Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
43. Permintaan Hendra


__ADS_3

Rinjani yang sebelumnya sedang tertidur lelap itu mendadak terbangun saat merasakan ada sesuatu yang mengusik tidurnya.


Dan betapa kagetnya Rinjani saat pertama kali dirinya membuka mata, pandangannya langsung disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa.


Ya, sebentuk wajah tampan yang hampir tak berjarak dengan wajahnya. Membuatnya merasa terkejut sekaligus heran dengan apa yang sedang dilakukan suaminya.


"A-apa yang sedang kamu lakukan, Gavin?" teriaknya dengan kedua mata yang membulat sempurna. Refleks kedua tangannya itu mendorong tubuh suaminya hingga terpental ke belakang.


"Jani ... a-aku, a-aku hanya ingin mem-benarkan rambut kamu saja, Jani. Ta-tadi aku lihat rambut kamu sedikit menutupi hidung kamu, jadi aku berniat membenarkannya agar tidak membuatmu kesulitan bernafas,"


Rupanya tidak hanya Rinjani saja yang dibuat terkejut seperti ini. Gavin yang semulanya berniat mencuri ciuman dari istrinya pun dibuat kaget dengan ulahnya sendiri.


Bahkan dalam hatinya Gavin tidak berhenti merutuki dirinya. Gavin sangat menyayangkan tingkah konyolnya yang terdengar cukup memalukan jika saja sampai diketahui oleh istrinya sendiri.


Ah, akan sangat memalukan jika seseorang sampai tahu jika dirinya berniat mencuri sebuah kecupan yang nyatanya gagal seperti ini.


Tidak bisa percaya begitu saja dengan penuturan Gavin, Rinjani sampai berulang kali memastikan keadaannya yang untunglah masih tetap terlihat rapih. Tidak ada tanda-tanda apapun yang patut membuatnya curiga terhadap Gavin.


"Kenapa, Jani. Apa kamu tidak percaya dengan ucapan ku. Apa kamu berfikir aku akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak terhadapmu?" tanya Gavin terlihat tidak terima.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Gavin. Aku hanya sedikit penasaran dengan apa yang kamu lakukan. Jujur saja melihat wajahmu yang begitu dekat dengan wajahku membuatku terkejut dan merasa sedikit tidak nyaman,"


"Benarkah begitu, Jani? Oh, aku tidak menyangka jika berada di dekatku sudah membuatnya merasa tidak nyaman seperti ini. Baiklah, kalau begitu biarkan aku pergi saja,"


"P-pergi? hei, Gavin! kamu mau pergi kemana, hakh? dengarkan aku dulu! Jangan salah paham seperti ini, Gavin." teriak Rinjani begitu melihat Gavin pergi meninggalkan kamar dengan perasaan kecewanya.


Perasaan bersalah langsung memenuhi benaknya. Ia tidak mengira jika suaminya itu akan bersikap seperti ini. Ah, kenapa dirinya yang harus merasa bersalah seperti ini? bukankah seharusnya dirinyalah yang merasa marah terhadap aksi suaminya itu. Kenapa semuanya jadi terbalik seperti ini.


Sementara itu, di luar kamar Gavin tidak berhenti mengusap dadanya sendiri. Gavin sangat bersyukur bisa terlepas dari situasi yang ah, sudahlah, tidak perlu dijelaskan lagi.


Yang terpenting saat ini, Gavin sudah bisa kembali bernafas lega tanpa harus merasa bersalah lagi. Ya, semua itu memang sengaja dilakukannya. Berpura-pura marah dan kecewa atas pikiran buruk Rinjani hanyalah sebuah tameng untuknya membela diri.


"Selamat, selamat. Maafkan aku, Jani. Aku tidak serius marah kepadamu,"


...****************...


"Oma, apa aku bisa masuk dan ikut serta dalam menjalankan perusahaan, Oma?"


"Ada apa, Sayang. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja kamu menanyakan hal seperti itu sama Oma, Nak? bukankah sebelumnya kamu pernah bilang sama Oma kalau kamu tidak tertarik untuk bergabung dengan perusahaan, Sayang?"

__ADS_1


"Iya, Oma memang benar. Sebelumnya Hendra memang tidak tertarik untuk masuk ke perusahaan, Oma. Hanya saja, sepertinya Hendra sudah memiliki pemikiran lain. Hendra rasa, sepertinya tidak terlalu buruk untuk Hendra bergabung dan ikut memimpin perusahaan." ungkap Hendra dengan penuh percaya diri.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu, Sayang?" tanya Oma Marisa.


"Tentu saja, Oma. Apa Oma tidak percaya dengan kemampuanku?"


"Bukan begitu maksud Oma, Sayang. Oma hanya ingin memastikan jika cucu Oma yang tampan ini memang ingin melakuakan hal itu dari hatinya. Kamu tau kan, Sayang? dunia bisnis itu bukan tempatnya untuk bermain-main. Jadi, sekalinya kamu memutuskan untuk masuk ke dunia itu, selamanya kamu akan dituntut untuk selalu berkontribusi dalam mengelola dan memajukan perusahaan." jelas Oma Marisa dengan penuh kelembutan.


Oma Marisa tidak mau membuat Hendra merasa tersinggung dengan ucapannya. Jelas saja Oma Marisa akan merasa senang apabila cucunya itu bersedia untuk melanjutkan perjuangan Sakha.


Akan tetapi, ada satu ganjalan yang sebenarnya cukup membuatnya merasa khawatir. Fakta dimana


adanya sebuah persaingan pribadi di antara kedua cucunya itu jelas membuatnya tidak tenang.


Dan satu hal yang menjadi ketakutannya adalah, dengan masuknya Hendra ke dalam perusahaan yang saat ini berada di bawah kekuasaan Gavin, tentu saja hal itu akan sangat beresiko untuk perusahaan jika saja kedua cucunya itu sama-sama mementingkan egonya sendiri.


Saat ini saja Oma Marisa sudah bisa merasakan adanya bom waktu di antara keduanya yang bisa meledak kapan saja.


"Baiklah, Oma. Hendra akan berusaha sebaik mungkin untuk memajukan perusahaan. Oma lihat saja, siapa nantinya yang akan sukses membesarkan nama perusahaan. Aku, atau Gavin."

__ADS_1


Deghhh!


__ADS_2