
"Ma-maksud kamu???" cicit Rinjani terkejut mendengar jawaban yang dilontarkan Gavin. Kedua alisnya terangkat ke atas hingga nyaris menyatu, "Ca-calon ibu mertua?"
"Apa ucapanku kurang jelas? Iya, calon ibu mertua kamu." Sekilas Gavin melirik ke arah Rinjani sebelum kembali fokus ke depan. Senyuman kecil terlihat samar-samar menghias wajah tampannya. Sepertinya Gavin sangat senang melihat wajah Rinjani saat sedang terkejut seperti itu, "Tutup mulutnya! takut ada nyamuk lewat."
Sontak ucapannya itu langsung disambut Rinjani yang buru-buru menutup mulutnya. Rinjani jadi salah tingkah sendiri lantaran sudah kepergok sedang melakukan sesuatu yang bisa mengurangi nilai keanggunannya.
"Siapa yang kamu maksud sebagai calon ibu mertuaku? kamu hanya asal bicara saja, kan?" selidik Rinjani sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Gavin.
Siapa yang sebenarnya dimaksudnya sebagai calon ibu mertuanya. Tidak mungkin orang yang sedang dibicarakan Gavin itu orang tua Gavin sendiri kan. Jika bicara tentang calon mertua, maka hanya ada satu nama yang terlintas dipikiran Rinjani. Hanya ada satu nama yang tak lain adalah Tante Soraya, ibu dari Hendra, kekasihnya.
"Tentu saja ibu kandungku, bod*h!"
Lagi dan lagi Rinjani kembali dibuat spot jantung mendengar jawaban ngaco pria yang kini sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Bagaimana bisa seperti itu? di antara kita tidak ada hubungan apapun, bukan? bahkan kita baru saja bertemu tadi malam. Lalu, bagaimana bisa kamu sampai berfikiran seperti itu!"
"Bukankan semalam sudah aku bilang kalau kamu ini calon istriku? aku rasa kamu belum setua itu untuk tidak bisa mengingat ucapanku semalam."
Rinjani mendesah berat, dirinya sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Gavin. Bagaimana bisa Gavin seenaknya sendiri menganggap dirinya sebagai calon istrinya. Sungguh sangat sangat tidak masuk di akal sehat Rinjani.
Kalaupun ada seseorang yang menyebutnya sebagai calon istri, sudah pasti orang tua adalah Hendra. Kekasih yang sudah mewarnai hidupnya selama dua tahun ini.
Ngomong-ngomong soal Hendra, Rinjani berubah muram mengingat dirinya sudah dua hari ini sama sekali tidak bertemu dengannya. Rinjani tidak tau kemana Hendra pergi. Dari kemarin ponsel Hendra tidak bisa dihubungi, bahkan pesan singkatnya saja masih belum dibacanya.
Rinjani bahkan sudah berulang kali menghubungi nomor Tante Soraya, namun sama halnya dengan Hendra, nomor Tante Soraya juga sama tidak bisa dihubungi. Membuatnya hanya bisa menerka-nerka, apa gerangan yang membuat Hendra dan ibunya menghilang seperti ini.
Rinjani masih tenggelam dalam pikirannya bersamaan dengan laju mobil yang perlahan berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah.
"Ehh, dimana ini?" tanyanya begitu tersadar dari lamunannya dirinya sudah berada di depan bangunan gedung yang menjulang tinggi.
"Seperti yang sudah aku katakan. Kita akan menemui ibuku, dan yang kamu lihat ini adalah tempat tinggal ibuku."
"Ja-jadi kamu seriusan mau membawaku menemui ibumu?" Rinjani tidak percaya ini. Gavin beneran serius dengan ucapannya, dirinya benar-benar membawanya untuk bertemu dengan ibunya.
"Tolong dengarkan aku baik-baik, Rinjani. Sebenarnya aku tidak berniat membawamu masuk ke dalam masalahku. Tapi aku sangat butuh bantuanmu, anggap saja ini caramu untuk mengganti uang yang semalam." ucap Gavin menceritakan maksud terselubung yang sudah direncanakannya.
"Ma-masalah apa? jadi, kamu berniat menjadikan aku sebagai bonekamu? begitu, Tuan Gavin?" selidik Rinjani semakin heran, dirinya sama sekali tidak menyangka harus menebus hutangnya dengan cara seperti ini.
"Jangan panggil aku Tuan! panggil aku Gavin, just Gavin. Atau kamu bisa memanggilku dengan panggilan sayang atau semacamnya untuk bisa meyakinkan ibuku."
__ADS_1
Rinjani tidak menjawab, dirinya masih tidak habis pikir dengan situasi yang sedang dialaminya. Bukannya terlepas dari masalah, dirinya justru kembali mendapatkan masalah yang lebih tidak masuk akal lagi.
Melihat Rinjani yang hanya diam saja, Gavin kembali menjelaskan tugas baru yang harus dilakukan Rinjani selama berada di depan ibunya.
"Tugas kamu sekarang, kamu hanya perlu berpura-pura seolah kamu ini adalah kekasihku. Bersikaplah layaknya kita ini pasangan kekasih sungguhan. Aku janji, setelah itu kamu bisa pergi tanpa perlu mengganti uang yang semalam." Gavin berkata dengan sungguh-sunggu seolah dirinya memang sedang dalam masalah.
Mendengar penuturan Gavin yang berniat akan melepaskan dirinya setelah melakukan tugas sebagai pacar bohongan, pada akhirnya Rinjani bisa sedikit bernafas lega meskipun masih ada yang terasa mengganjal di hatinya.
"Baiklah, tapi kamu serius kan, mau membiarkan aku pergi setelah berpura-pura menjadi kekasihmu?" tanyanya kembali meminta kepastian disambut anggukan kepala Gavin.
"Asal kamu bisa meyakinkan ibuku, itu sudah cukup untuk melunasi hutangmu. Dan yang paling penting, urusan kita selesai. Kamu bisa pergi kemana saja semaumu."
...****************...
Di belahan bumi yang lainnya, tepatnya di sebuah rumah sakit ternama di Singapura, seorang lelaki terlihat sedang duduk seorang diri pada deretan kursi tunggu rumah sakit.
Kepalanya disandarkan ke dinding yang ada di belakangnya dengan kedua mata yang terlihat memejam.
Wajahnya terlihat begitu sayu dengan area bawah mata yang menghitam seperti kurang tidur. Entah apa yang sedang dilakukannya di sini seorang diri tanpa ada satu pun orang yang menemaninya.
Tiba-tiba saja pemuda itu terjingkat kaget begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Dan benar saja, begitu dirinya membuka mata di hadapannya sudah ada seorang pria paruh baya yang mengenakan jas berwarna putih dengan alat stetoskop yang menggantung di lehernya.
"Syukurlah, operasi pengangkatan sel kanker pada otak nenek anda berjalan dengan baik." jawab dokter spesialis bedah yang langsung disambut desah nafas lega Hendra.
"Syukurlah..."
"Untuk sementara, nenek anda belum bisa dikunjungi karena masih ada beberapa penanganan pasca operasi yang perlu dilakukan."
"Baik, Dokter. Lakukan saja apa yang menurut dokter baik untuk nenek saya."
Setelah berbincang dengan dokter yang menangani neneknya, Hendra kembali mendaratkan bokongnya ke atas bangku rumah sakit. Pikirannya sudah terasa lebih baik seolah beban berat yang menimpanya perlahan mulai menghilang, berganti dengan rasa tenang yang memenuhi hatinya.
Sebenarnya Hendra ingin membagikan kabar bahagia ini kepada ibunya, namun untuk sementara ini, dirinya harus menahan keinginannya lantaran dirinya tidak memiliki ponsel yang bisa digunakan lantaran ponsel miliknya tidak sengaja hilang saat di perjalanan dari bandara ke rumah sakit.
Sebenarnya, bisa saja Hendra membeli ponsel baru lagi, tapi mengingat tidak ada satu pun orang yang menjaga neneknya di rumah sakit membuatnya mengurungkan niatnya untuk membeli ponsel baru. Alhasil, selama dua hari ini dirinya sama sekali belum mengabari ibunya maupun kekasihnya.
"Kamu lagi apa, Sayang? aku kangen sama kamu..." lirihnya begitu teringat dengan kekasihnya.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Setelah nenek aku sembuh dari sakitnya dan aku sudah berhasil melakukan misi ini dengan baik, aku bakalan pulang nemuin kamu, Sayang.
__ADS_1
...****************...
"Selamat malam, Mi." sapa Gavin begitu memasuki kamar hotel yang dihuni ibunya.
"Malam, Sayang. Kapan kamu datang, Nak?" jawab ibu Gavin yang tidak mengira akan kedatangan putra semata wayangnya. Pandangannya langsung tertuju ke arah gadis cantik yang berdiri di samping putranya.
Pandangannya menyapu penampilan Rinjani dari ujung kepala hingga ke ujung kaki yang untungnya terlihat begitu memukau.
"Siapa gadis yang kamu bawa ini, Sayang?" tanyanya merasa penasaran siapa gerangan gadis cantik yang dibawa putranya. Bukan tanpa sebab dirinya bertanya, pasalnya selama 25 tahun hidup, Gavin sama sekali tidak pernah sekalipun membawa seorang gadis ke hadapannya.
"Kenalin, Mi. Ini kekasih Gavin, namanya Rinjani." aku Gavin sebelum menoleh ke arah Rinjani, "Ayo Sayang, kenalan sama Mami." sambungnya dengan senyuman manisnya.
Rinjani yang mendengarnya pun langsung menyunggingkan senyum terbaiknya seraya berjalan mendekati wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
"Rinjani, Tante..." ucapnya lembut sebelum meraih tangan kanan ibu Gavin yang langsung dihadiahi ciuman hormat pada punggung tangannya.
"Cantik sekali..." pujinya tulus dari dalam hatinya. Selama ini Gavin tidak pernah bercerita jika sudah mempunyai kekasih yang sangat cantik seperti ini. Pandangannya tidak berhenti menatap kagum ke arah gadis yang mengingatkan dirinya dengan masa mudanya dulu. "Pintar sekali anak Mami mencari kekasih yang cantik seperti ini..." sambungnya sembari menyentuh pundak Rinjani.
"Terima kasih, Tante. Tante juga tidak kalah cantik..."
"Jangan panggil Tante, dong. Panggil saja Mami, biar sama kaya Gavin."
"Baik, Ma-Mami..."
Setelah saling mengenalkan diri, kini ketiganya sudah duduk bersama di sofa empuk yang berada di tengah kamar.
Ketiganya terlihat asik berbincang santai dengan suara tawa yang sesekali terdengar mengalun memenuhi ruangan.
Meskipun baru pertama kali bertemu, nyatanya Rinjani dan ibu Gavin sudah saling akrab layaknya seorang teman. Rinjani tidak menyangka akan merasa nyaman seperti ini. Padahal di dalam bayangannya, Rinjani sempat berfikir bahwa ibu Gavin adalah seseorang yang sombong dan arogan, tapi ternyata dugaannya salah. Ibu Gavin sangat menerimanya dengan baik layaknya seorang ibu kepada anaknya sendiri.
Tiba-tiba saja wajah Rinjani berubah sedih begitu teringat dengan ibunya yang sudang meninggal. Dalam ingatannya kembali muncul bayangan dimana dirinya sedang bersendau gurau dengan ibunya.
"Ada apa, Sayang? kenapa kamu jadi sedih seperti ini?" tanya ibu Gavin yang menangkap perubahan raut wajah Rinjani.
Rinjani menoleh ke arah ibu Gavin, wajahnya berusaha tersenyum agar tidak terlihat lemah di depan kedua orang yang sama-sama sedang menatap ke arah dirinya.
"Rinjani keinget sama ibu Rinjani yang sudah meninggal, Mi..." lirihnya sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Jangan bersedih, Sayang. Sekarang sudah ada Mami, kan? anggap saja Mami seperti ibu kamu sendiri, Sayang" ucap ibu Gavin mencoba menghibur. Tatapannya kini mengarah ke arah putranya "Gavin, kapan kamu mau menikahi Rinjani?"
__ADS_1
"A-apaa!! menikah!!!"