Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Tidak perlu izin siapa pun


__ADS_3

Sebelumnya, Gavin yang semulanya sedang duduk menghadap ke arah layar komputer lipat yang ada di hadapannya itu sempat terheran dengan suara ketukan pada pintu ruangannya.


Seingatnya, hari ini Gavin tidak memiliki janji dengan siapa pun di jam pagi seperti ini. Begitu pun dengan asisten pribadinya yang sudah meminta izin kepadanya agar berangkat ke kantor agak siangan.


Tok! Tok! Tok!


Kembali terdengar suara ketukan pintu untuk yang kedua kalinya. Rinjani yang sedang menikmati sarapan paginya pun bergegas berdiri hendak membuka pintu sebelum terdengar suara suaminya yang memintanya untuk tetap duduk.


"Biar aku saja yang buka. Kamu teruskan saja sarapan kamu..." seru Gavin sebelum memanjangkan kakinya menuju ke pintu ruangan kerjanya.


Tanpa berpikir panjang, Gavin langsung menarik handle pintu sebelum dibuat melongo seketika.


J'glekkk!


Gavin langsung membelalakkan kedua matanya begitu melihat siapa sosok yang tengah berdiri dengan gagahnya di depan ruangannya.


"Kamu! ada perlu apa kamu datang ke sini???" selidiknya dengan wajah herannya.

__ADS_1


Gavin tidak menyangka jika seseorang yang sempat ditemuinya beberapa waktu yang lalu, kini tiba-tiba datang begitu saja ke perusahaan keluarganya.


Gavin sangat yakin, jika dirinya tidak terlibat urusan bisnis apapun dengan seseorang yang pernah mengisi hari-hari istrinya. Lalu, apa yang sebenarnya membuat Hendra memutuskan untuk datang ke kantornya. Bukankah, petugas keamanan kantor tidak akan berani memasukkan orang asing ke dalam perusahaan miliknya.


Disaat Gavin masih sibuk dengan isi pikirannya, Hendra justru sengaja mengulaskan senyuman yang nyatanya justru terlihat seperti senyuman mengejek di mata Gavin.


"Kenapa? apa kedatanganku cukup mengagetkan mu, Gavin?" tanya Hendra terdengar cukup angkuh. Membuat seseorang yang berada di dalam ruangan itu langsung menengok seketika begitu mendengar suara seseorang yang sudah sangat dihafalnya.


Deghhh!


"Ck! Apa memang pelayanan di kantor ini sangat buruk seperti ini? Hekh! bagaimana bisa, seorang pemimpin perusahaan besar seperti ini tidak mau mempersilahkan tamunya untuk masuk!" cibir Hendra yang langsung menohok hati sang pucuk pimpinan Anderson's group.


"Hekh! untuk apa sampai aku harus mempersilahkan orang seperti dirimu masuk ke dalam ruangan ku!" balas Gavin tak kalah sengit, "Bukankah di antara kita tidak ada hubungan bisnis apapun? jadi, lebih baik kamu segera pergi dan angkat kaki dari tempat ini!"


Setelah selesai mengatakan hal itu, Gavin langsung memperlihatkan senyum miringnya dengan berpikir Hendra akan merasa malu setelah mendengar ucapannya. Gavin serasa terbang di atas awan mengingat dirinyalah pemegang segala kekuasaan di tempat ini. Perusahaan keluarga yang sekarang berjalan di bawah kendalinya.


Akan tetapi, sepertinya Gavin sudah salah menduga. Bukannya terlihat malau atau pun merasa ciut, Hendra justru terlihat begitu tenang dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya.

__ADS_1


Wajahnya terlihat begitu santai seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Gavin. Sejenak Hendra sengaja melirik ke arah dalam ruangan sebelum kembali berkata sesuatu yang kembali membuat Gavin terlonjak tidak percaya.


"Kamu memang benar, Gavin. Sebelumnya kita memang tidak memiliki urusan bisnis apapun. Akan tetapi, ada satu hal penting yang sepertinya belum kamu ketahui, Gavin." Hendra sengaja menjeda kalimatnya. Pandangannya tidak berhenti memperhatikan reaksi Gavin yang terlihat begitu lucu di matanya.


Gavin sendiri hanya bisa diam sembari menunggu kelanjutan kalimat Hendra. Dalam hatinya, Gavin tidak berhenti menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang dimaksud oleh Hendra.


Hal penting apa yang belum diketahuinya? dan, apa yang sebenarnya sudah diketahui Hendra hingga membuat Hendra terlihat begitu yakin dan berani untuk berkata seperti itu.


"Apa maksud kamu, Hendra! apa maksud kamu berbicara seperti itu? ada hal penting apa yang kamu ketahui dan tidak aku ketahui, hakh???" cecar Gavin menuntut jawaban atas rasa penasarannya.


"Sabarlah sebentar, Gavin. Tidak perlu marah-marah seperti itu..." ucap Hendra semakin mengundang kekesalan Gavin.


"Cepat katakan, dan segera pergi dari sini!!!" sentak Gavin dengan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubunnya.


"Ketahuilah, Gavin. Aku tidak membutuhkan izin siapapun untuk datang ke kantor ini. Dan satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik, Gavin! tidak ada seseorang pun yang berkah untuk mengusir Hendra Anderson dari perusahan ini!"


Deghhh!

__ADS_1


__ADS_2