
Di salah satu Kafe estetik yang ada di pusat ibukota, kini Hendra sedang duduk pada salah satu meja yang berada di roof top kafe. Di hadapannya sudah ada wanita yang terlihat begitu cantik dengan balutan dress midi berwarna hijau army dengan motif bunga krisan putih.
Sejenak Hendra merasa sedikit terpukau melihat penampilan gadis yang duduk tepat di hadapannya. Bukan karena ini kali pertama mereka bertemu, hanya saja seperti ada yang berbeda dengan gaya make up gadis yang sudah dua tahun ini menjalin hubungan asmara dengannya.
"Kenapa kamu ngelihatin aku sampai segitunya, Ndra?"
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku cuma terpukau saja melihat riasan wajah kamu yang cukup berbeda, Sayang." balas Hendra menjawab pertanyaan Rinjani.
"Kenapa? nggak bagus, ya? apa mau aku hapus dulu riasannya, Ndra?" tukas Rinjani yang dari awal memang sudah tidak percaya diri dengan riasan wajahnya yang merupakan hasil dari polesan tangan ibu mertuanya.
"Bukan begitu, Sayang. Bagus kok, justru kamu terlihat begitu cantik."
Beberapa waktu yang lalu...
[Sayang, aku mau kita bertemu di kafe biasa.]
[Besok, jam 9 pagi!] tulis Hendra pada pesan singkatnya. Hendra kemudian kembali meletakkan ponselnya ke atas meja. Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba, ponsel yang baru saja diletakan di atas meja itu sudah langsung berbunyi dengan notifikasi pesan masuk.
Wajah Hendra langsung sumringah begitu mengetahui pesan yang baru saja menyapa ponselnya itu berasal dari sang kekasih.
Ting!
[Oke, Ndra. Aku usahakan datang tepat waktu.]
[Kebetulan, ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu, Ndra.] balas Rinjani.
__ADS_1
Setelah membaca seluruh pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya, kini jari tangan Hendra sudah kembali menari-nari di atas layar ponselnya.
[Oke, Sayang. Ada hal penting juga yang mau aku omongin sama kamu, Sayang.]
[Jadi nggak sabar buat nungguin besok.]
Kembali ke Kafe.
"Jadi apa yang mau kamu omongin sama aku, Ndra?" tanya Rinjani menyinggung niat Hendra yang katanya memiliki sebuah kejutan untuknya.
Sontak pertanyaannya itu langsung menghadirkan senyuman bahagia pada wajah Hendra.
"Pertama, aku mau cerita sama kamu, Sayang. Jadi, misi aku untuk mempertemukan Mamah dengan Oma sudah berjalan dengan sesuai harapan aku, Sayang. Maafin aku, ya. Kemarin aku pergi tanpa pamit dulu sama kamu. Aku terpaksa ninggalin kamu karena kemarin itu momen yang paling tepat untuk aku menemui Oma, Sayang..."
"Ja-jadi, yang kamu bilang misi rahasia itu--,"
"Nah, untuk kabar yang paling penting," Hendra sengaja menjeda kalimatnya. Sedetik kemudian, Hendra langsung berdiri dari duduknya. Satu tangannya berusaha meraih sesuatu dari dalam saku celananya.
Setelah mendapatkan sesuatu yang memang sudah disediakan khusus untuk kekasihnya, Hendra kemudian sedikit menggeser kursinya sebelum sengaja berjongkok di hadapan Rinjani. Di tangannya sudah ada kotak kecil berwarna merah yang dari bentuknya saja sudah berhasil membuat Rinjani terkejut.
Rinjani langsung membelalakkan kedua matanya dengan satu tangan yang refleks menutup mulutnya sendiri begitu melihat Hendra yang perlahan membuka kotak kecil yang ternyata berisi sebuah cincin. Sebuah cincin yang terlihat begitu indah dengan satu berlian yang menempel di atasnya.
"Aku tau, semua ini cukup mendadak, Sayang. Tapi aku tidak bisa lagi jika harus menahan keinginanku. Dua tahun ini rasanya sudah cukup untuk kita saling mengenal satu sama lain. Dan waktu yang selama dua tahun ini sudah cukup untuk aku merasa yakin jika kamulah seseorang yang aku harapkan untuk menjadi pendamping hidup aku."
Hendra kembali menjeda kalimatnya. Di hadapannya, Rinjani sudah mulai berkaca-kaca. Rinjani diam-diam sedang mati-matian menahan buliran embun yang hendak membobol paksa pertahannya.
__ADS_1
"Rinjani, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi istriku, Hendra Arsakha, dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" ucap Hendra terdengar begitu serius. Hendra masih betah berjongkok menghadap ke arah kekasihnya tanpa sedikitpun merubah posisi duduknya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, belum juga ada jawaban dari kekasihnya. Keduanya masih sama-sama hening sebelum terdengar suara isakan tangis dari mulut Rinjani.
Tangis yang sejak tadi sengaja ditahannya itu pada akhirnya tidak bisa terelakkan lagi. Rinjani langsung terisak di dalam tangisnya, tubuhnya bergetar dengan suara tangisan yang semakin lama terdengar semakin pilu. Sontak tangisan Rinjani yang terlihat tidak wajar itu membuat Hendra merasa panik hingga bergegas bangun dan mendekati kekasih hatinya.
"Kamu kenapa nangis sampai seperti ini, Sayang?" tanya Hendra yang jelas merasa heran. Pasalnya tidak mungkin tangis Rinjani akan sepecah ini jika hanya karena merasa terharu atas lamarannya yang memintanya untuk menjadi istrinya.
Suara tangisan Rinjani tidak seperti orang yang sedang menangis bahagia, melainkan terdengar seperti seseorang yang menangis karena mendapatkan kesedihan dalam hidupnya.
Rinjani masih belum menjawab, dirinya masih terguncang dalam tangis pilunya. Berulang kali Hendra mencoba menyeka air matanya dan sebanyak itu pula air matanya kembali menetes membasahi wajah sedihnya.
"Katakan kepadaku, Sayang. Apa yang sudah membuatmu sampai menangis seperti ini. Apa kamu tidak bahagia dengan lamaranku ini, Sayang?" tanya Hendra yang hanya mendapatkan gelengan kepala kekasihnya.
"Kalau bukan karena itu, lalu apa yang membuatmu sedih seperti ini, Sayang? Katakan padaku, jangan bikin aku khawatir seperti ini, Sayang..."
Kedua tangan Hendra terulur ke depan menyentuh wajah Rinjani yang hanya menunduk ke bawah. Di bawanya kepala Rinjani hingga menghadap langsung ke wajahnya, "Katakan padaku, Sayang? apa kamu tidak senang mendapat lamaran dariku? atau mungkin memang saat ini kamu memang belum siap untuk menikah, Sayang?"
Rinjani sendiri semakin tergugu mendengar pertanyaan Hendra yang rasanya begitu menyayat hatinya. Rinjani masih bungkam, tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya kecuali suara isak tangis yang tak kunjung mereda. Hingga sedetik kemudian, Rinjani justru memilih mengangkat tangan kirinya tepat di depan wajah Hendra.
Sejenak Hendra merasa bingung, ditatapnya tangan Rinjani yang terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda luka ataupun memar yang bisa menyakiti kekasihnya. Hendra masih memperhatikan tangan kekasihnya sebelum dirinya dibuat terkejut dengan keberadaan benda kecil yang melingkar pada jari manis Rinjani.
"Ci-cincin..." beo Hendra sedikit terbata. Pandangannya belum beranjak dari cincin berlian yang terlihat indah di jari manis kekasihnya. Namun, bukan karena keindahan cincin yang tersemat di jari kekasihnya, melainkan siapa yang sudah lebih dulu memasangkan cincin pada jari tangan yang siapapun orangnya juga sudah pasti tau jika cincin itu melambangkan adanya sebuah hubungan serius antara Rinjani dan seseorang. Niat hati Hendra ingin memberikan kejutan kepada kekasihnya, namun justru dirinyalah yang dibuat terkejut seperti ini.
"Ke-kenapa kamu memakai cincin di jari manis mu, Sayang? Bu-bukankah ini cincin mahal? darimana kamu bisa mendapatkannya, Sayang?"
__ADS_1
"Dari aku!"