Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Masa lalu 1


__ADS_3

Rinjani masih bergeming di tempatnya berdiri. Di hadapannya masih ada Ferdi yang jelas sedang menanti jawaban darinya.


"Kenapa harus pergi ke rumah Tuan Gavin lagi, Mas? bukankah urusanku dengan Tuan Gavin sudah selesai?" tanya Rinjani dengan wajah sendunya.


"Kalau soal itu, aku sama sekali tidak tau apa-apa, Rin. Tuan Gavin hanya memintaku untuk menjemputmu saja."


"Tapi, bagaimana kalau aku tidak mau ikut denganmu, Mas?" Rinjani bertanya sembari menatap lekat ke arah kakak barunya. Kedua matanya sangat menyiratkan harapan agar dirinya tidak perlu lagi mendatangi ataupun berurusan lagi dengan Gavin.


Sayangnya, harapannya itu hanya tinggal harapan saja. Gelengan kepala Ferdi ternyata sudah cukup sebagai jawaban untuknya.


"Sayangnya Tuan Gavin tidak suka yang namanya penolakan, Rin. Segala cara akan tetap dilakukannya demi bisa mewujudkan semua keinginannya, termasuk untuk membawamu datang kepadanya." ujar Ferdi menceritakan tabiat sang bos. Sudah beberapa tahun bekerja dengan Gavin pastinya sudah cukup untuk Ferdi mengenali semua tabiat dari sang Tuannya.


"Tapi aku tidak mau berurusan lagi dengannya, Mas. Apa Mas Ferdi sudah tau, kemarin Maminya Tuan Gavin sempat menyuruh kami untuk segera melangsungkan pernikahan, Mas. Semua itu karena Tuan Gavin bilang ke Maminya kalau Jani itu kekasihnya, dan Maminya Tuan Gavin langsung percaya begitu saja." Rinjani sengaja menjeda kalimatnya. Pandangannya menatap nanar ke arah pria yang setia mendengar segala keluh kesahnya.


"Jani tidak mau kalau Jani sampai terseret lebih jauh lagi ke dalam masalah yang sedang dialami Tuan Gavin..."


"Kamu tenang saja, Rin. Itu semua tidak akan berlangsung lama. Tuan Gavin hanya membutuhkan bantuan kamu untuk menyakinkan Maminya. Dan mengenai permintaan Nyonya Carla yang meminta kalian untuk segera menikah, kamu tidak perlu takut lagi akan hal itu, Rin. Selama ini Tuan Gavin selalu punya cara untuk menyelesaikan setiap masalahnya, termasuk untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada pernikahan di antara kalian berdua."


"Tapi bagaimana kalau Maminya Tuan Gavin tetap memaksa kami untuk menikah?" tukas Rinjani masih dengan keresahan hatinya.

__ADS_1


"Itu tidak akan pernah terjadi, Rin. Setelah urusan Tuan Gavin selesai, saat itu pula urusanmu dengan Tuan Gavin berakhir. Kamu bisa pergi bebas tanpa ada bayang-bayang Tuan Gavin lagi." Ferdi tidak berhenti memberikan pemahaman kepada adik barunya itu. Ferdi bukannya sedang memihak kepada Gavin maupun kepada Rinjani, semuanya itu benar-benar murni dari isi pikirannya yang menganggap jika keputusan itu memanglah yang terbaik untuk saat ini.


"Setidaknya, tolong bantu Tuan Gavin untuk mencapai apa yang sedang menjadi tujuannya. Anggap saja itu sebagai tebusan atas uang yang sudah dikeluarkannya demi membantumu agar terbebas dari kejaran Tuan Haris. Bukankah berpura-pura menjadi calon istri dari Tuan Gavin akan jauh lebih baik dari pada harus menikah dan rela menjadi istri ke enam pria baj*ngan itu?"


...****************...


"Makan yang banyak, Nek. Setelah itu waktunya Nenek minum obat." ucap seseorang yang sangat telaten memasukkan sendok berisi bubur ke dalam mulut seorang nenek tua.


"Nenek ingin bertemu dengan cucu Nenek. Dimana dia sekarang, Sus? pinta nenek tersebut dengan suara pelannya. Pandangannya tidak berhenti menyapu setiap sudut ruangan demi mencari keberadaan seseorang.


"Tuan Hendra sedang tidak ada di rumah, Nek. Tapi, sebelum pergi Tuan Hendra sempat menitip pesan agar Nenek mau makan dan minum obat secara teratur. Kalau Nenek tidak mau menurut, katanya Tuan Hendra akan marah dan tidak mau bertemu Nenek lagi." ujar perawat menceritakan amanah yang diterimanya dari Hendra.


Setelah mendengarkan pesan dari cucunya, Nenek yang diketahui bernama Marisa itu langsung melahap habis buburnya sebelum dilanjutkan dengan meminum beberapa butir obat dengan jenis dan bentuk yang berbeda.


Nenek Marisa sendiri sekarang sudah jauh lebih sehat, kondisinya sudah mulai membaik setelah menjalani perawatan medis dari rumahnya. Beberapa alat medis yang beberapa hari lalu selalu menemani hari-harinya, kini sudah mulai dilepaskan kembali.


Sebelumnya, sudah dua tahun belakangan ini Nenek Marisa selalu sakit-sakitan. Kondisi tubuhnya kian hari kian melemah dengan diagnosa penyakit baru yang mulai bertambah. Semua jenis pengobatan sudah dilakukannya. dokter terbaik, rumah sakit dengan alat-alat tercanggih sudah didatanginya. Namun, belum mampu juga untuk mengobati penyakitnya.


Sebenarnya, bukan penyakit medis itulah yang membuatnya merakan sakit pada tubuhnya, melainkan ada hal lain lagi yang terus menyerang jiwanya. Ya, perasan bersalah terhadap seseorang dari masa lalunya lah yang membuat kondisinya kian memburuk. Perasaan bersalah yang setiap harinya selalu menggerogoti jiwa dan hati kecilnya.

__ADS_1


Bayangan peristiwa tentang pengusiran di masa lalu tidak berhenti mengganggu pikirannya. Mengganggu dan menghantuinya hingga membawanya ke dalam jurang penyesalan.


Flashback On


"Mami, Sakha pulang, nih..." teriak Sakha muda yang baru pulang setelah melakukan tugas peninjauan proyek pada salah satu daerah terpencil di luar kota Jakarta. Disambut sebuah pelukan hangat seorang ibu yang jelas merindukan putranya setelah lebih dari tiga minggu tidak bertemu.


"Syukurlah, kamu sudah pulang, Sayang."


"Coba lihat, Mi. Siapa gadis cantik yang Sakha bawa ini, Mi." ucap Sakha dengan senyuman bahagianya. Bagaimana tidak, selama tiga minggu berada di sebuah desa, Sakha tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis lugu yang mampu membuatnya jatuh hati pada saat pandangan pertama. Seorang gadis cantik bernama Soraya Larasati yang begitu memikat hanya dengan senyuman manis dari bibirnya saja. Senyuman indah yang membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh cinta kepadanya.


Namun sepertinya itu semua tidak berlaku untuk Mami Marisa yang alih-alih merasa terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Soraya, Mami Marisa justru terlihat sedang menatap remeh ke arah Soraya.


"Ya ampun, Sakha!!! siapa gadis yang kamu bawa ini, Nak? kenapa penampilannya seperti ini. Dapat dari mana kamu gadis modelan begini, Sayang???" cibir Mami Marisa merasa jijik dengan penampilan gadis yang terlihat lusuh dengan kaos pendek dan rok hitam di bawah lutut.


"Ini Soraya, Mi. Dia ini gadis yang aku cintai, Mi. Dan kami sudah menikah dua hari yang lalu, Mi ." Sontak saja jawaban yang berasal dari mulut Sakha berhasil membuat Mami Marisa membelakak tidak percaya.


"Apa katamuu!!! menikah!!!" teriak Mami Marisa yang jelas terkejut mendengar jawaban putranya. Mami Marisa tidak tidak habis pikir segala penuturan putra sulungnya. Rasa-rasanya dirinya ingin menolak percaya jika putra sulung yang sudah digadang-gadang akan menjadi pewaris dalam keluarganya itu justru kepincut dengan gadis desa seperti ini, "Apa kamu sedang mabuk, Nak? kamu tidak serius dengan ucapan kamu kan? Bilang sama Mami kalau anak Mami ini tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis desa ini kan, Nak?"


Mami Marisa tidak berhenti memandang sinis ke arah Soraya. Pandangannya tidak berhenti menyapu penampilan Soraya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, semuanya terlihat biasa saja bahkan cenderung kampungan. Sangat bertolak belakang dengan penampilan putranya yang terlihat begitu menawan bahkan hanya dengan kaos pendeknya saja.

__ADS_1


"Cepat ceraikan gadis ini jika kamu masih berharap untuk menjadi bagian dari keluarga Anderson!!!"


__ADS_2