Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Amarah


__ADS_3

"Sejak kapan kamu punya kakak angkat, Sayang?" tanya Hendra yang masih memiliki tanda tanya besar di kepalanya. Selama dua tahun menjalin hubungan dengan Rinjani, Hendra sama sekali tidak tahu jika Rinjani memiliki seorang kakak. Selama ini Hendra hanya tau jika kekasihnya itu merupakan anak tunggal dari pasangan Om Burhan dan Tante Ajeng. Bahkan Rinjani sama sekali tidak memiliki kerabat, mau itu dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya.


Mendengar hal itu, Rinjani hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan kekasihnya.


"Hekh! sejak kapan??? sejak kekasih yang katanya sangat mencintaiku itu pergi meninggalkan aku tanpa adanya kabar. Lelaki inilah yang selalu menemaniku di saat semua orang meninggalkan aku. Lelaki ini juga yang setiap harinya selalu menjaga aku layaknya seorang kakak sungguhan!!!" bentak Rinjani dengan segala emosinya sambil berulang kali menunjuk ke arah Ferdi. Tatapannya begitu nanar, suaranya bahkan terdengar sedikit bergetar dengan deruan nafas yang sedikit berat.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu seperti ini. Sudah aku bilang kan, aku hanya pergi sebentar untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi impian Mamah selama ini. Tolong kamu ngerti, Sayang..."


Hendra berbicara dengan kedua tangan yang sengaja di tumpukan ke lengan kekasihnya. Berharap jika Rinjani bisa mengerti kalau kepergiannya selama ini semata-mata karena ingin berbakti kepada ibunya. Satu tangannya terulur ke depan, mengusap buliran bening yang mulai membasahi wajah cantik di hadapannya.


Sedangkan Rinjani sendiri memilih untuk diam. Dirinya tidak ingin larut dalam emosi yang sedang melanda hatinya.


"Maaf sebelumnya, tapi jika kedatanganmu ke sini hanya untuk membuat Rinjani menangis seperti ini, saya sebagai kakak dari Rinjani memohon dengan sangat agar kamu sebaiknya pulang saja. Tenangkan dulu hatimu! buang dulu segala pikiran kotor yang ada di dalam kepalamu. Jika kamu sudah bisa melakukan semua itu, baru kamu bisa kembali menemui adikku ini." ucap Ferdi masih dengan pembawaan yang begitu tenang.


"Diam kamu! kamu hanyalah kakak angkat Rinjani saja, kan? ketahui statusmu! jangan bertingkah seolah kamu ini orang yang harus aku ikuti semua perintahmu!" sentak Hendra tidak terima jika seseorang yang baru saja dikenal Rinjani itu sudah berani mengaturnya. Hendra tau jika kekasihnya itu sudah sangat merindukan dirinya. Hendra sangat yakin jika Rinjani tidak mungkin berpihak kepada Ferdi. Namun sayang, Hendra yang sedang berada di atas awan itu seketika langsung terjatuh ke dasar bumi begitu mendengar perkataan Rinjani yang sangat di luar prediksinya.


"Kamu sudah dengar sendiri kan, apa yang sudah dikatakan oleh kakakku?"


"Sayang, ka-kamu ... kamu mengusirku, Sayang?" tanya Hendra sedikit tergagu saking tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


"Aku mohon, Ndra. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu karena aku juga sedang buru-buru ingin pergi." pinta Rinjani setelah amarahnya mulai mereda.


"Pergi? kamu mau pergi kemana, Sayang?" Pikiran Hendra jadi bertambah tidak karuan mendengar penuturan Rinjani yang mengatakan jika dirinya ingin pergi. Pandangannya langsung tertuju ke arah lemari dimana tidak jauh dari lemari memang sudah ada sebuah koper berukuran sedang, "Kamu mau pergi kemana, Sayang. Kenapa harus membawa koper segala? katakan padaku! kamu tidak ingin pergi jauh, kan?"


Rinjani tidak menjawab, matanya tidak berhenti menatap lantai yang ada di bawahnya.


"Permisi, kami harus segera pergi." timpal Ferdi yang ternyata sudah berhasil membawa koper milik adiknya. Satu tangannya kemudian menarik pergelangan tangan Rinjani yang otomatis ikut kemana saja Ferdi bergerak. Meninggalkan Hendra yang terperanjat di tempatnya.


...****************...


"Bersihkan dulu wajahmu! bila perlu, tutupi wajah sembab mu itu menggunakan make up. Tidak enak jika Tuan Gavin dan Nyonya Carla melihat penampilanmu yang seperti ini, Jani." perintah Ferdi setelah memarkirkan mobil mewahnya di depan rumah tuannya. Mendapat anggukan kepala Rinjani yang langsung mengeluarkan alat make up-nya dari dalam tas.


Berjalanan beriringan dengan Ferdi yang setia membawakan koper milik adik barunya.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya..." sapa Ferdi sedikit menundukkan badannya. Sontak kedatangan mereka itu langsung disambut bahagia Mami Carla yang terlihat begitu antusias melihat kedatangan Rinjani.


"Akhirnya, calon menantu Mami datang jugaa!!! Kemari lah, Sayang..." sambut Mami Carla sembari menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.


"Selamat Pagi, Mi." seru Rinjani sebelum menoleh ke arah pria yang sedang duduk pada sofa single, "Pa-pagi Sayang..." sambungnya sembari memaksakan senyuman kecil pada wajahnya. Sedetik kemudian, Rinjani dan Ferdi sudah bergabung dengan sepasang ibu dan anak itu.

__ADS_1


"Ferdi! minta pelayan untuk menyimpan koper milik Rinjani ke dalam kamar Gavin!" pinta Mami Carla yang tanpa bertanya pun dirinya sudah tau jika koper yang dibawa Ferdi itu merupakan koper milik calon menantunya.


"Baik, Nyonya."


"Sayang, Mami sudah bilang, kan ... kamu itu tidak perlu membawa barang-barang apapun dari rumah kamu. Mami sudah menyiapkan semuanya untukmu, Sayang. Kamu hanya perlu membawa surat-surat penting buat acara lusa."


"Jani hanya tidak ingin merepotkan Mami. Kasihan Mami kalau sampai repot-repot menyiapkan barang-barang untukku..."


"Loh, kok begitu. Mana pernah Mami merasa di repot kan sama kamu Sayang. Sebentar lagi kamu ini bakalan sah menjadi anak Mami, kan? jadi, sudah tugas Mami sama Gavin untuk untuk memastikan semua kebutuhanmu sudah aman terkendali, Sayang."


Entah ada kekuatan magic apa yang ada di dalam diri Rinjani, hingga membuat Mami Carla begitu menyayanginya. Belum menjadi menantunya saja Rinjani sudah mendapatkan limpahan kasih sayang dari Mami Carla. Mami Carla yang bersikap begitu baik dan selalu meratukan dirinya.


Semua itu juga sangat dirasakan oleh Gavin, Gavin bisa melihat jika Maminya itu memang sangat menyayangi Rinjani dengan sangat tulus. Layaknya seorang ibu yang begitu menyayangi putri kandungnya, hal itu juga yang sedang dilakukan Maminya.


Tanpa sadar, sebuah senyuman mulai terlihat menghiasi wajah tampannya. Ada kedamaian sendiri yang terasa menyergap hatinya menyaksikan Mami yang sangat disayanginya itu terlihat begitu bahagia bersama Rinjani.


Gavin masih memperhatikan interaksi kedua wanita yang terlihat begitu asik membahas sesuatu yang tidak dipahaminya. Memperhatikan wajah Rinjani yang jika diperhatikan dengan seksama terlihat begitu cantik dengan senyuman manisnya. Sedetik kemudian, tatapan mereka saling bertemu, membuat keduanya buru-buru menoleh ke arah lain guna menyembunyikan kecanggungan mereka.


Gavin sendiri cukup salah tingkah lantaran sudah ketahuan jika diam-diam sedang memperhatikan Rinjani. Begitu pun dengan wajah Rinjani yang terlihat memerah layaknya buah tomat yang sudah matang.

__ADS_1


"E'kheemmm! sepertinya sebentar lagi akan ada pesta pernikahan sungguhan."


__ADS_2