalu, bagaimana dengan pandangan orang lain jika kamu sendiri saja tidak percaya diri dengan penampilanmu." jawab Gavin yang sebenarnya bukan sebuah jawaban atas pertanyaan istrinya.


Rinjani bergegas merapihkan alat make up nya sebelum dibuat terperanjat dengan ucapan suaminya.


"Ketahuilah, Jani ... you look so beautiful with your outfit. Untuk itu, bersikaplah selayaknya seorang istri dari Gavin Anderson. Setidaknya, buat aku bangga karena sudah beristrikan kamu, Jani..." ucap Gavin yang membuat Rinjani menjadi salah tingkah sendiri.


Kedua pipi Rinjani terlihat begitu merona dengan bola mata yang sedikit berbinar. Tidak ayal Rinjani seperti merasakan adanya kehangatan yang langsung menyergap hatinya, membuatnya tidak bisa menyembunyikan senyuman manisnya yang muncul tanpa diduga.

__ADS_1


Rinjani sendiri bisa merasakan kedua pipinya yang menghangat. Entahlah, Rinjani sendiri tidak menyangka akan berekspesi seperti ini. Akan tetapi, kalimat pujian yang baru saja keluar dari mulut dingin suaminya itu terdengar begitu hangat menyergap hatinya.


"Mau sampai kapan kamu hanya senyum-senyum sendiri seperti itu, Jani?"


Sontak saja pertanyaan yang baru saja dilontarkan Gavin membuat Rinjani menjadi kelimpungan sendiri. Wajahnya yang sebelumnya terlihat cukup merona, kini bertambah memerah layaknya buat tomat yang sudah matang. Hanya saja, kali ini wajahnya memerah karena Rinjani merasa salah tingkah sendiri lantaran sudah ketahuan sedang terbuai dengan kalimat pujian seseorang yang belum beranjak sedikitpun dari hadapannya.


"Ma-maaf ..." lirih Rinjani tidak tau harus berkata apa lagi selain mengucapkan kalimat maaf saja.


"Jadi, bagaimana? apa kamu jadi menemani aku ke kantor?"


"Tentu saja, Gavin! bagaimana dengan Mami kalau sampai tau aku tidak jadi ikut kamu pergi ke kantor. Aku sih aman-aman saja, karena yang bakalan dapat siraman rohani dari Mami kan kamu..." ucap Rinjani yang sudah mulai membiasakan diri dengan kehidupan barunya.


"Baiklah, ayo pergi, Istriku..." ajak Gavin yang tidak merasa takut menggandeng tangan lembut istrinya.

__ADS_1


__ADS_2