Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Jangan hina istriku


__ADS_3

"Apa maksud kamu, Hendra!!!" gertak Gavin pantas tidak percaya dengan ucapan Hendra yang terdengar begitu nyeleneh.


Bagaimana bisa Hendra berani berbicara seperti itu, seolah-olah dirinya adalah bagian dari keluarga Anderson.


Begitu pun dengan Rinjani yang ikut termangu di tempatnya. Rinjani sama kagetnya dengan Gavin yang memang tidak pernah mengira akan mendengarkan pengakuan Hendra.


"Kenapa kaget seperti itu, Gavin? Oh, aku tau! kamu pasti merasa bingung, kan?" Hendra kembali melemparkan tanya dengan wajahnya yang terlihat begitu angkuh, "Come on, Gavin! seorang pemimpin sepertimu tidak mungkin bodoh, bukan? apa aku perlu memberitahumu apa arti dari nama Anderson yang tersemat di belakang namaku?"


Hendra berjalan memasuki ruangan, meninggalkan raga Gavin yang secara refleks ikut mengikuti setiap pergerakannya.


Sekilas Hendra sengaja mencuri pandang ke arah gadis yang hanya bisa menundukkan kepalanya saja. Setelah itu, tanpa berniat menyapa ataupun mengajak bicara, Hendra memilih melengos ke arah meja kerja Gavin.

__ADS_1


Diputarnya kursi kebesaran milik Gavin sebelum tanpa permisi lebih dulu, Hendra langsung mendaratkan bokongnya di atas singgasana pucuk pimpinan Anderson's group.


"Ck! Ck! Ck! sayang sekali kalau kursi senyaman ini harus ditempati oleh orang bodoh seperti dirimu, Gavin!" cibir Hendra masih dengan wajah sombongnya.


Gavin yang merasa emosi mendengar cemoohan Hendra pun bergegas mendekati Hendra. Langkahnya terayun begitu cepat dengan wajah yang terlihat bersungut-sungut. Tanpa babibu, Gavin langsung menarik kerah baju Hendra hingga membuat Hendra seketika terangkat dari kursi miliknya.


"Brengs*k! Apa maksud kamu berbicara seperti itu, hakh???" gertaknya dengan kedua tangan yang masih belum melepaskan cengkeramannya.


"Santai, Broo ... jangan kotori kemejaku menggunakan tangan kotormu itu!" sela Hendra semakin membuat emosi Gavin memuncak.


Tanpa mereka sadari, di salah satu sudut ruangan ada seorang gadis yang terlihat cukup ketakutan melihat pertikaian keduanya. Rinjani jelas khawatir melihat kedua pria yang sama-sama memiliki hubungan dengannya itu bisa saja terlibat baku hantam.

__ADS_1


Rinjani ingin mencoba melerai keduanya agar tidak sampai melakukan hal-hal bodoh yang mungkin saja akan menimbulkan penyesalan nantinya. Mulutnya berulang kali terlihat terbuka sebelum kembali tertutup rapat, Rinjani tidak tau harus memanggil siapa di antara kedua nama yang sama-sama berat untuk diucapkannya.


Baru saja mulutnya hampir meyebutkan nama suaminya, saat itu juga Rinjani justru dibuat kaget dengan suara teriakan seseorang.


"Hakh! apakah laki-laki kasar seperti ini yang kamu inginkan untuk menjadi suami kamu, Jani??? apa kekayaan pria brengs*k ini sudah membuatku silau hingga kehilangan akal sehatmu!!!" cibir Hendra yang terdengar begitu menyakitkan di hati Rinjani.


Rinjani tidak bisa menjawab apa-apa. Mulutnya kelu. Kalimat yang baru saja ditanyakan oleh Hendra itu begitu melukai harga dirinya. Rinjani sama sekali tidak menyangka jika kalimat pedas seperti itu akan keluar dari mulut seseorang yang sampai saat ini pun masih begitu memenuhi hatinya.


Rinjani masih bergeming di tempatnya. Menundukkan kepalanya demi bisa menyembunyikan embun bening yang sudah mulai memenuhi netra beningnya.


"Kenapa diam saja, Jani??? apa semua kemewahan ini sudah membuatmu gelap mata hingga rela menikah tanpa perasaan cinta di hatimu, hakh! jawab aku, Jani!" bentak Hendra yang sudah dikuasai emosi. Hendra masih menatap nyalang ke arah Rinjani yang hanya bisa terisak sebelum di detik berikutnya, Hendra bisa merasakan sesuatu yang keras mengenai wajahnya. Bersamaan dengan suara pukulan kepalan tangan Gavin yang terdengar cukup keras.

__ADS_1


Bughhh!!!


"Brengs*k! jangan menghina istriku!!! jangan sekali-kali kamu meninggikan suaramu di depan istriku!!!


__ADS_2