
Rinjani langsung terperanjat begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka. Dan benar saja, begitu Rinjani menoleh ke arah sumber suara, dirinya langsung disuguhi pemandangan indah dimana Gavin keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk kecil yang menutupi bagian bawahnya.
Pandangannya tidak sengaja menyapu dada kekar Gavin yang terekspose begitu nyata di hadapannya. Sisa-sisa air mandi masih terlihat membasahi dada bidangnya yang terlihat begitu sexy dengan guratan otot perut yang membentuk seperti roti sobek.
Gavin sendiri masih mencoba mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil yang digosokkan langsung di atas kepalanya. Hal yang sebenarnya sangat lumrah dilakukan oleh siapa saja setelah selesai mandi, namun entah mengapa setiap pergerakan yang Gavin lakukan terlihat begitu keren. Membuatnya merasa sedikit kagum dengan pesona seorang Gavin Anderson, seseorang yang sudah sah menjadi suaminya.
"Tampan sekali..." lirih Rinjani sebelum memukul kepalanya sendiri begitu menyadari apa yang baru saja keluar dari mulut lemesnya, "Mikir apa sih kamu, Janiii!!!" Rinjani tidak berhenti merutuki dirinya sendiri yang secara tidak sadar sudah memuji ketampanan suaminya. Bahkan, Rinjani sampai tidak sadar jika wajahnya itu masih sedikit basah oleh air mata lantaran dirinya baru saja menangisi nasibnya.
Saat sedang sibuk merutuki mulutnya yang asal berbicara saja, Rinjani kembali dibuat melongo mendengar celetukan Gavin yang membuatnya jadi malu sendiri.
"Sampai kapan kamu mau memukuli kepala mu, Jani? asal kamu tau, aku tidak mau memiliki seorang istri yang bodoh karena suka menyakiti kepala sendiri!" sembur Gavin sebelum bergegas mengambil baju ganti dari dalam lemari. Sedetik kemudian, Gavin sudah berhasil membawa satu set piyama lengan panjang yang langsung disimpannya di atas ranjang miliknya.
Dengan pergerakan yang secepat kilat, tiba-tiba saja Gavin langsung melepaskan kaitan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya sebelum terdengar suara teriakan Rinjani yang begitu memekik di telinganya.
"Apa yang kamu lakukan, Gavinnn!!!" teriak Rinjani yang cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri. Rinjani sangat terkejut melihat aksi yang baru saja dilakukan oleh suaminya. Rinjani sama sekali tidak mengira jika Gavin akan mengganti pakaiannya di depan mata kepalanya, "Kenapa tidak ganti baju di dalam kamar mandi saja, Gavin!!!" lanjutnya masih dengan wajah yang tertutup rapat.
Sedangkan orang yang baru saja membuat Rinjani mengalami spot jantung itu sedang kelimpungan sendiri lantaran dirinya juga tidak sadar dengan aksinya sendiri. Bukan apa-apa, Gavin yang selama ini memang selalu menempati kamarnya seorang diri itu memang sudah terbiasa berganti pakaian di dalam kamar. Gavin tidak suka memakai bajunya di dalam kamar mandi yang otomatis membuatnya harus bolak-balik keluar masuk kamar mandi.
__ADS_1
"****!" umpat Gavin begitu teringat mengenai keberadaan Rinjani yang ada di dalam kamarnya. Dirinya bahkan sama sekali tidak ingat jika beberapa detik yang lalu, dirinya baru saja menyindir istri barunya yang memiliki kebiasaan buruk lantaran suka memukul kepalanya sendiri.
Gavin bergegas membenarkan kembali lilitan handuk miliknya yang sebelumnya sudah terlepas sempurna dari tubuhnya. Menyadari hal itu, Gavin berulang kali memejamkan matanya sembari merutuki hal bodoh yang baru saja dilakukannya.
"Sialan! si Anaconda pasti sudah kelihatan sama Rinjani. Bikin malu saja!" celetuknya sembari menyentuh bat*ng berurat miliknya sebelum memilih berjalan dengan cepat ke dalam kamar mandi.
Braakkk!!!
Terdengar suara pintu yang tertutup dengan sangat keras lantaran harus rela menjadi objek pelampiasan rasa malu seseorang yang langsung memukul meja wastafel dengan tangannya sendiri.
"Ck! memalukan!" umpat Gavin. Rasa-rasanya Gavin sudah tidak memiliki wajah lagi di depan Rinjani. Bisa-bisanya dirinya begitu ceroboh memperlihatkan adik kecilnya yang begitu dijaganya. Bahkan, selama ini Gavin selalu menjaga kesucian ular peliharaannya itu dari pandangan ataupun sentuhan orang lain. Namun, entah apa yang sudah membuatnya begitu ceroboh mempertontonkan aset miliknya yang begitu berharga.
"E'kheemmm! keep calm, Gavin. Anggap saja Rinjani tidak melihat adik kecilmu ini..." ucapnya sembari menoleh ke arah bawahnya. Setelah memastikan ular peliharaannya itu sudah tertutup dengan sangat sempurna, Gavin kembali membuang nafas beratnya sebelum menarik handle pintu yang ada di depannya.
J'glekkk!
Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi, Gavin lebih dulu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mencari tahu dimana keberadaan gadis yang sudah tidak sopan merenggut ke-virginan adik kecil miliknya.
__ADS_1
"Lho, kemana gadis itu?" celetuknya saat tidak mendapati keberadaan gadis yang sudah sah menjadi istinya itu di dalam ruang kamarnya. Mengetahui hal itu, Gavin langsung menghembuskan nafas leganya, "Huuhh! syukurlah..."
Sedangkan Rinjani sendiri kini sedang berada di dalam kamar ibu mertuanya. Duduk di atas ranjang sembari memeluk erat tubuh berisi ibu mertua barunya.
"Mami, Rinjani takut, Mi..." rengek Rinjani masih di dalam pelukan Mami Carla yang merasa bingung sendiri dengan tingkah aneh menantunya.
Mami Carla yang sebelumnya sedang mengaplikasikan serangkaian daily routine skincare-nya itu mendadak dibuat kaget dengan kedatangan Rinjani yang berlari kencang ke arahnya. Saking paniknya, Rinjani bahkan langsung membuka pintu kamar Mami Carla tanpa mengetuknya terlebih dulu. Sesuatu yang jelas mendatangkan sebuah tanda tanya besar dalam kepala wanita paruh baya itu.
"Kamu kenapa, Sayang? kenapa kamu ketakutan seperti ini? apa Gavin sudah melakukan sesuatu yang buruk sama kamu, Sayang?" selidik Mami Carla yang langsung berpikiran buruk tentang putranya.
"Rinjani takut, Mi ... Gavin, Gavin itu... Ga-Gavin," adu Rinjani yang terdengar begitu mengambang, melihat Rinjani yang kesulitan untuk berbicara, membuat Mami Carla semakin berfikiran yang tidak-tidak mengenai putranya.
"Gavin kenapa, Sayang? ada apa sama Gavin? cerita saja sama Mami! apa Gavin melakukan hal buruk terhadapmu, Nak? apa Gavin sudah berlaku kasar sama kamu?" tanya Mami Carla yang langsung mendapatkan gelengan kepala gadis yang masih mendekap erat tubuhnya. Mengetahui hal itu, Mami Carla dibuat semakin bingung dengan apa yang sudah dilakukan putranya hingga membuat Rinjani ketakutan seperti ini.
Dalam hatinya, Mami Carla tidak berhenti mengomel dengan kelakuan putra semata wayangnya, 'Awas kamu, Gavin! siap-siap saja namamu dicoret dari surat ahli waris kalau sampai berani menyakiti menantu kesayangan Mami!' ancamnya dalam hati meskipun dirinya sangat sadar jika putranya itu tidak mungkin mendengar ancamannya.
Rinjani masih tenggelam di dalam pelukan ibu mertuanya. Sesekali Rinjani terlihat bergidik ngeri setiap kali mengingat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
__ADS_1
"Hiiih!!! besar dan panjang sekali..." ucapnya tanpa sadar.
"Apanya yang besar dan panjang, Sayang? tanya Mami Carla yang jelas bingung mendengar celetukan menantunya.