Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
41. Mencari kejujuran


__ADS_3

"Apa maksud ucapan mu, Gavin?" tanya Rinjani seraya melepaskan tubuhnya dari dekapan suaminya.


Pandangannya tidak berhenti menuntut jawaban dari pria tampan yang ada di hadapannya.


"Aku sendiri juga tidak tau, Jani. Tapi ... sepertinya tanpa sadar aku sudah mulai mencintaimu, Jani. Aku sendiri belun yakin akan hal itu, tapi coba kau pegang ini, Jani ... jantungku tidak selalu berdebar kencang saat bersamamu, Jani. Apa kamu bisa merasakannya?" ungkap Gavin seraya membawa tangan istrinya agar menyentuh dadanya.


Pandangan mereka masih beradu. Gavin tidak berhenti menatap teduh ke arah istrinya. Begitupun dengan Rinjani, Rinjani sedang berusaha berenang mencari kejujuran di balik beningnya netra Gavin.


"Ada apa, Jani? kenapa menatapku seperti itu?" selidik Gavin.


"Tidak ada, Gavin. Aku hanya sedang berusaha mencari tahu apakah kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan,"


"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu cari?"


"Tentu,"


"Benarkah, Jani?" tanya Gavin begitu antusias. Rona bahagia terpancar begitu nyata memenuhi wajah tampannya. Entahlah, Gavin sendiri tidak tahu apa yang membuatnya merasa sebahagia ini hanya karena mendengar jawaban singkat Rinjani.

__ADS_1


"Tidak ada cinta di matamu, Gavin. Sepertinya kamu memang tidak serius dengan ucapan mu. Aku tau ... kamu hanya sedang berusaha menghiburku saja. Tapi apapun itu, aku tetap berterima kasih sama kamu, Gavin." sambung Rinjani sebelum membuang wajahnya ke samping.


Rinjani tidak tahu jika apa yang baru saja keluar dari mulutnya itu sudah melukai hati seseorang. Ada senyum bahagia yang seketika lenyap dari wajah seseorang.


"Aku tidak sedang berbohong, Jani. Bahkan aku sangat serius dengan apa yang aku ucapkan, Jani. Katakan, apa kamu benar-benar tidak bisa menemukan kejujuran dari mataku. Apa kamu tidak bisa merasakan detak jantungku ini, Jani."


Gavin kembali membawa tangan Rinjani hingga menyentuh dadanya. Bahkan kali ini Gavin sengaja menekan tangan Rinjani berharap istrinya itu bisa merasakan debaran jantungnya.


Rinjani sendiri sebenarnya bisa merasakan adanya debaran kuat yang menyapa tangannya. Hanya saja, Rinjani memilih bersikap seolah tidak tahu dan memilih untuk tidak percaya.


Rinjani tidak mau membuat Gavin layaknya sebuah obat penyembuh yang hanya dibutuhkan pada saat terluka saja. Meskipun begitu, diam-diam Rinjani sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan Gavin seperti apa yang seharusnya dilakukan seorang istri terhadap suaminya.


Rinjani hanya ingin memastikan saja jika perasan Gavin terhadapnya memanglah berasal dari lubuk hatinya, bukan karena perasaan bersalah ataupun belas kasihan saja. Begitupun dengan dirinya, jika memang pernikahan inilah yang sudah ditakdirkan Tuhan untuknya, Rinjani ingin melalui semua prosesnya secara alami dengan melakukan semua tugas seorang istri. Hingga pada saatnya tiba nanti, Rinjani bisa berkata dengan riang dan lantang jika dirinya mencintai Gavin.


"Sudah malam, segeralah mandi. Aku akan siapkan air hangat untukmu," perintah Rinjani mengalihkan pembicaraan.


Rinjani bergerak dengan cepat menyiapkan segala keperluan mandi untuk suaminya. Setelah selesai mengisi bathtub dengan air hangat, Rinjani kembali keluar dari kamar mandi dan segera menemui suaminya.

__ADS_1


"Ck! Kenapa hanya diam di situ saja, Gavin. Anak kecil pun tau bagaimana cara melepas pakaian,"


Setelah berhasil memangkas jarak, tanpa diminta tangan Rinjani langsung bergerak melepaskan kancing kemeja suaminya. Semuanya dilakukannya dengan hati yang damai. Setidaknya dengan cara seperti inilah dirinya tidak terus-terusan menodai ikrar suci pernikahan yang pernah diucapkannya di hadapan Tuhannya.


Akan tetapi, Rinjani tidak tahu jika perbuatannya itu berhasil menghadirkan gelenyar aneh pada hati Gavin. Debaran jantung Gavin yang sebelumnya sudah mulai berjalan normal, kini kembali berdetak tidak karuan.


Entahlah, akan tetapi Gavin bisa merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam jiwanya. Seperti ada dorongan dari dalam yang menyuruhnya untuk 'menyentuh' tubuh yang ada di hadapannya.


Bulatan kecil yang ada di depan lehernya tidak berhenti bergerak naik turun bersamaan dengan dirinya yang mendadak kesulitan menelan ludah.


'****!' rutuknya dalam hati begitu menyadari ada yang terbangun di bawah sana, 'Come on, Gavin! kenapa hanya begini saja 'adikmu' sudah meronta minta dikeluarkan!' sambungnya masih dalam hati.


Terlalu sibuk menahan sesuatu yang cukup mengganggunya, Gavin sampai tidak sadar jika Rinjani sudah berhasil membawanya ke dalam kamar mandi.


"Lanjut lepaskan pakaianmu sendiri dan berendam lah, Gavin. Aku perhatikan hari ini kamu cukup kelelahan,"


"Kalau begitu lepaskan juga pakaianmu, Jani. Atau mau aku yang lepaskan?"

__ADS_1


__ADS_2