Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Melayani tamu VIP


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Rinjani baru saja masuk jam istirahat. Kalau tidak keberatan biar saya saja yang menuangkannya untuk Tuan."


"Apa kamu tidak mendengar permintaanku, hakh! Sudah aku bilang, aku hanya ingin pelayan baru itu yang melayaniku." sentak salah satu pengunjung dengan tatapan yang begitu menusuk, "Cepat panggilkan gadis itu, bod*h!" atau kamu mau saya panggilkan pemilik club ini? sudah tau bukan, apa yang akan kamu dapatkan jika pengunjung VIP sepertiku sampai memanggil pemilik tempat ini." lanjutnya penuh ancaman.


Merasa posisinya berada dalam bahaya, pelayan club tersebut hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berani membantah lagi.


"Baiklah, Tuan. Tunggu sebentar, biar saya panggilkan dulu." ucapnya tidak ingin memperpanjang urusannya dengan pelanggan penting dalam tempatnya bekerja.


Setelah mengucapkan hal itu, pelayan yang diketahui bernama Roni itu bergegas menemui Rinjani. Sebenarnya Roni merasa sedikit sungkan lantaran Rinjani baru saja beristirahat setelah sibuk bekerja dari siang tadi. Namun, dirinya lebih menghawatirkan posisinya yang bisa saja mendapatkan amukan dari bosnya.


"Maaf Rin, itu ... di depan ada tamu VIP tapi cuma mau dilayani sama kamu, Rin."


"Tapi Ron, posisi aku di sini kan cuma sekedar cleaning service, Ron."


"Iya aku tau Rin, tapi maaf banget nih, aku nggak mau kena omel sama bos lagi. Tolongin gue ya, please..." Roni berkata dengan kedua tangan yang sengaja ditangkupkan di depan dada. Dari wajahnya saja sudah sangat kentara jika saat ini, posisi Roni sedang dalam bahaya karena sudah bermain-main dengan orang yang salah.


Melihat hal itu, Rinjani jadi sedikit iba. Akan tetapi, dirinya juga tidak berani melakukan tugas yang di dalam pikirannya saja sudah masuk ke dalam folder warning!.


"Aku takut, Ron..."


"Please, Rin. Kamu mau, ya. Masalahnya orang itu salah satu tamu penting di sini, Rin. Kalau dia sampai lapor ke bos, bukan cuma aku aja yang bakalan kena masalah tapi kamu juga otomatis ikut kena, Rin. Please, mau ya..."


Menyadari ucapan rekannya itu memang benar adanya membuat Rinjani seperti tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Belum lagi, seharian ini Roni sudah bersikap sangat baik terhadapnya, tentu saja hal itu semakin membuat Rinjani enggan untuk menurut. Toh juga itu bukanlah kemauan Roni sendiri, melainkan permintaan khusus dari pelanggan yang katanya sudah mendapatkan tempat istimewa di tempat ini.

__ADS_1


"Ya udah Ron, kalau itu emang permintaan tamu. Kita bisa apa!"


"Makasih banyak, Rin." ungkap Roni begitu lega, "Kamu hati-hati, ya." tambahnya sebelum tubuh Rinjani sudah menghilang di balik lorong.


Rinjani sendiri berjalan begitu hati-hati menuju ke arah meja bar berada. Dalam hatinya, Rinjani tidak berhenti melafalkan kalimat doa agar terhindar dari segala kelakuan tak beradab para tamu.


Dari kejauhan, Rinjani sudah bisa menangkap sosok seseorang yang sedang duduk seorang diri di salah satu kursi pada bar khusus tamu tamu istimewa. Pandangannya mengedar ke segala arah dimana tidak ada orang lain lagi selain seorang pria yang sedang menghirup rokok elektriknya.


"Permisi, Tuan mencari saya?" tanyanya setelah memastikan dirinya tidak salah mendatangi orang.


"Tuangkan minuman itu untukku, Nona cantik!" ucap pria tua yang memiliki lemak berlebih pada bagian perutnya. Tangannya dengan sengaja mencolek dagu Rinjani yang jelas merasa risih dengan kelakuan genit tamunya.


"Baiklah! Seperti permintaanmu, Tuan. Saya akan menuangkan minum ini untuk Anda. Tapi saya mohon, jaga tangan Anda agar tidak sembarangan menyentuhku. Biarkan saya melakukan tugas dengan baik." ucap Rinjani begitu tegas.


"Jangan garang begitu, Nona. Bersikaplah yang baik kepadaku. Jangan khawatir, nanti saya kasih tips lebih buat Nona."


"Tidak perlu, Tuan. Saya tidak menginginkan uangmu, Tuan. Permisi." Merasa sudah melakukan tugasnya dengan baik, kini Rinjani berniat pergi meninggalkan pria genit yang sayangnya kembali menahan pergerakannya.


"Tunggu sebentar, Nona. Duduklah di sini! temani saya menghabiskan minuman ini. Kemarilah!"


"Maaf Tuan, saya masih ada pekerjaan lain." tolak Rinjani sebelum berjalan cepat meninggalkan ruangan yang membuatnya bergidik ngeri. Bersyukur dirinya bisa segera terbebas dari tingkah menyebalkan pelanggan.


"Haish! udah tua bukannya tobat malah demen nyari dosa. Nggak inget apa, istrinya di rumah udah nungguin. Pulang kerja bukannya pulang ke rumah malah keluyuran. Mana genit banget lagi! hikh!" cerocos Rinjani merasa geli dengan kelakuan tamunya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Rinjani sudah kembali bergabung dengan Roni dan teman-temannya. Roni yang melihat kedatangannya langsung bangkit berdiri menyambut teman barunya.


"Gimana, Rin. Aman kan? Tamunya nggak macem-macem sama kamu, kan?" selidik Roni melemparkan beberapa pertanyaan. Jujur saja, Roni tidak bisa lepas khawatir mengingat Rinjani masih sangat baru bekerja di dunia hiburan seperti ini. Sangat dipahaminya jika Rinjani belum terbiasa dengan sikap aneh para tamu.


"Aman, Ron. Udah, kamu jangan khawatir begitu. Aku nggak apa-apa, kok." jawab Rinjani dengan senyum teduhnya. Pandangannya bergantian mengedar ke arah kanan dimana ada beberapa bartender yang sedang menikmati waktu istirahatnya.


"Boleh gabung nggak, Kak?" tanyanya sedikit sungkan, mendapat anggukan kepala dari para rekan kerjanya.


"Silahkan..."


"Ya elah, tinggal gabung aja, Rin. Sini! biar makin akrab kita."


"Iya, di sini tuh kita nggak ada istilah anak lama sama anak baru. Semua yang kerja di sini otomatis jadi temen kita."


Sontak, senyuman lega langsung terukir cantik memenuhi wajah letih Rinjani. Rinjani jelas merasa senang mendapatkan teman-teman yang begitu baik terhadapnya. Tak ayal, Rinjani sempat merasa takut mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari para seniornya. Tapi syukurlah, semua ketakutannya sama sekali tidak terjadi. Bahkan, dirinya seperti mendapatkan keluarga baru di sini.


Setelah sekian menit berbasa-basi dengan para rekannya, Rinjani baru saja teringat dengan ponsel genggam miliknya. Dinyalakannya tombol daya pada body bagian samping kanannya, Rinjani langsung dibuat kaget dengan banyaknya notifikasi pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari kekasihnya yang langsung memenuhi layar.


"Ya ampun! banyak banget." ucapnya sebelum bergegas membuka isi pesan singkat dari nomor kekasihnya. Dibacanya semua pesan masuk yang dikirimkan Hendra sebelum dirinya mendadak tertegun sendiri begitu membaca satu pesan yang berhasil membuatnya terkejut.


[Lima belas menit lagi pesawat aku bakalan lepas landas, Sayang. Maaf kalau dalam waktu selama itu kamu nggak dateng nemuin aku, mungkin kita bakalan nggak bisa ketemu dalam waktu yang cukup lama.]


[Maaf, untuk saat ini aku belum bisa cerita sama kamu. Aku janji setelah urusan aku beres, aku bakalan pulang nemuin kamu.]

__ADS_1


[I'll miss you so much, Baby.]


__ADS_2