
Gavin masih bergeming di tempatnya. Tiba-tiba saja dirinya dilanda dilema setelah mendengar penuturan istrinya yang menyinggung soal hidup susah.
Pikirannya langsung terlempar jauh membayangkan jika dirinya harus melalui satu fase yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Harus menjalani kehidupan yang jauh dari segala kemewahan jelas belum pernah terbesit di pikiran Gavin.
Seketika ada banyak sekali bayangan-bayangan dimana dirinya harus bekerja keras lebih dulu hanya demi mendapatkan sesuap nasi yang memenuhi pikirannya.
Tubuhnya yang kurus serta penampilannya yang lusuh tidak berhenti menyusuri teriknya jalanan ibukota untuk sekedar mencari pekerjaan yang layak untuknya agar bisa menghidupi Rinjani.
Refleks Gavin langsung menggelengkan kepalanya cepat guna menepis pikiran bodoh yang sebisa mungkin dibuangnya jauh-jauh. Dan hal itu jelas tidak luput dari penglihatan gadis yang semakin dibuat heran dengan sikap anehnya.
"Ada apa, Gavin? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rinjani yang berhasil menarik kembali kesadaran suaminya.
"Ti-tidak ada, Jani." balas Gavin sedikit kikuk. Gavin langsung membenarkan posisi duduknya. Sebisa mungkin Gavin berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan Rinjani. Dirinya tidak mau jika Rinjani sampai menaruh curiga terhadap dirinya.
Akan tetapi, sepertinya tidak semudah itu untuknya mangkir dari pertanyaan istrinya, karena di saat yang bersamaan Gavin bisa melihat tatapan istrinya yang menghunus ke arahnya. Gavin tau jika istrinya itu sedang menuntut jawaban darinya meskipun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Lupakan saja, Jani. Aku, aku hanya bergurau saja tadi. Jadi ... jangan terlalu dipikirkan, oke!" pungkasnya sebelum memilih bangkit dari duduknya.
Tak ingin mendapatkan pertanyaan lain dari istrinya, Gavin sengaja menyalakan laptop miliknya dan memilih untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dikerjakan.
__ADS_1
Sebisa mungkin dirinya harus terlihat sibuk agar bisa terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja tidak bisa dijawabnya.
Namun sayang, karena seseorang yang sedang dihindarinya itu justru bak seorang ibu yang bersikap tegas lantaran sedang dibuat curiga oleh anaknya sendiri.
Hal itu terlihat sangat jelas dimana Gavin langsung menutup keduanya matanya sembari berdecak pelan begitu merasakan ada alunan kaki yang sedang bergerak ke arahnya.
Dan benar saja, hanya berselang beberapa detik saja tubuh istrinya itu sudah kembali muncul di depan kepalanya.
Menyadari tatapan Rinjani yang seolah sedang ingin memakannya secara hidup-hidup membuatnya kesulitan sendiri untuk sekedar bernafas dengan baik.
Dan entah apa yang membuat Gavin pada akhirnya memilih untuk menunduk tanpa berani menatap wajah istrinya. Gavin sudah pasrah jika dirinya harus mendapatkan omelan dari istrinya. Yang ada di dalam pikirannya adalah, dirinya hanya harus bersikap bak anak kecil yang sedang memohon untuk tidak dihukum oleh ibunya.
Rinjani tidak tahu kemana perginya sikap dingin dan sok cool yang selama ini sudah melekat pada diri suaminya. Sekarang semuanya itu seolah menghilang dan tergantikan dengan Gavin yang lucu dan menggemaskan.
Hanya saja, seperti ada dorongan dari dalam hatinya untuk tetap bersikap seolah dirinya sedang marah dan menggali informasi apa yang sudah menjadi penyebab perubahan sikap aneh Gavin.
"Katakan, Gavin! Apa kamu sedang berniat untuk mengajakku hidup susah?" selidiknya yang terdengar begitu mengerikan di telinga Gavin, "Katakan saja, apa ada masalah yang membuat perusahaan suamiku ini berpotensi untuk bangkrut?"
"Bukan begitu, Jani. Aku ... aku ha--"
__ADS_1
"Ck! Sebenarnya ada apa dengan pemimpin perusahan ini, hakh? kenapa seorang Gavin Anderson tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu!" potong Rinjani cepat, membuat Gavin tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Sebenarnya sangat mudah untuk Gavin menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Hanya saja, dirinya tidak mau mengambil resiko dengan menyebutkan nama seseorang yang entah saat ini masih bertahta di hati istrinya atau tidak.
Gavin tidak mau jika usahanya dalam mendapatkan hati istrinya itu harus kembali terhalang lantaran Rinjani kembali teringat oleh mantan kekasihnya. Sedangkan saat ini dirinya pun sangat tahu jika istrinya itu sedang berusaha untuk mencintainya dan belajar menerimanya sebagai suami sungguhan. Tentu saja Gavin tidak mau jika semua itu harus berakhir dengan mengingatkan kembali Rinjani dengan sosok yang mungkin saja sudah memberikan banyak warna pada kehidupan Rinjani sebelumnya.
"Sudahlah, Jani. Aku tidak sedang menyembunyikan apapun darimu. Jadi tolong lupakan tentang hal ini dan izinkan aku untuk kembali bekerja,"
"Ya, kamu memang benar, Gavin. Kamu memang harus berkerja keras agar bisa menghidupiku dengan baik. Kamu tau, Gavin? Selama ini aku sudah bosan hidup susah, jadi jangan pernah berpikir untuk mengajakku hidup susah."
Deghhh!
"Satu hal yang perlu kamu ingat, Gavin! Aku bisa saja berubah pikiran dan pergi meninggalkan kamu sewaktu-waktu, Gavin. Jadi, berusahalah untuk tetap berdiri kokoh di atas kakimu agar aku tidak memiliki alasan untuk pergi darimu, Gavin Anderson."
"M-maksud kamu apa, Jani?" cicit Gavin yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Benarkan kalimat itu memang berasal dari mulut istrinya?
"Ck! lihatlah, Gavin. Bahkan untuk memahami perkataan ku saja sudah membuatmu kesulitan berfikir." cibir Rinjani dengan senyum remeh nya, "Apa yang aku katakan sudah jelas, Gavin. Aku tidak mau kembali hidup susah. Untuk itu, tetaplah menjadi Gavin yang hebat jika kamu masih ingin beristrikan seorang Rinjani!"
"Apa kamu sedang mengancam ku?"
__ADS_1
"Anggap saja seperti itu. Kamu bisa menganggap ini sebuah ancaman atau pun sebuah tantangan."